web analytics
  

Virtual Tour De Cirebon, Mengulik Sisi Unik Cirebon dari Kacamata Maya

Jumat, 19 Juni 2020 05:54 WIB Erika Lia
Umum - Nasional, Virtual Tour De Cirebon, Mengulik Sisi Unik Cirebon dari Kacamata Maya, Berita Cirebon,Berita Cirebon Hari Ini,batik Cirebon,motif batik Cirebon,Virtual Tour De Cirebon

Batik peranakan Cirebon menjadi salah satu tema pada edisi ketiga Virtual Tour De Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- Alunan musik khas Tionghoa terdengar dari sebuah laptop di atas meja. Pada layarnya, tersaji video pemandangan kain-kain batik aneka warna.

Berikutnya, sejumlah pebatik menarikan canting di atas selembar kain putih dengan sketsa kasar. Sebagian lembaran kain itu tertempel cairan malam berwarna kecoklatan.

Pada sebagian video yang ditampilkan, Indrawati, pemilik Lina's Batik di Jalan Kanoman, Kelurahan Pekalipan, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, menjelaskan proses pembuatan batik peranakan atau batik pecinan khas Cirebon yang dibuatnya.

Ditemani sang anak yang menjalankan bisnis sejenis, Monic Adriani, Indrawati mengungkapkan asal usul batik peranakan yang pernah diulas Ayocirebon.com pada Agustus 2019.

Tak lupa, keduanya pula membeberkan beberapa motif batik peranakan maupun filosofi di baliknya.

Ulasan batik peranakan berakhir. Tak berapa lama, video selanjutnya menayangkan Vihara Dewi Welas Asih di Jalan Kantor, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.

Kali ini, pemerhati budaya Cirebon, Mustaqim Asteja bertindak sebagai penuntun cerita. Tak sekedar kisah vihara yang dikenal sebagai vihara tertua di Jawa Barat itu saja, Mustaqim juga mengungkapkan sisi sosial warga Tionghoa di Cirebon, khususnya yang tinggal di sekitar kampung Pecinan.

Pemaparannya mengiringi penayangan aneka gambar video yang diambil dari berbagai sudut. 

Selama lebih dari 45 menit video batik peranakan hingga Vihara Dewi Welas Asih diulas. Ketika tayangan kedua video berakhir, pada layar tampillah sejumlah rupa orang yang sedari awal mengikuti kisah-kisah itu melalui aplikasi media video Zoom.

Salah seorang di antara mereka, Alfas Muharomi, bertindak sebagai host. Pria itu memandu orang-orang yang mengikuti perjalanan batik peranakan maupun Vihara Dewi Welas Asih.

Sebagai respon, sebagian di antara mereka mengajukan pertanyaan ihwal kedua tema pada kolom chat. Sebagian lainnya mengapresiasi penayangan hari itu.

Batik peranakan dan Vihara Dewi Welas Asih menjadi dua tema yang ditayangkan dalam Virtual Tour (VT) De Cirebon oleh salah satu tour organizer di Cirebon, Jasa Wisata.

Kedua tema itu menjadi VT De Cirebon Edisi Ketiga yang disajikan Jasa Wisata bagi peserta tur virtual kali ini. Sejak diluncurkan sekitar Mei 2020, sedikitnya empat edisi telah disiapkan Jasa Wisata.

Direktur Jasa Wisata, Imas Kurniawati menjelaskan, Virtual Tour De Cirebon merupakan salah satu inovasi terbaru dan menjadi varian produk paket tur yang dikemas khusus kala pandemi Covid-19.

"Selama pandemi, dunia pariwisata seperti mati," cetusnya kepada Ayocirebon.com.

Penyakit menular koronavirus (Covid-19) diakuinya telah memukul parah dunia pariwisata. Penutupan visa pada awal Februari 2020 menjadi mula keterpurukan itu.

Perjalanan wisata ke luar negeri, seperti ke Jepang, Cina, dan Korea, yang menjadi salah satu produk pihaknya selain tur domestik dan umroh, sudah mulai dilarang.

Akibatnya, rencana perjalanan ke luar negeri, termasuk pula Singapura, Malaysia, dan Thailand, yang sedianya akan dilangsungkan Maret harus dibatalkan dan dijadwal ulang.

Kondisi itu, imbuhnya, diperparah dengan penutupan Visa umroh yang berlaku akhir Februari. Harapan pada tur domestik pun bahkan kandas destinasi wisata tanah air ditutup.

"Biasanya, tour organizer mengalami high season pada Maret-April setiap tahun ketika anak-anak sekolah libur. Tapi ternyata, tahun ini destinasi wisata di Jakarta mulai ditutup, kemudian menyebar ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan seluruh Indonesia, kami pun kaget," tuturnya.

Akibatnya, semua paket tur tanah air yang disiapkan pihaknya pun tak bisa dilangsungkan. Di tengah ketidakpastian dan nyaris tanpa pekerjaan, Imas mengaku terpaksa mengambil kebijakan bekerja di rumah bagi karyawannya.

Sebagaimana rerata pelaku usaha pariwisata lainnya, Jasa Wisata pun mengalami penurunan omzet secara drastis. Bahkan, akunya, sejak Maret omzetnya nol.

Melalui sebuah momen berbagi bersama seorang rekannya yang tergabung dalam Himpunan Pemandu Indonesia (HPI) Cirebon, Regina, Imas beroleh ide untuk menghidupkan kembali pariwisata Cirebon di tengah pandemi melalui kemasan berbeda.

Covid-19 yang memaksa setiap orang untuk menjaga jarak demi mencegah penularan virusnya, menjadikan koneksi sosial berlangsung secara maya/virtual.

Kondisi itu pun memunculkan ide kreatif bagi keduanya untuk mengkreasikan pariwisata Cirebon secara maya. Lahirlah Virtual Tour De Cirebon yang memanfaatkan aplikasi Zoom.

"Dengan konsep digital, Virtual Tour De Cirebon ini menyajikan pengalaman dan wawasan baru kepada masyarakat tentang pariwisata Indonesia, yang dapat diikuti cukup dengan di rumah saja sehingga aman dari Covid-19," terang Imas yang juga Sekretaris Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) DPC Wilayah III Jawa Barat ini.

Selain menjamin rasa aman dari penyebaran virus, virtual tour juga dipandangnya lebih praktis dan hemat, baik dari segi biaya maupun waktu.

Untuk mengikuti Virtual Tour De Cirebon, calon pelancong cukup melakukan registrasi dengan mengisi data dan membayar administrasi Rp15.000/orang.

Setelah itu, peserta akan menerima ID Meeting dan pasword Zoom. Jadwal virtual tour sendiri dapat dilihat melalui aplikasi Android Travelling Cirebon bernama Wistakon dan Instagram @dpchpicirebon dan @jasawisatatour.

Secara konsep, Virtual Tour De Cirebon sendiri menampilkan tema kearifan lokal dan kekayaan pariwisata Cirebon lain yang bernilai unik.

Setiap edisi pada Virtual Tour De Cirebon dapat diikuti dua pekan sekali selama sebulan. 

Batik Peranakan dan Vihara Dewi Welas Asih menjadi dua tema yang diangkat pada edisi ketiga yang berlangsung 15 Juni 2020.

Sebelumnya, pada edisi pertama 9 Mei 2020, peserta tur dibawa untuk menguak Baluarti Keraton Kasepuhan sampai ke Lawang Sanga.

Pada edisi kedua 16 Mei 2020, peserta diajak melancong ke tiga masjid tertua di Cirebon.

"Untuk edisi pertama, kami sengaja mengajak peserta melihat baluarti Keraton Kasepuhan. Selama ini, orang yang tur ke Cirebon hanya tahu Keraton Kasepuhan dan tempat yang bisa dikunjungi di sana pun terbatas," papar Imas.

Dia menyebut, dari sekitar 40 bangunan di Keraton Kasepuhan, setidaknya hanya 25% objek yang hanya bisa dikunjungi secara langsung.

Berbeda dengan itu, pada virtual tour, pihaknya mengajak peserta mengungkap semua objek yang ada di lingkungan Keraton Kasepuhan, yang bahkan belum pernah dimasuki orang lain. Salah satu objek yang terhitung langka untuk didatangi langsung dan terungkap dalam virtual tour berupa Lawang Sanga (pintu sembilan).

Pada edisi kedua yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, rerata peserta yang mengikuti virtual tour adalah mereka yang ingin mengetahui sejarah Islam di Cirebon. Menurut Imas, tak banyak yang tahu jika masjid tertua di Cirebon berupa masjid kecil.

"Kami ketika itu mengangkat tiga masjid, yakni Masjid Pejlagrahan, Masjid Merah Panjunan, dan Masjid Pangeran Kejaksan. Kebanyakan orang hanya tahu masjid tertua di Cirebon adalah Masjid Sang Cipta Rasa, tapi ternyata masjid-masjid yang ukurannya lebih kecil inilah yang tertua dan nilai sejarahnya kuat," bebernya. 

Edisi ketiga sendiri, lanjutnya, ditampilkan sebagai respon dari permintaan sebagian besar peserta tur pada edisi sebelumnya. 

Imas mengemukakan, mengingat merupakan edisi awal sehingga terhitung baru dan masa promosi yang minim, tur "Menguak Baluarti Keraton Kasepuhan Sampai Ke Lawang Sanga", hanya diikuti sekitar 15 partisipan.

Pesertanya pun terhitung hanya mereka yang menyukai wisata Cirebon. Lebih dari 70% pelancong Cirebon berasal dari Jakarta.

Namun, pada virtual tour edisi kedua, jumlah partisipan bertambah sekitar tiga kali lipat, dengan profesi dan asal daerah yang beragam. Bukan hanya dari berbagai daerah di Indonesia, ada pula di antaranya yang berasal dari luar negeri, salah satunya Kanada.

"Mayoritas dari kota besar yang melek teknologi dan anak-anak muda, seperti Jakarta, Bandung, Lampung, Palembang, bahkan pengisi konten local food Indonesia yang berdomisili di Kanada," tuturnya.

Pada edisi kedua itulah, tur maya ini mulai menampakkan hasil memuaskan. Bukan sekedar dari jumlah dan ragam partisipan, hasil memuaskan dibuktikan pula dari banyaknya respon peserta.

Selain mengapresiasi, tak sedikit orang meminta tema-tema tertentu untuk dikupas dalam Virtual Tour De Cirebon berikutnya.

Imas meyakini, kondisi positif ini akan stabil dan bahkan optimistis bertambah naik bila mengamati respon para partisipan.

Cukup dengan merogoh kocek Rp15.000/orang, para peserta menilai tur yang mereka ikuti sepadan. Bukan sekedar tur, wawasan mereka ihwal Cirebon pun bertambah.

Pihaknya sendiri mengupayakan memberikan product knowledge yang terbaik, salah satunya pemandu memberikan wawasan lengkap pada setiap tema yang diangkat.

Mengadopsi tur langsung, pemandu pada virtual tour membangun suasana yang interaktif, salah satunya membuka kesempatan bertanya dan berkomentar pada kolom chat yang tersedia di aplikasi Zoom. Panduan dari pemandu pun tak berlangsung satu arah. 

"Respon peserta di luar ekspektasi kami, bahkan pihak lain positif," cetusnya.

Pada edisi keempat yang dijadwalkan 27 Juni 2020, pihaknya akan menayangkan sejarah hingga eksistensi Empal Gentong sebagai salah satu kuliner khas Cirebon yang populer.

"Kami mencoba tampilkan wisata digital yang santai, tapi tetap mengedukasi pesertanya," ujar perempuan berhijab ini.

Target itu pun tak meleset. Melalui virtual tour, Imas menyebut, jangkauan tur yang digelarnya luar biasa, menembus batas negara, usia, dan profesi.

Belakangan, pihaknya mengamati, tema-tema yang ditampilkan mengundang atensi kelompok tertentu. Pada edisi yang mengetengahkan tiga masjid tua di Cirebon misalnya, budayawan, sejarawan, maupun arsitek menaruh minat tinggi.

Apresiasi dan respon partisipan yang positif seolah membayar kerumitan di balik kelahiran konsep pada setiap edisi. Proses melahirkan konsep tak semudah proses pembuatannya secara teknis.

Pihaknya mencoba menampilkan tema-tema yang unik, namun diterima masyarakat luas. Setelah diperoleh konsep yang dikehendaki, dimulailah tugas peliputan oleh timnya.

"Secara umum, teknis IT tidak sulit. Kami cuma perlu liputan langsung dan mengharmonisasi hasil peliputan dengan penjelasan oleh pemandu. Yang susah adalah mengungkap sesuatu yang tak terungkap," jelasnya.

Di sisi lain, dia mengakui, secara angka profit virtual tour jauh di bawah dibanding tur harian yang berlangsung sebelum pandemi. Namun, dia mengklaim, virtual tour tak menarget keuntungan.

Selaku pelaku usaha, instingnya menyebut virtual tour sebagai karya yang layak dilahirkan. Tanpa inovasi, pariwisata akan mati di tengah pandemi.

"Sebagai pelaku usaha kami ingin tetap berkarya. Enggak enak ketika kami biasa bawa wisatawan harian, sekarang enggak ada apa-apa, makanya kami berinovasi," ungkapnya.

Dia meyakinkan, Virtual Tour De Cirebon bukan hanya mempromosikan dan mengembangkan wisata Cirebon, melainkan pula mengungkap dan membuka wawasan orang lain mengenai Cirebon melalui hal-hal unik yang berhasil timnya ulik.

Tak hanya mengulik destinasi wisata yang sudah ada, objek wisata baru yang punya potensi juga mereka angkat ke hadapan publik. Harapannya tak lain menciptakan destinasi wisata baru dan kebiasaan pola wisata baru di Cirebon.

Pihaknya menilai, dengan begitu pariwisata Cirebon akan kembali naik seusai pandemi.

Selama proses ini pula, pihaknya mempelajari kemajuan dunia pariwisata Cirebon tak lepas dari kerjasama semua pelaku di baliknya. 

Imas meyakinkan, pemerintah daerah, khususnya Kota Cirebon mendukung penuh kegiatan yang mereka lakukan. Selama ini, pihaknya kerap berkoordinasi dengan Pemda.

Bahkan, Virtual Tour De Cirebon termasuk salah satu program wisata saat pandemi. Kegiatan ini menjadi salah satu produk unggulan Pemkot Cirebon yang ditawarkan melalui aplikasi Wistakon milik otoritas daerah setempat.

"Kami sering minta saran supaya program ini sejalan dengan program pariwisata Kota Cirebon. Hanya, pembiayaan produksi virtual tour ini murni swadaya Jasa Wisata dan DPC HPI Cirebon, tanpa suntikan dana dari manapun," bebernya sembari menambahkan rasa syukur.

Melihat perkembangan yang positif sejauh ini, pihaknya mulai memproyeksikan tema-tema pada virtual tour untuk diangkat menjadi tur nyata kelak. Saat pandemi berakhir, bukan tidak mungkin partisipan pada virtual tour akan merasakan langsung pengalaman berwisata menyusuri tempat-tempat yang telah mereka saksikan secara digital.

Proyeksi itu tergurat seiring keinginan para partisipan. Pihaknya berharap, virtual tour menjadi akar berkembangnya destinasi wisata hingga mendatangkan tamu dan produk varian wisata yang lebih banyak.

"Ketika Covid-19 berakhir, kami enggak mau virtual tour pun berakhir begitu saja. Kami enggak mau virtual tour hanya sekedar pengisi kekosongan saat pandemi. Virtual tour akan terus berlanjut karena orang yang jauh dari jangkauan di Cirebon tetap butuh informasi mengenai daerah ini," tutupnya.

Editor: Rizma Riyandi
dewanpers