web analytics
  

Dari Bandung untuk Dunia, Cerita Kejayaan Pabrik Kina Kimia Farma

Selasa, 16 Juni 2020 16:31 WIB Nur Khansa Ranawati

Pabrik Kina di Jalan Pajajaran Kota Bandung. (Dok. Ayobandung.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Bila melewati simpang empat yang menghubungkan Jalan Pajajaran, Jalan Cihampelas, dan Jalan Cicendo, Kota Bandung, orang akan melihat sebuah bangunan tua dengan dominasi cat abu di sudut jalan. Di atas atapnya terdapat cerobong asap berwarna putih-oranye bertuliskan "Pabrik Kina".

Meski sekilas tak tampak ada aktivitas di dalamnya, gedung tersebut hingga saat ini masih digunakan. Dibangun pada 1869, ada 3 bangunan utama yang terdapat dalam gedung ini, dan dihubungkan lewat terowongan bawah tanah.

Berdasarkan penuturan Her Suganda dalam bukunya Kisah Para Preanger Planters (2014), pabrik tersebut pada mulanya bernama Bandoengsche Kinine Fabriek NV. Pabrik ini berdiri di bekas lahan perkebunan karet, berdasarkan akta notaris BV Houthuisen No.12 29 Juni 1896.

Keberadaannya menjadi sangat penting mengingat dunia kala itu tengah membutuhkan banyak asupan obat kina akibat penyakit Malaria yang mewabah.

Pada pertengahan abad ke-19, Malaria banyak menelan korban jiwa di Batavia, termasuk para orang Eropa. Kala itu Batavia bahkan dijuluki Het Graf van Het Oosten atau "Kuburan di Negeri Timur".

Para peneliti kemudian menghasilkan temuan bahwa kandungan yang terdapat dalam pohon kina dapat menjadi obat ampuh Malaria. Bagian yang diambil yaitu kulit pohonnya.

Kina lalu diminta untuk dibudidayakan di Pulau Jawa oleh Menteri Jajahan Seberang Lautan Belanda, Ch.F.Pahud. Pada 1851, dia memerintahkan penelti dan ahli botani, Franz Wilhelm Junghuhn untuk mengembangkan tanaman kina di bilangan Malabar, Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Sebelumnya, tanaman kina telah berhasil dibawa oleh  peneliti lainnya, yakni Justus Karl Hasskarl dari Peru ke Hindia Belanda. Karl memperbanyak kina di Cibodas, Cianjur, namun dia akhirnya mengundurkan diri. Junghuhn naik menggantikan posisinya.

Junghuhn sendiri adalah ahli botani dan seorang dokter militer yang pernah tinggal di beberapa daerah di Indonesia. Dia kemudian merintis perkebunan kina di Lembang, namun terjadi polemik terkait budidaya dan kualitas kina yang dia hasilkan.

Akhirnya pada 1865, pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membeli benih kina dari Bolivia. Benih ini dinamai Cinchona Ledgeriana Moens, dan berhasil berkembang dengan baik.

Seiring meningkatnya permintaan terhadap kina, pemerintah Hindia Belanda membangun pabrik kina pada 1896. Pada 1910-1915, area pabrik bahkan sempat diperluas.

Pada 1941, pabrik kina ini disebut mampu menghasilkan hingga 140 ton quinine atau serbuk kina yang setara dengan kebutuhan pasokan kina seluruh dunia saat itu. Kapasitas produksi dari Pabrik Kina Bandung merupakan yang terbesar di dunia.

Hal ini membuat Hindia Belanda menjadi pemasok terbesar kina dunia hingga memasuki Perang Dunia. Selama dikuasai Belanda, sebanyak 90% kebutuhan kina dunia dihasilkan di pabrik ini.

Namun, di masa pendudukan Jepang, pabrik ini diambil alih oleh Angkatan Darat Jepang. Namanya lantas berubah menjadi Rikuyun Kinine Seizohyo. Produk kina yang dihasilkan dipasok untuk Jepang dan tempat-tempat lain selama Perang Pasifik berlangsung.

Ketika Jepang kalah, pabrik ini kembali dikuasai Belanda dengan nama awal yang kembali disematkan. Pemerintah Indonesia kemudian melakukan nasionalisasi perusahaan ini pada 1958, beberapa tahun setelah kemerdekaan diraih.

Nama pabrik kemudian diganti menjadi Perusahaan Negara Farmasi dan Alat Kesehatan Bhinneka Kina Farma berdasarkan SP Menkes tertanggal 18 Juli 1960. Kemudian, pada 1971, nama tersebut kembali diubah menjadi PT Kimia Farma berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1971.

Penanda Waktu

Keberadaan pabrik yang telah hadir lebih dari satu abad di tengah masyarakat ini membuatnya memiliki peran tersendiri di samping menghasilkan produk kina. Yakni, menjadi penanda waktu bagi warga setempat yang kala itu tidak banyak memiliki jam tangan.

Setiap hari, pabrik ini mengeluarkan 4 kali sirine. Sirine pertama dibunyikan pukul 6.30, menandakan waktu karyawan masuk. Sirine kedua dan ketiga dibunyikan pada pukul 11.00 dan 11.30, menandakan waktu dimulai dan berakhirnya waktu istirahat karyawan.

Sirine terakhir muncul pada pukul 15.00 seiring dengan berakhirnya pekerjaan para karyawan. Bunyi-bunyi sirine yang terdengar serupa lokomotif uap kereta api tersebut dijadikan patokan dan penanda waktu bagi para warga.

Bunyi sirine kala itu dihasilkan dari ketel uap bermerk Babcock & Wilcox yang dioperasikan secara manual. Namun, ketel bikinan abad ke-19 ini dinilai menciptakan polusi karena boros bahan bakar. Pada 1995, peralatan sirine diganti dengan perangkat yang lebih canggih. 

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers