web analytics
  

Film Souping, Seni Eksperimen Fotografi

Senin, 15 Juni 2020 09:15 WIB Netizen Zefanya Aprilia
Netizen, Film Souping, Seni Eksperimen Fotografi, Gabrielle Pio,seni fotografi,monumen 45 solo,Hipercat Lab Bandung,Indigo Film Lab Bandung

Hasil foto yang terendam di air hujan. (Sumber: Gabrielle Pio)

Zefanya Aprilia

Mahasiswi Jurnalistik Universitas Padjadjaran

AYOBANDUNG.COM--Gabrielle Pio tidak sadar rol filmnya terendam air hujan selama sekitar tiga jam di dalam tas selempangnya.

Karena tidak ingin rugi, dia tetap mencuci (develop) rol film tersebut. Ternyata proses cucian rol film tersebut hanya membuahkan dua foto. Yang pertama berupa foto Monumen 45, Solo yang dipenuhi bercak-bercak dengan tone warna cokelat kegelapan. Yang kedua berupa foto abstrak yang dipenuhi pola bercak hitam.

Menurut Gabrielle, foto hasil “insiden” itu seperti menggunakan filter sepia, yang umumnya ditemukan pada photo editor. Tanpa disengaja, Gabrielle telah melakukan proses film soup yang merupakan bagian dari lomography dan experimental photography.

Selain sepia, sebenarnya banyak filter atau efek foto lain seperti efek moody, trippy, dreamy, dan flashy yang berasal dari proses eksperimen manual pada fotografi. Istilah film soup dipopulerkan oleh lomography.com yang berarti proses merendam rol film dengan "soup" baik sebelum atau sesudah digunakan untuk memotret, guna memunculkan tone dan reaksi dari negative film yang unik.

Eksperimen untuk Eksplorasi

Proses ini merupakan bagian dari eksperimen fotografi yang sudah dilakukan sejak tahun 1960an, dan yang paling menonjol dilakukan di Jepang. Fotografer ternama Daido Moriyama misalnya, yang pernah merebus rol filmnya sesudah digunakan untuk memotret kondisi kota Jepang pasca perang dunia kedua. Berkat eksperimennya, setelah dicuci, muncul bercak-bercak yang mirip retakan pada hasil foto-fotonya.

“Dulu sebelum ada digital, proses-proses eksperimen seperti ini sering digunakan, untuk menciptakan hasil yang mereka inginkan,” kata fotografer analog professional Fajar Hidayat.

Ia menjelaskan, film soup yang termasuk dalam eksperimen fotografi adalah bentuk eksplorasi terhadap karya. Fotografer sekaligus pendiri dan pemilik Hipercat Lab Bandung itu berkata, para fotografer sebelum era digital harus menciptakan cara sendiri untuk menghasilkan karya yang mereka inginkan.

Seperti perkataan Fajar, ide kreatif dan imaginatif fotografer lah yang menentukan perendaman dilakukan sebelum atau sesudah rol film digunakan. Hal yang sama juga berlaku pada ramuan soup yang hendak dipakai.

Fotografer analog asal Indramayu, Yoga Liberiawan misalnya, pernah menggunakan air lemon, air larutan lemon dan garam, serta campuran air jeruk dan air panas berdasarkan idenya sendiri.

"Nyoba pertama kali dari buku lomo. Ada bab soal “Lab Rats”. Lab Rats tuh istilah dari lomography, intinya sih pakai cara-cara yang di luar nalar. Lebih ke ngerusak sih," kata Yoga sambil tertawa kecil.

Perihal merusak, film soup memang merupakan eksperimen yang tujuannya "merusak" negatif rol film agar menimbulkan reaksi yang unik. Itulah mengapa Gabrielle hanya berhasil memperoleh dua foto yang dari rol film yang berisi 36 frame.

Proses Ngeri-ngeri Sedap

Pelaksanaan film soup jika tidak dicermati ramuan “soup”-nya serta teknik pengeringannya, dapat berisiko merusak rol film secara total.

Fotografer analog asal Jakarta, Ibrahim Hasan Rahmandhani mengaku sudah berhenti melakukan film soup sejak tahun 2012. Dulu ia pernah tergabung dalam forum diskusi Komunitas Klastic di Kaskus yang sering berdiskusi tentang kamera plastik, lomography, dan juga film soup.

Dengan saran-saran teknis yang ia dapatkan dari diskusi dengan komunitas tersebut, Ibrahim pernah bereksperimen dengan air jeruk, soda, kuah soto, dan air seni.

Hasil eksperimennya yang paling membanggakan adalah dengan menggunakan air jeruk, sedangkan yang lainnya kebanyakan gagal.

“Hasil sih relatif ya, tapi mendingan ga usah di-soup. Nanti ada yang blank, padahal momen saat penjepretan foto sudah bagus. Jadi jangan berekspetasi tinggi,” kata Ibrahim.

Kini, Komunitas Klastic sudah lama tidak aktif. Ibrahim berkata bahwa dia tidak tahu apakah masih ada anggota komunitas tersebut yang masih melakukan film soup.

Di lab foto pun, pelanggan yang melakukan film soup memang masih ada tetapi sedikit. Hal itu diungkapkan oleh Ahong, pemilik dari Indigo Film Lab Bandung.

Ketika ada pelanggan yang melakukan film soup, Ahong merasa terganggu karena proses developing rol film soup harus dipisah, agar tidak merusak rol film yang lainnya.

"Gua sih terganggu dengan film yang di-soup, karena bisa mengkontaminasi rol film yang lain. Pengeringan bisa aja sudah dilakukan tapi bisa saja film tidak kering sempurna atau emulsi film yang rusak bisa mempengaruhi film lain, belum lagi hasilnya belum tentu sesuai dengan harapan. Ngeri-ngeri sedap sih," ujar Ahong. Meskipun begitu, Ia mengakui bahwa hasil-hasil film soup memang unik.

Makna dan Nilai Estetika

Fajar berpendapat, hasil film soup adalah kejutan, yang kadang kala tidak sesuai dengan ekspetasi. Ketika ditunjukan hasil foto Gabrielle dan Yoga, ia menilai hasil film soup Gabrielle lebih cocok pada jepretannya, ketimbang hasil film soup Yoga pada jepretannya.

Pemerhati foto dari komunitas Red Raws Center, Baskara Puraga mengatakan fotografi adalah media komunikasi yang berfungsi menyampaikan pesan kepada penikmatnya. Maka, nilai estetika dari film soup terkandung pada tujuan proses tersebut. Nilai estetika juga bergantung pada pemahaman penikmat pada foto itu.

"Jadi, worth it atau tidaknya hasil film soup ini bergantung pada makna yang tersampaikan. Walaupun prosesnya rumit, dan sangat berisiko, tetapi kalau maknanya berhasil disampaikan, maka worth it saja," jelas Puraga.

Ternyata dibalik efek dan filter yang dapat dengan mudah kita pakai pada foto, ada proses eksperimen rumit yang dilakukan secara manual. Selain itu, eksperimen memungkinkan sang fotografer untuk menciptakan karya yang mutlak.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com
dewanpers