web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Jejak A Hassan, Sang Raja Debat Perintis Pesantren Persis di Kota Bandung

Minggu, 14 Juni 2020 05:10 WIB Nur Khansa Ranawati

Ahmad Hassan (Istimewa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Sejarah Persatuan Islam (Persis) yang didirikan di Bandung pada September 1923 tidak dapat dipisahkan dari sosok Ahmad Hassan atau A. Hassan. Ia merupakan seorang keturunan India yang lahir dan besar di Singapura, dan menghabiskan separuh masa hidupnya untuk melakukan syiar Islam di Indonesia, termasuk di Kota Bandung.

Berdasarkan penuturan sejarawan Islam dan pegiat Persis, Tiar Anwar Bachtiar, selama di Singapura A. Hassan sempat berkiprah sebagai redaktur majalah Utusan Melayu, yang kemudian menempanya untuk bertemu banyak tokoh-tokoh dan pemikir muslim. Sebelumnya, A.Hassan menempuh pendidikan Islam bermazhab Syafii di salah satu madrasah tertua di Singapura, yakni Aljunied Al-Islamiah.

Karirnya di majalah Utusan Melayu membawanya banyak menelan berbagai perdebatan dan diskusi di bidang keislaman dari kaum muda yang kerap disebut kaum pembaharu. Ditambah latar belakang pendidikan Islam yang mumpuni, Tiar menyebut A.Hassan kala itu telah berkembang menjadi sosok yang matang dan memiliki prinsip tersendiri dalam pandangan keislaman.

Hal tersebut kemudian menjadi bekal A.Hassan untuk melanjutkan fase hidup selanjutnya sebagai tokoh syiar Islam di Indonesia dengan metode yang unik : berdebat.

Tiar menuturkan, A.Hassan datang ke Kota Bandung di usianya yang menginjak kepala empat. Awalnya, ia datang untuk merintis bisnis tekstil yang kala itu tengah berkembang di Kota Bandung.

Namun, perkenalannya dengan Persis pimpinan H. Muhammad Yunus dan H. Zamzam yang telah berdiri sekitar 1 tahun di Kota Bandung membuatnya mulai berpikir ulang soal prioritasnya. Pasalnya, bentuk Persis yang berupa pengajian dengan ruang diskusi membuat A.Hassan merasa tertarik untuk berkecimpung lebih jauh.

"Ternyata beliau merasa cocok dengan grup pengajian ini yang sifatnya terbuka dan menyukai diskusi, sehingga dia bisa menyampaikan pandangan-pandangannya dengan leluasa. Awalnya hanya jadi pendengar dan lama-lama mulai jadi narasumber," ungkap Tiar dalam diskusi daring "Menelusuri Jejak Ahmad Hassan di Bandung", Jumat (12/6/2020) malam.

Tiar mengatakan, dengan memiliki modal pengetahuan Islam mumpuni dan kemampuannya menyusun argumen, dengan cepat A.Hassan menjadi pusat perhatian dan kerap menjadi narasumber di berbagai diskusi. Dia dikenal kerap mendebat pihak yang memiliki sudut pandang lain, tak terkecuali umat Nasrani hingga ateis.

"Dakwah dengan debat ini menjadikan A.Hassan unik dan memiliki magnet tersendiri sehingga ia terkenal. Debat tidak pernah dibawa perasaan, di luar debat dia dikenal sebagai orang yang ramah dan suka menolong, termasuk pada rekan debatnya," ungkap Tiar.

Bahkan, Tiar menyebut bahwa A.Hassan pernah mendebat Ahmadiyah selama 3 hari di Jakarta. Isi perdebatannya diliput oleh media massa kala itu.

Menginisiasi Majalah

Pengalamannya berkecimpung di dunia media di Singapura juga membuatnya menginisiasi kultur baru di Persis, yakni mempublikasikan hasil diskusi menjadi tulisan di majalah. Bersama A.Hassan, Persis menerbitkan hingga 3 majalah yang isinya berfokus pada kajian Islam, yakni Pembela Islam, Al-Lisan dan At-Taqwa.

"Dulu majalah adalah salah satu sumber informasi utama, dan mayoritas yang ada saat ini membahas berita umum atau politik. Majalah ini punya corak yang unik, seperti Al-Lisan yang isinya ada kajian fiqih, tafsir hadist dan sebagainya," ungkap Tiar.

Pada tahun 1930-an, majalah-majalah tersebut menjadi populer di kalangan masyarakat terutama yang hendak mempelajari Islam karena isinya dibuat lebih mudah dicerna. Pengetahuan soal Islam yang kala itu didominasi para kyai dan para santri yang memahami kitab kuning menjadikan akses terhadap kajian Islam seolah terbatas.

"A.Hassan memudahkan semua itu dengan menuliskan isi majalah dengan bahasa Indonesia atau Melayu, menuliskan tafsir Al-Quran sehingga lebih mudah dipahami banyak kalangan,"ungkapnya.

Pelopor Pesantren Khalafi

Pada 1936, A.Hassan mempelopori berdirinya Pesantren Persis di Kota Bandung, melengkapi yang telah terselenggara sebelumnya yakni Pendidikan Islam (Pendis) hasil prakarsa M.Natsir. Berbeda dengan kebanyakan pesantren salafi, M.Natsir membangun pesantren dengan sistem khalafi yang cenderung lebih modern.

"Dia merancang kurikulum dan kelas-kelas yang terstruktur dalam lembaga pendidikan Pesantren Persis. Dia merupakan pelopor karena di Bandung belum ada pondok pesantren yang seperti itu. Ini kemudian menjadi monumental," ungkap Tiar.

Dari sana, Persis semakin berkembang dengan sejumlah muridnya yang dikenal seperti Muhammad Isa Anshary hingga anaknya, Abdul Qadir Hassan. Mereka mengembangkan hampir semua hal yang dirintis A.Hassan, kecuali tradisi debat.

Selama berkiprah di Kota Bandung, A.Hassan juga banyak dikenal dengan panggilan "Hassan Bandung" atau "Ahmad Bandung". Panggilan tersebut kemudian berubah menjadi "Hassan Bangil" seiring kepergiannya ke Bangil, Jawa Timur pada 1939.

"Di Bangil, A.Hassan mulai banyak menerbitkan buku-buku. Setidaknya ada 150 judul yang sudah ia tulis," ungkapnya. 

Editor: Rizma Riyandi

artikel lainnya

dewanpers