web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Uang Kuota Tidak Berguna Bagi Mahasiswa UIN

Kamis, 11 Juni 2020 18:41 WIB Mildan Abdalloh

Sejumlah Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung Menolak Kebijakan Kampus Tentang Uang Kuliah Tunggal (UKT) Pada Semester Ganjil 2020-2021 Yang Harus Dibayarkan Secara Penuh. (Istimewa)

CIBIRU, AYOBANDUNG.COM -- Hastag #GunungDjatiMenggugat menjadi trending topik di twitter. Tanda pagar tersebut dipicu oleh keluarnya SK Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung tentang kalender akademik 2020/2021 tertanggal 8 Juni.

Pemisahan pembayaran UKT (SPP) bagi mahasiswa angkatan 2017 menjadi permasalahan bagi mahasiswa yang akan melaksanakan KKN tersebut.

"Angkatan 2017 harus bayar UKT lebih awal dibanding angkatan lain. Memang hanya beda beberapa pekan, tapi saat situasi sulit seperti sekarang, waktu beberapa pekan sangat berarti untuk mengumpulkan uang," tutur Susanto, salah seorang mahasiswa UIN angkatan 2017 kepada Ayobandung, Kamis (11/6/2020).

Dalam SK tersebut dikatakan mahasiswa angkatan 2017 harus membayar UKT paling lambat 26 Juni, sementara mahasiswa lain diberi jadwal 8-17 Juli.

Juli merupakan kebiasaan pembayaran UKT, sehingga waktu yang diberikan lebih awal tersebut menjadi permasalahan.

"Kalaupun alasannya karena akan KKN, itu tidak masuk akal. Soalnya, tahun ini KKN dilaksanakan di daerah masing-masing, tidak seperti biasanya yang dilakukan di daerah tertentu. Jadi pada prinsipnya, mau angkatan berapapun tetap tidak bisa datang ke Kampus," ujarnya.

Disampin itu, kata Susanto, mahasiswa berharap ada kebijakan kampus untuk meringankan biaya UKT. Bukan hanya kondisi ekonomi sedang sulit, tetapi juga selama kuliah daring, mahasiswa harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli kuota internet.

"Dari kampus memang diberi jatah kuota internet masing-masing Rp100.000, tapi itu nyaris tidak berguna," katanya.

Dia menjelaskan, kuota internet yang diberikan pihak UIN Sunan Gunung Djati Bandung hanya untuk tiga provider, sementara sejumlah provider lain kuota internet tidak tersedia.

"Kuotanya juga hanya bisa digunakan untuk meeting jarak jauh atau hal lainnya seperti membuka aplikasi, tidak bisa digunakan chating atau browshing internet," katanya.

Sementara selama pemberlakuan kuliah daring, dosen nyaris tidak pernah melakukan kuliah secara daring baik menggunakan zoom meetinh atau fasilitas kuliah jarak jauh lainnya.

"Ada memang yang kuotanya kepakai untuk kuliah virtual, tapi tidak banyak. Kelas saya saja, selama kuliah jarak jauh tidak pernah zoom meeting. Dosen hanya memberi tugas untuk dikerjakan, tidak pernah mengajar," ungkapnya.

Sementara tugas yang diberikan harus diserahkan kepada dosen melalui email atau aplikasi perpesanan, referensi untuk tugas dicari dari internet menggunakan kuota sendiri.

"Rencananya memang mau boikot bayar UKT. Tapi lihat saja nanti," tutupnya.

Editor: Dadi Haryadi
dewanpers