web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Fakta di Balik #GunungDjatiMenggugat, Mahasiswa Ramai-ramai WA Rektor

Kamis, 11 Juni 2020 15:27 WIB Mildan Abdalloh

Unggahan Instagram akun gunungdjatimenggugat di Instagram terkait kebijakan kampus soal pembayaran UKT. (gunungdjatimenggugat/instagram)

CIBIRU, AYOBANDUNG.COM – Tagar #GunungDjatiMenggugat mendadak trending di Twitter. Tagar tersebut sebagai perlawanan mahasiswa terhadap kebijakan kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Gerakan tersebut bermula dari keluarnya SK Rektor tentang kalender akademik 2020/2021 tertanggal 8 Juni yang memicu reaksi mahasiswa angkatan 2017.

"Di dalam SK terdapat jadwal pembayaran UKT (SPP) bagi mahasiswa angkatan 2017," ujar Susanto, salah seorang Mahasiswa UIN Bandung kepada Ayobandung, Kamis (11/6/2020).

Mahasiswa angkatan 2017 akan melangsungkan KKN daring. Pihak UIN memberi jadwal pembayaran UKT lebih awal yakni 22-26 Juni. Sementara itu, mahasiswa lainnya baru diberi jadwal membayar uang semester pada 8-17 Juli.

"Pertanyaannya, kenapa mahasiswa angkatan 17 harus bayar lebih awal? Kaget saja, suratnya baru keluar kemarin," ujarnya.

Waktu yang diberikan untuk membayar UKT bagi mahasiswa angkatan 2017 dinilai terlalu mendadak, terlebih dalam situasi pandemi.

"Memang sudah mendekati waktu bayar UKT, tapi sangat mendadak. Itu juga hanya bagi mahasiswa angkatan 2017, sementara yang lain punya waktu banyak untuk mengumpulkan biaya kuliah," ujarnya.

Dari kejadian tersebut, banyak mahasiswa angkatan 2017 yang melakukan gerakan perlawanan, salah satunya membuat Tagar #GunungDjatiMenggugat di Twitter.

"Uang UKT yang harus dibayarkan tetap normal, padahal saat awal pandemi Covid-19 sempat ada informasi akan dipotong 10%, tapi kemudian tetap normal. Situasi ekonomi orang tua sedang tidak bagus, jelas memberatkan," katanya.

Sejak muncul SK kalender akademik UIN Sunan Gunung Djati Bandung, muncul juga broadcast agar mahasiswa menuntut transparansi pihak kampus. Salah satunya mengenai uang untuk KKN sebesar Rp750.000/mahasiswa.

Bahkan mahasiswa mewacanakan memboikot membayar UKT sebagai bentuk perlawanan.

Selain itu, mahasiswa beramai-ramai mengirim pesan melalui aplikasi perpesanan WhastApp kepada Rektor UIN Bandung Prof Mahmud.

"Nomor rektor dibagi-bagikan di grup-grup WA. Katanya itu dari mahasiswa lain yang terus di-forward ke WAG. Jadinya ramai-ramai di-WA rektornya. Tidak ada yang dibalas, hanya dibaca oleh rektor," tuturnya.

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers