web analytics
  

Gereja Katedral Santo Petrus, Saksi Bisu Sejarah Keuskupan di Bandung

Kamis, 11 Juni 2020 13:57 WIB Fira Nursyabani

Gereja Katedral Santo Petrus (Ayobandung.com/Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Sebagai gereja tertua di Kota Bandung, Gereja Katedral Santo Petrus tak hanya sekadar bangunan bersejarah.

Gereja yang berlokasi di Jalan Merdeka ini juga merupakan saksi bisu perjalanan panjang perkembangan umat katolik (Keuskupan) di Bandung.

Dilansir dari situs Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat (Jabar), pada 1878, Bandung yang telah menjadi ibu kota Karesidenan Priangan, belum memiliki rumah ibadah untuk umat katolik.

Pastor kemudian didatangkan dari Cirebon yang berada di bawah Vikariat Apostolik Batavia. Hal itu dipermudah dengan dibukanya jalur kereta api Batavia-Bandung pada 1884.

Setelah ada pastor, gedung gereja pun dibangun di Schoolweg (kini Jalan Merdeka). Awalnya gereja ini hanya berukuran 8x21 meter persegi, yang berdekatan dengan gudang kopi milik Pemerintah Kolonial Belanda.

Gereja tersebut diberi nama St. Franciscus Regis dan diberkati oleh Mgr. W. Staal pada 16 Juni 1895.

Pada 1 April 1906, Bandung memperoleh status Gemeente atau setingkat kotamadya sehingga berhak menyelenggarakan pengelolaan kota sendiri.

Kota Bandung pun mulai berbenah dengan mengembangkan permukiman kota untuk warga Belanda dan membangun kawasan pusat pemerintahan kotamadya (civic center) berupa Gedung Balai Kota dan sebuah taman (Pieterspark) di lokasi bekas gudang kopi.

Melengkapi civic centre, Kota Bandung juga mulai membangun sejumlah bangunan di dekat balai kota seperti sekolah, bank, kantor polisi, dan gereja Katolik/Protestan.

Pada 13 Februari 1907, pemerintah mengeluarkan keputusan untuk memisahkan Priangan, termasuk Kota Bandung, secara administratif dari Distrik Cirebon.

Kota Bandung ditentukan sebagai sebuah stasi baru di Jawa Barat yang dipimpin Pastor J. Timmers dari Cirebon yang sudah 4 tahun menetap di Bandung.

Dalam 4 tahun operasional gereja St. Franciscus Regis, ternyata jumlah jemaat semakin bertambah hingga mencapai 280 orang. Saat itu, jumlah umat katolik di Bandung telah mencapai 1.800 orang.

Gereja St. Franciscus Regis akhirnya diperluas karena tidak cukup lagi menampung jemaat. Dipilihkan sebuah lahan bekas peternakan di sebelah Timur Gereja St. Franciscus Regis, di Merpikaweg (kini Jalan Merdeka), sebagai lokasi gereja baru.

Menurut situs resmi Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, gereja baru ini didesain oleh arsitek terkenal C.P. Wolff Schoemaker, yang berkebangsaan Belanda.

Pembangunan gedung gereja dilakukan di sepanjang 1921. Setelah selesai, gereja yang baru itu diberkati oleh Mgr. Luypen pada 19 Februari 1922, dan dinamai Santo Petrus, yang merupakan nama dari Pastor P.J.W. Muller, SJ.

Pada hari itu juga, Mgr. Luypen meresmikan dan memberkati Pastoran Santo Petrus, yang saat itu termasuk Vikariat Batavia.

Gereja dan pastoran yang lama, Gereja St. Franciscus Regis, kemudian dijadikan gedung Perkumpulan Sosial Katolik pada 1995. Saat ini, gedung tersebut juga menjadi bagian dari bangunan Bank Indonesia.

Dua tahun kemudian, sebuah gedung sekolah Katolik untuk putra diresmikan dengan nama St. Berchmans di Javastraat (sekarang Jalan Jawa), tepat di sebelah Timur Gereja Santo Petrus. Sekarang bangunan sekolah itu digunakan oleh SD St. Yusup II.

Beberapa tahun kemudian rel kereta api dibangun tepat di sebelah selatan kompleks gereja ini. 

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel lainnya

dewanpers