web analytics
  

RJ-80 Sengsara di Negeri Makmur

Kamis, 11 Juni 2020 09:42 WIB
Netizen, RJ-80 Sengsara di Negeri Makmur, RJ-80,BJ Habibie,Bisnis Pembuatan Pesawat

Ilustrasi RJ-80 (Gerhard Gellinger/Pixabay)

AYOBANDUNG.COM -- Ada sembilan proyek dan satu program yang dikeluarkan dari skema Proyek Strategis Nasional (PSN) 2020–2024 karena penyelesaiannya diperkirakan melampaui masa pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, tahun 2024. Satu di antaranya adalah program pembuat Regional Jet–80 penumpang (RJ-80) yang digagas mantan Presiden BJ Habibie.

Menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto pada awal Juni lalu, kesembilan proyek dan satu program ini baru mencapai tahap persiapan 12 persen. Padahal 88 persen proyek PSN lainnya pada 31 Desember 2020 telah melewati tahap persiapan. Termasuk di dalamnya program ketenagalistrikan 35.000 MW dan Program Kebijakan Pemerataan Ekonomi.

PSN dicanangkan setelah Presiden Joko Widodo pada 8 Januari 2016 menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.

Proyek Strategis Nasional adalah proyek yang dilaksanakan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau badan usaha yang memiliki sifat strategis untuk peningkatan pertumbuhan dan pemerataan pembangunan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah. Proyek-proyek yang masuk dalam proyek strategis nasional itu antara lain, proyek pembangunan infrastruktur pembangunan kilang minyak; proyek pipa gas atau terminal LPG; proyek energi asal sampah; proyek penyediaan infrastruktur air minum; proyek penyediaan sistem air limbah komunal; pembangunan tanggul penahan banjir; proyek pembangunan pos lintas batas negara (PLBN) dan sarana penunjang; proyek bendungan; program peningkatan jangkauan broadband; proyek infrastruktur IPTEK strategis lainnya; pembangunan kawasan industri prioritas atau kawasan ekonomi khusus; proyek pariwisata; proyek pembangunan smelter; dan proyek pertanian dan kelautan.

Untuk mendukung Perpres itu, Presiden menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional, yang ditujukan kepada para pejabat di tingkat pusat dan daerah agar mendukung pelaksanaan PSN. Misalnya, mengambil diskresi dalam rangka mengatasi persoalan yang konkret dan mendesak; menyempurnakan, mencabut, dan/atau mengganti, ketentuan peraturan perundang-undangan yang tidak mendukung atau menghambat percepatan pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.

Pada mulanya, program Regional Jet-80 (RJ-80) dimasukkan ke dalam PSN dengan pendanaan di luar APBN dan tidak ada jaminan dari pemerintah.  Terkait ketiadaan dana ini, keluarga BJ Habibie menanggung biaya perencanaan sedangkan untuk keperluan berikutnya diupayakan dana dari masyarakat.

Dengan dikeluarkannya program tersebut maka produsen harus berjuang lebih keras, mungkin dengan mengundang modal asing. Padahal bila RJ-80 terjual maka akan membuka lapangan kerja, membayar pajak dan memberi kebanggaan nasional.

Bisnis Pembuatan Pesawat

Dewasa ini, pembuatan pesawat terbang dikuasai Boeing Corp. dan Airbus SE yang merupakan konsorsium dari berbagai negara Eropa Barat. Keduanya membuat berbagai seri pesawat angkut sipil dan pesawat. Keduanya juga memproduksi peralatan keperluan militer.

Mantan Presiden RI BJ Habibie berperan dalam pembuatan pesawat sipil, militer, dan persenjataan seperti peluru kendali pada konsorsium Airbus. Tidak berlebihan bila dikatakan BJ Habibie merupakan tokoh penting dalam industri penerbangan dan militer Jerman, Eropa Barat, serta Pakta Persekutuan Atlantik Utara (NATO).

Airbus dan Boeing Corp. menguasai pembuatan pesawat dengan daya angkut di atas seratus penumpang dengan jarak tempuh sejauh Jakarta-London tanpa henti. Di antaranya Airbus A-380 dan Boeing-787.

Bombardier Inc. dari Kanada dan Embraer Aerospace Company dari Brasil bersaing untuk pesawat-pesawat sipil komersial untuk tujuan regional maupun pesawat eksekutif dengan daya tempuh antar benua.

Pratt & Whitney dan General electric, keduanya dari Amerika Serikat dan Roll Royce dari Inggris bersaing menciptakan mesin yang senyap dan hemat bahan bakar. Mereka juga bersaing dalam menyediakan skema kontrak power by the hour. Artinya kira-kira konsumen membayar berdasarkan lama penggunaan mesin itu. Biasanya penggunaan dalam setahun.

Mengambil Niche

RJ-80 mengambil niche dari pasar regional yang dewasa ini diisi pesawat ATR (Average True Range ) berbagai seri buatan Aerospatiale dari Prancis bersama Aeritalia dari Italia.

Setidaknya 408 unit lebih ATR digunakan di seluruh dunia. Di Indonesia, ATR dipakai diantaranya oleh TransNusa, Trigana, Garuda (dipakai Citilink) , Pelita Air Service dan Wing Air.

Dalam proses pembuatan pesawat ATR, bahkan Bombardier dan Embraer turut serta banyak tenaga ahli dari IPTN. Mereka pergi setelah IMF mensyaratkan pemotongan anggaran bagi IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara).

Pemotongan itu sebagai imbalan pemberian dana talangan US$ 5 miliar untuk mengatasi krisis ekonomi Indonesia tahun 1998. Padahal saat itu, produksi IPTN yakni N-250 sudah mengudara dan sedang dalam proses mengajukan sertifikasi kepada FAA (Federal Aviation Adiministration ).

FAA dianggap ‘dewa’ dalam pemberian sertifikat layak terbang. Sertifikasi FAA menjadi salah satu syarat mutlak dalam bisnis pesawat terbang. Walaupun pernah terungkap, FAA tidak sepenuhnya memeriksa kelainkan B-787 dengan dalih kekurangan tenaga ahli. Kasus yang memalukan ini lenyap begitu saja.

Pembuatan RJ-80, dirintis BJ Habibie pada tahun 2015, didasarkan pada studi selama dua tahun di Amerika Serikat. RJ-80 cocok untuk Indonesia bahkan Asia dan Afrika karena dapat dimanfaatkan untuk penerbangan jarak pendek. Hemat bahan bakar. Mudah perawatannya.

Pesawat ini dapat dikendalikan secara elektronik (fly by wire). By pass rationya 40 sedangkan Airbus dan Boeing 12, hingga semakin tinggi terbang akan semakin cepat dan efisien.

Komisaris PT RAI Ilham Akbar Habibie lima tahun lalu menyatakan, RJ-80 yang berbaling-baling itu sangat sesuai dengan tipikal kepulauan di Indonesia. Cocok juga untuk penerbangan jarak pendek seperti Yogyakarta-Semarang, Surabaya-Banyuwangi.

Biaya operasional murah hingga sesuai dengan karakter penerbangan jarak pendek yang harga tiketnya murah, katanya seraya menambahkan, pengusaha maskapai penerbangan sangat respek.

RJ-80 ditargetkan terbang perdana pada 2018,dan setahun kemudian memperoleh sertifikasi kelaikan udara, tetapi rencana tinggal rencana. Pesawat yang sudah dipesan sejumlah perusahaan penerbangan, seperti NAM Air, itu kini memasuki cuaca buruk.

Perlu Patron

Di negara-negara berkembang, mendirikan industri memerlukan patron, yakni seseorang yang memiliki kekuasaan, wewenang atau pengaruh. BJ Habibie dapat membangkitkan banyak industri strategis karena didukung Presiden Soeharto.

BJ Habibie membawahkan sepuluh industri strategis diantaranya PT PAL, PT PINDAD, PT IPTN, Perum Dahana dan Industri Telekomunikasi Indonesia. Habibie memiliki jaringan bisnis yang luas, alhasil perusahaan-perusahaan itu dapat bekerja sama dengan produsen asing untuk menghasilkan produk–produk yang canggih. Indonesia juga punya daya tawar untuk mengajukan offsett bila membeli produk asing.

Industri strategis terkena dampaknya, ketika kekuasaan Presiden Soeharto surut sebagai dampak krisis moneter-politik. Siapapun tahu krisis itu disebabkan perusahaan-perusahaan yang berutang kelewat batas bukan akibat kelakuan industri strategis.

BJ Habibie menyesalkan keputusan IMF yang mensyaratkan pengurangan anggaran IPTN yang berdampak pada penghentian produksi. Padahal pesawat N-250 Gatot Kaca yang sudah terbang dan pandai melenggak-lenggok tengah dalam proses memperoleh sertifikasi FAA.

Habibie dengan legowo menerima keputusan itu, tetapi semangatnya tidak padam. Muncullah RJ-80 dan PT RAI melalui perhitungan yang matang dan diamati kalangan penerbangan.

PT RAI sudah pula menghimpun banyak tenaga ahli, termasuk Ilham Akbar Habibie sendiri yang dikenal ahli struktur pesawat. PT Dirgantara Indonesia pun akan mendukung proses produksi RJ-80.

Kelemahannya, PT Regio Aviasi Indonesia (PT RAI) kekurangan modal dan tidak lagi memiliki patron. Dua faktor yang akan membuat RJ-80 senasib dengan saudara-saudaranya.

Suatu ironi, bila Indonesia tak pernah membuat terobosan yang membanggakan dan menjadi unsur pemersatu.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers