web analytics
  

Orang Tua Murid Dihantui Kekhawatiran Persoalan PPDB

Selasa, 9 Juni 2020 09:42 WIB
Umum - Pendidikan, Orang Tua Murid Dihantui Kekhawatiran Persoalan PPDB, PPDB,Ombudsman,Tahun Ajaran Baru 2020/2021

Petugas melakukan input data calon siswa saat hari pertama Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMA di SMA Negeri 3, Jalan Belitung, Kota Bandung, Senin (8/6/2020). (Irfan Al-Faritsi)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Para orang tua dihantui kekhawatiran penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ini terkait anaknya yang akan masuk SMA. 

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terus menerima pengaduan terkait PPDB. Saat ini, sudah masuk sebanyak tujuh kasus yang diadukan dari beberapa daerah di Indonesia.

Pengaduan berasal dari DKI Jakarta sebanyak lima kasus, Banten sebanyak satu kasus, dan Jawa Barat satu kasus. KPAI menerima pengaduan tersebut pada periode 27 Mei-5 Juni 2020. 

"Ketiga wilayah ini termasuk yang terdepan dalam membuat juknis (petunjuk teknis) dan pembagian zonasi," kata Komisioner Bidang Pendidikan KPAI, Retno Listyarti, Senin (8/6/2020).

Pengaduan terkait PPDB berupa masalah teknis sebanyak empat kasus. Masalah ini, antara lain,  terkait pencatatan data sekolah asal. Retno mengatakan, pengaduan teknis semacam ini merupakan kewenangan Dinas Pendidikan setempat.

Selain itu, terdapat tiga pengaduan terkait kebijakan yang dianggap tidak adil bagi anak-anak. Pengaduan soal ketidakadilan yang pertama mengenai PPDB di DKI karena hanya menetapkan zonasi sebesar 40 persen. Padahal, sesuai Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019 tentang PPDB, minimal untuk zonasi adalah 50 persen.

Pengaduan lain di DKI Jakarta berkaitan dengan indikator seleksi berupa usia. Apabila usia menjadi indikator seleksi, orang tua murid khawatir anaknya yang masih tergolong muda tidak bisa mendaftar ke jenjang SMA. 

"Anak pengadu mau mendaftar ke jenjang SMA dengan usia 14 tahun. Orang tua pengadu khawatir anaknya tidak diterima di sekolah negeri karena usianya masih terlalu muda. Padahal, secara ekonomi keluarga pengadu mengalami kesulitan kalau harus bersekolah di SMA swasta," kata Retno.

Selain itu, lanjut Retno, ada satu keluarga inti beranggotakan empat orang yang sedang menjalani isolasi di RS Wisma Atlet. Mereka kebingungan mendaftarkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi karena sekeluarga sedang diisolasi. "Seluruh dokumen anak ada di rumah dan bingung dengan sistem daring PPDB DKI Jakarta. Kasus yang terakhir ini, yang mengadukan adalah tetangganya," ujar dia.

Dari Provinsi DIY, kebijakan penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMA/SMA di DIY yang memasukkan nilai ujian nasional (UN) sekolah dasar (SD) sebagai bobot tambahan nilai terus menuai polemik. Permasalahan ini bahkan telah dilaporkan kepada Ombudsman RI Perwakilan DIY karena dinilai ada malaadministrasi. 

Kepala Ombudsman RI Perwakilan DIY Budhi Masthuri membenarkan telah menerima pengaduan mengenai proses PPDB di DIY. Berdasarkan laporan yang masuk, kata dia, ada keluhan mengenai perubahan petunjuk teknis (juknis) PPDB yang menambahkan syarat nilai UN SD/MI serta nilai rata-rata UN empat tahun terakhir yang dilakukan saat proses PPDB sudah dimulai.

Budhi mengatakan, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY sebelumnya telah menggelar dengar pendapat publik terkait masalah itu, termasuk soal penambahan komponen nilai UN SD yang banyak dikeluhkan. "Sesuai penjelasan Disdikpora DIY, penambahan komponen nilai tersebut untuk meminimalkan adanya disparitas pemberian nilai rapor di sekolah masing-masing," kata Budhi kepada Republika, kemarin.

Ia menceritakan, Disdikpora DIY menyebut bahwa potensi disparitas ini sebelumnya juga dikeluhkan orang tua calon siswa. Sedangkan, mengenai relevansi, penambahan nilai UN SD/MI untuk PPDB SMA/SMK menandakan Disdikpora DIY menganggapnya relevan. "Kami akan pelajari soal relevansi tersebut dan belum bisa memberikan pendapat karena laporan masyarakat sedang dalam proses," ujar Budhi.

Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Yogyakarta (AMPPY) menilai, terdapat beberapa pelanggaran yang dilakukan Disdikpora DIY. AMPPY menyampaikan, juknis yang sebelumnya sudah diumumkan diubah di tengah jalan. Atas alasan itu, AMPPY menilai Disdikpora DIY berpotensi melakukan pelanggaran malaadministrasi.

Selain itu, sampai saat ini tidak ada juknis dari pusat yang menentukan nilai UN SD sebagai patokan. Jika nilai UN SD digunakan sebagai patokan, AMPPY menganggap Disdikpora DIY tidak menghargai proses kegiatan belajar mengajar selama tiga tahun di SMP.

Bagian dari AMPPY, Direktur Institute of Development and Economic Analysis (IDEA) Yogyakarta, Tenti Kurniawati, mengatakan, kebijakan sudah diumumkan Disdikpora DIY. Artinya, SMA-SMA mau tidak mau harus melaksanakannya. "Sudah diumumkan oleh Disdikpora, tapi juknisnya belum," kata Tenti. 

Protes terhadap proses PPDB di DIY juga dituangkan melalui petisi. Ratusan orang telah membubuhkan tanda tangan petisi berjudul "Hapus Komponen Nilai USM SD/MI untuk PPDB SMAN DIY" di change.org. Petisi itu dibuat oleh Deddy Heriyanto, salah satu orang tua murid yang tidak sepakat dengan adanya penambahan nilai UN SD dalam PPDB SMA/SMK. Hingga Senin, petisi telah ditandatangani oleh 453 orang. 

Deddy menjelaskan, awalnya juknis PPDB menggunakan nilai rapor untuk seleksi penerimaan jalur zonasi ataupun prestasi. Namun, muncul tuntutan dari Forum Orang Tua Pencari Keadilan (Fortuna) yang menyangsikan standardisasi nilai rapor. Mereka mengusulkan ada indeks linierisasi yang mengonversi nilai rapor siswa SMP dengan rata-rata nilai UN empat tahun terakhir.

Dari sanalah ide menggunakan rata-rata UN empat tahun terakhir dan rata-rata akreditasi sekolah digunakan dalam perhitungan nilai gabungan. Kedua komponen dirasa cukup baik karena menandakan bobot sekolah. "Yang dianggap tidak tepat memasukkan nilai siswa rata-rata USM SD/MI dalam rumus tersebut, apalagi bobotnya hingga mencapai 40 persen," ujar Deddy.

Salah satu wali murid, Eko Budi, sangat tak sepakat nilai UN SD masuk ke dalam formulasi penghitungan nilai gabungan pada PPDB SMA/SMK. Pasalnya, nilai UN SD ini tidak dapat dijadikan sebagai standar peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA/SMK. "Adanya komponen UN SD masuk, saya kira ini sebuah kemunduran pendidikan di kita," kata Eko.

Awalnya, bobot perhitungan nilai diambil dari rata-rata nilai rapor sebesar 80 persen, rata-rata nilai UN sekolah dalam empat tahun terakhir sebesar 10 persen, dan nilai akreditasi sekolah sebesar 10 persen. Formulasi tersebut diubah menjadi rata-rata nilai rapor ditambah dengan nilai UN SD dengan total bobot sebesar 80 persen, nilai rata-rata UN sekolah dalam empat tahun terakhir sebesar 10 persen, dan nilai akreditasi sekolah sebesar 10 persen.

Menurut Eko, diubahnya kebijakan tersebut tidak mengedepankan keadilan bagi peserta didik. Bahkan, formulasi baru dengan mempertimbangkan UN SD tersebut tidak mengapresiasi proses belajar yang telah dilakukan peserta didik ketika menempuh pendidikan di jenjang SMP.

Kebijakan ini diambil Disdikpora DIY dengan pertimbangan nilai rapor yang tidak memiliki standar yang jelas. Dalam artian, standar dari nilai rapor ditetapkan oleh masing-masing sekolah dan standarnya berbeda-beda.

"Kalau hanya rapor, itu standardisasinya diragukan. Diubah karena tahun ini kan tidak ada UN. Karena, saat Covid-19 ini tidak ada alat ukur yang paling standar selain UN untuk masuk SMA," kata Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan Disdikpora DIY Didik Wardaya. 

Standar Sama

Masuknya nilai UN SD sebagai salah satu pertimbangan dalam PPDB SMA/SMK mendapat respons baik dari beberapa kepala sekolah. Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Yogyakarta Mifta Kodin mengaku setuju dengan hal tersebut.

Menurut dia, nilai UN SD sendiri memiliki standar yang sama untuk tiap sekolah. Dengan demikian, nilai UN yang menjadi pertimbangan dalam PPDB di DIY tersebut dinilai mampu memetakan kemampuan siswa secara objektif. "Saya setuju karena nilai UN SD merupakan nilai siswa itu sendiri," kata Mifta. 

Dia juga beranggapan bahwa formulasi dalam PPDB SMA/SMK memang seharusnya tidak hanya diambil dari nilai rapor. Ia menyebut, nilai rapor semestinya terstandar karena kompetensi dasarnya di tiap sekolah yang sama. Namun, tingkat kedalaman dan keluasan dari tiap materi akan berbeda di masing-masing sekolah. Dengan begitu, tingkat kemampuan rata-rata peserta didik pun berbeda di tiap sekolah.

Kepala Sekolah SMKN 3 Yogyakarta Bujang Sabri juga sepakat dengan kebijakan Disdikpra DIY. Menurut dia, diubahnya formulasi dalam penghitungan nilai gabungan dengan menambahkan nilai UN SD sudah melalui kajian dan masukan-masukan dari berbagai pihak.

Menurut Sabri, nilai UN SD dapat memperlihatkan prestasi dari masing-masing peserta didik. Terlebih, tahun ini UN bagi siswa SMP sudah ditiadakan. Dengan demikian, menurut dia, nilai UN SD dapat dijadikan sebagai salah satu standar dalam PPDB SMA/SMK di DIY. Berbeda dengan nilai rapor yang ada di masing-masing sekolah karena memiliki standar yang berbeda.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengatakan, kebijakan teknis PPDB merupakan tanggung jawab daerah. "Kalau mau protes ke Disdik atau Gubernur saja. Biar dijelaskan kenapa pemda membaut kebijakan lokal seperti itu," kata Plt. Diretkur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen), Hamid Muhammad. 

Hamid menegaskan, peraturan tersebut sudah tercantum dalam Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019 tentang PPDB. Di dalamnya, ditegaskan daerah memiliki tugas untuk membuat kebijakan teknis terkait PPDB.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Sumber: Republika
Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers