web analytics
  

Temuan Baru, Gejala Covid-19 yang Menimpa Pria Botak Lebih Parah

Minggu, 7 Juni 2020 06:46 WIB Ananda Muhammad Firdaus

ilustrasi virus corona (Pixabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Penelitian mengungkapkan bahwa pria berkepala botak berisiko mengalami gejala virus corona (COVID-19) yang parah.

Dilansir Himedik.com, hubungan antara kebotakan dan gejala virus corona COVID-19 yang parah cukup kuat. Sehingga banyak peneliti menyerukannya supaya dianggap sebagai faktor risiko.

Prof Carlos Wambier, pemimpin studi utama di Brown University mengatakan, tim penelitinya benar-benar berpikir bahwa kebotakan salah satu faktor risiko tingkat keparahan pasien COVID-19.

Dilansir oleh The Sun, jika temuannya dikonfirmasi, maka itu bisa menjadi gamechanger untuk merawat pasien virus corona COVID-19 dan bisa mengurangi jumlah pria yang meninggal akibat virus tersebut.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pria botak secara tidak proporsional rentan meninggal akibat virus corona COVID-19, karena hormon dalam tubuhnya.

Penelitian sebelumnya dan analisis statistik oleh Public Health Inggris menunjukkan bahwa pria dua kali lebih mungkin meninggal karena virus corona COVID-19.

Para ilmuwan pun percaya bahwa kerentanan pria terhadap virus corona COVID-19 disebabkan oleh hormon seks pria yang disebut androgen, yang juga termasuk testosteron.

Hormon androgen itulah yang menyebabkan rambut rontok dan bertindak sebagai pintu masuk untuk virus corona COVID-19 menyerang sel.

Jika teori itu benar, maka penekan hormon yang digunakan untuk mengobati kanker prostat dan kebotakan juga bisa digunakan untuk bug yang mematikan tersebut.

Temuan dari Brown ini mengonfirmasi studi sebelumnya yang menemukan penyebab dan efek sama dengan pasien di seluruh dunia.

Studi serupa yang lebih kecil di Spanyol juga menunjukkan bahwa pria botak memiliki risiko 79% menjalani perawatan di rumah sakit akibat COVID-19.

Para ilmuwan juga menemukan hasil serupa pada wanita yang mengalami kerontokan rambut akibat hormon androgen.

Studi Italia lainnya menemukan bahwa pria yang sedang menjalani perawatan kanker prostat dengan terapi kekurangan androgen 4 kali lebih kecil terkena virus corona, dibandingkan pasien yang menjalani perawatan lain.

Sumber: Himedik.com
Editor: Ananda Muhammad Firdaus

artikel lainnya

dewanpers