web analytics
  

Minim Perhatian, Pasar Jadi Klaster Baru Penularan Covid-19

Sabtu, 6 Juni 2020 19:34 WIB Khoirur Rozi

Ilustrasi pasar tradisional.(Ayobandung.com/Irfan Alfaritsi)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Perhatian pemerintah pusat terhadap protokol kesehatan di Pasar tradisional dinilai minim. Padahal, pasar menjadi tempat kerumunan orang yang berpotensi terjadinya penularan Covid-19.

"Perhatian pemerintah relatif sedikit sekali terhadap pasar. Pasar itu rentan penyebaran ini (virus Covid-19), tetapi di sisi yang lain pasar jadi salah satu tempat yang harus tetap dibuka untuk melayani kebutuhan masyarakat," kata Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia, Ferry Juliantono, Sabtu (6/6/2020).

Menurut Ferry, pemerintah gencar memberikan sosialisasi pencegahan Covid-19 hanya pada saat awal pandemi di Indonesia. Itu pun, katanya, tidak merata setiap pasar di Indonesia.

"Kenapa saya bilang kecil perhatiannya? misalnya soal sosialisasi itu ada pas saat awal awal saja kira-kira maret awal itu ada perhatian, ada penyemprotan di beberapa titik. contoh misal di jakarta ada 140 pasar, yang disemprot disinfektan cuma 10-20 pasar. sisanya enggak ada tindakan apa-apa," ungkapnya.

Protokol kesehatan yang ideal di pasar menurut Ferry adalah dengan mengatur jarak antarpedagang. APPSI pun sudah mencoba menyosialisasikan pentingnya menerapkan jaga jarak. Namun hal itu sulit direalisasikan jika tidak ada regulasi yang jelas dari pemerintah.

"Jadi ini perlu regulasi, perlu sosialisasi, perlu struktur untuk mengubah kultur jual-beli di pasar. Nah ini regulasi enggak, sosialisasinya enggak ada, kita kalau inisiatif dari pedagang pasar saja, menurut saya sangat kecil nanti efeknya," jelasnya.

Ferry memberikan contoh kasus akibat tidak adanya protokol kesehatan ketat di Pasar tradisional. Terdapat kasus positif baru dari pedagang pasar di sejumlah wilayah. Hal ini tentu membahayakan pedagang dan pembeli mengingat interaksi di pasar cukup ramai.

"Tambah banyak korban yang positif corona di berbagai daerah di indonesia. Kemarin saya dapat masukan dari pak Emil Dardak, itu di Jawa Timur banyak klaster baru di pasar. Di Pasar Cileungsi Bogor juga begitu," ujarnya.

"Jadi sekarang ini pasar itu harus dikonsentrasikan atau diterapkan protokol kesehatan secara jauh lebih ketat," katanya.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel lainnya

dewanpers