web analytics
  

Jasa Fotokopi di Bandung Merana, Pendapatan Anjlok 90 Persen

Sabtu, 6 Juni 2020 17:01 WIB Nur Khansa Ranawati

Ilustrasi: Mesin fotokopi (Pixabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Jasa print dan fotokopi adalah bidang usaha yang tak terpisahkan dari kehidupan kampus dan perkantoran. Di mana ada kampus berdiri, di sana biasanya turut hadir pula sejumlah usaha fotokopi rumahan yang menyasar mahasiswa sebagai pasar utamanya.

Di Kota Bandung, salah satu pusat kegiatan kampus yang senantiasa ramai dengan hilir mudik mahasiswa ada di bilangan Jalan Dipatiukur dan sekitarnya. Di sana juga berderet jasa print dan fotokopi sepanjang jalan.

Namun, seiring dengan liburnya seluruh aktivitas kampus dikala pandemi Covid-19 melanda, usaha fotokopi terkena imbasnya. Selama hampir tiga bulan belakangan, nyaris tak ada lagi pemandangan antrean mahasiswa yang bergantian memakai komputer dan menanti tugas-tugasnya dicetak di Jalan Dipatikur.

Ayobandung.com mencoba menyambangi kios seorang pengusaha Jasa Fotokopi berusia 58 tahun yang enggan disebutkan namanya di Jalan Dipatiukur, Sabtu (6/6/2020) siang. Dia mengaku telah menjalankan usahanya sejak 1986 tersebut tengah duduk bertopang dagu.

Kiosnya sepi, hanya satu dari dua mesin fotokopi yang dinyalakan. Komputer dan mesin print pun hanya dioperasikan satu unit.

"Perbedannya jauh sekali, paling hanya 1-2 mahasiswa yang datang dalam sehari. Penghasilan enggak sampai 10% dari biasanya," ungkapnya.

Dia mengatakan, pada hari-hari biasanya, usahanya dapat mengantongi penghasilan kotor rata-rata Rp2.000.000 per-hari. Saat ini, untuk mendapat Rp200.000 dalam satu hari pun dirasa sulit.

Dia mengatakan terpaksa merumahkan dua pegawainya yang kini kembali pulang ke Tasikmalaya. Biasanya, kedua pegawai tersebut digaji masing-masing Rp150.000 per-hari.

"Sekarang diliburkan dulu, karena mau dibayar bagaimana. Mereka sudah sering nelepon saya, tapi saya bilang nanti dulu nunggu keadaan lebih stabil," paparnya.

Kondisi ini diakuinya merupakan yang terparah selama lebih dari 30 tahun berjualan. Bahkan jauh lebih parah dibanding saat krisis moneter melanda Indonesia.

"Waktu krismon kan harga-harga naik saja, harga jual juga jadi naik. Kalau sekarang mah yang belinya saja sudah enggak ada," ungkapnya.

Hal tersebut juga otomatis membuat dirinya dan keluarga harus mengencangkan ikat pinggang. Meski stok makanan diakuinya masih aman, namun Khaidir tetap harus memutar otak agar istri dan tiga orang anaknya ternafkahi dengan layak.

"Kalau orang dewasa sih bisa hemat makanan, tapi untuk popok dan susu anak enggak bisa dikurangi. Kemarin akhirnya saya beranikan pinjam uang ke bank untuk simpanan, jaga-jaga saja," ungkapnya.

Nasib serupa juga dialami pengusaha lainnya, seorang pria berusia 34 tahun yang menjalani usaha fotokopi bersama kakaknya, di depan salah satu kampus Jalan Dipatiukur. Dia mengatakan, saat ini dalam satu hari penghasilan mereka berkisar antara Rp80.000-Rp200.000 per-hari.

"Biasanya bisa sampai Rp2.000.000 atau lebih sehari. Saya sudah mulai kena imbas sepi setelah kampus Unpad ini dipindah semua ke Jatinangor. Sekarang makin sepi," ungkapnya.

Dia mengatakan, dalam kondisi normal, satu mahasiswa yang datang untuk keperluan kampusnya bisa mengeluarkan uang hingga lebih dari Rp100.000 per-orang. Usaha print dan fotokopinya biasa melayani penjidilan skripsi dan tesis.

"Dulu dari satu pelanggan saja bisa dapat seratus ribu lebih, sekarang buat dapat segitu dalam sehari susahnya minta ampun," jelasnya.

Kini, dia mengatakan, para pelanggan yang datang hanya segelintir mahasiswa, atau warga yang belakangan banyak memerlukan dokumen administrasi terkait bantuan sosial pemerintah.

Tetap Bertahan
Dia mengaku memilih untuk tetap bertahan menjalankan usaha masing-masing, meskipun belum ada kepastian kampus akan kembali dibuka dalam waktu dekat. Mereka mengatakan, pulang kampung saat ini bukanlah pilihan.

"Sempat sih ada pikiran untuk pulang ke Padang tapi kan enggak boleh mudik. Lagipula saya takut orang di rumah malah ketularan Corona," ungkapnya.

Selain tetap menjalankan usaha fotokopinya, dia mengatakan ingin mencoba untuk memulai usaha lainnya. Berjualan sembako atau minuman ringan adalah hal yang tengah dipertimbangkan.

"Kayaknya saya mau coba jual minuman seperti Thai Tea, atau jual sembako. Masih belum yakin, tapi mau dicoba," ungkapnya.

Editor: Andres Fatubun
dewanpers