web analytics
  

Tata Cara Pelaksanaan Salat Jumat saat Pandemi Corona dari MUI

Jumat, 5 Juni 2020 10:30 WIB
Umum - Nasional, Tata Cara Pelaksanaan Salat Jumat saat Pandemi Corona dari MUI

Jemaah melaksakanan salat jumat di Masjid Al Muttaqin, Komplek Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (20/3/2020). (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM — Ada sejumlah tata cara Salat Jumat yang disesuaikan saat pandemi corona dan pelonggaran PSBB di sejumlah wilayah di Indonesia.

Penyesuaian itu terkait dengan kesehatan dan pencegahan virus corona saat menjalankan ibadah salat secara berjemaah. Hal itu tertuang dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia No 31 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Salat Jumat dan Jemaah untuk Mencegah Penularan Wabah Covid-19.

AYO BACA: Virus Corona Covid-19 Menyebar Lewat Makanan Kemasan, Benarkah?

AYO BACA: Tangkal Covid-19 dengan Mengonsumsi Ubi Ungu

AYO BACA: 8 Cara Mencegah Virus Corona Covid-19 Saat Keluar Rumah

Dalam fatwa tersebut dijelaskan, pada dasarnya Salat Jumat hanya boleh diselenggarakan satu kali di satu masjid pada satu kawasan. Untuk mencegah penularan wabah Covid-19 maka penyelenggaraan Salat Jumat boleh menerapkan physical distancing dengan cara perenggangan saf.

Sementera itu, jika jemaah Salat Jumat tidak dapat tertampung karena adanya penerapan physical distancing, maka boleh dilakukan ta’addud al-jumu’ah (penyelenggaraan salat Jumat berbilang), dengan menyelenggarakan Salat Jumat di tempat lainnya seperti musala, aula, gedung pertemuan, gedung olahraga, dan stadion.

Sementara itu, masih dalam fatwa yang sama, dijelaskan tentang opsional pelaksanaan Salat Jumat. Dalam hal masjid dan tempat lain masih tidak menampung jemaah Salat Jumat dan/atau tidak ada tempat lain untuk pelaksanaan Salat Jumat, Sidang Komisi Fatwa MUI berbeda pendapat terhadap jemaah yang belum dapat melaksanakan Salat Jumat sebagai berikut:

Pendapat pertama, jemaah boleh menyelenggarakan Salat Jumat di masjid atau tempat lain yang telah melaksanakan Salat Jumat dengan model shift, dan pelaksanaan Salat Jumat dengan model shift hukumnya sah.

AYO BACA: Pasar Cisalak Depok Ditutup Usai 4 Pedagang Positif Covid-19

AYO BACA: Sebelum Meninggal, Pedagang Pasar di Bogor Tularkan Covid-19 ke Istri

AYO BACA: Pulang Pergi Jakarta, Pedagang Sayur Positif Covid-19 dari Indramayu Meninggal

Pendapat Kedua, jemaah melaksanakan Salat Zuhur, baik secara sendiri maupun berjemaah, dan pelaksanaan Salat Jumat dengan model shift hukumnya tidak sah.

“Terhadap perbedaan pendapat di atas (point a dan b), dalam pelaksanaannya jemaah dapat memilih salah satu di antara dua pendapat dengan mempertimbangkan keadaan dan kemaslahatan di wilayah masing-masing,” tulis fatwa tersebut. 

Berikut isi lengkap Fatwa MUI Fatwa No 31 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Salat Jumat dan jemaah untuk mencegah penularan wabah Covid-19:

I. KETENTUAN HUKUM

A. Perenggangan Saf Saat Berjemaah

1. Meluruskan dan merapatkan saf (barisan) pada salat berjemaah merupakan keutamaan dan kesempurnaan berjemaah.

2. Salat berjemaah dengan saf yang tidak lurus dan tidak rapat hukumnya tetap sah tetapi kehilangan keutamaan dan kesempurnaan jemaah.

3. Untuk mencegah penularan wabah COVID-19, penerapan physical distancing saat salat jemaah dengan cara merenggangkan saf hukumnya boleh, salatnya sah dan tidak kehilangan keutamaan berjemaah karena kondisi tersebut sebagai hajat syar’iyyah.

AYO BACA: 5 Cara Mencegah Virus Corona Covid-19 yang Keliru

AYO BACA: 5 Langkah Mencegah Virus Corona di Rumah

AYO BACA: Cara Salam Alternatif untuk Cegah Corona Sesuai Anjuran WHO

B. Pelaksanaan Salat Jumat

1. Pada dasarnya salat Jumat hanya boleh diselenggarakan satu kali di satu masjid pada satu kawasan.

2. Untuk mencegah penularan wabah Covid-19 maka penyelenggaraan salat Jumat boleh menerapkan physical distancing dengan cara perenggangan saf.

3. Jika jemaah salat Jumat tidak dapat tertampung karena adanya penerapan physical distancing, maka boleh dilakukan ta’addud al-jumu’ah (penyelenggaraan salat Jumat berbilang), dengan menyelenggarakan salat Jumat di tempat lainnya seperti mushalla, aula, gedung pertemuan, gedung olahraga, dan stadion.

4. Dalam hal masjid dan tempat lain masih tidak menampung jemaah salat Jumat dan/atau tidak ada tempat lain untuk pelaksanaan salat Jumat, maka Sidang Komisi Fatwa MUI berbeda pendapat terhadap jemaah yang belum dapat melaksanakan salat Jumat sebagai berikut:

a. Pendapat pertama, jemaah boleh menyelenggarakan salat Jumat di masjid atau tempat lain yang telah melaksanakan salat Jumat dengan model shift, dan pelaksanaan salat Jumat dengan model shift hukumnya sah.

AYO BACA: Lebih Baik Mana, Cuci Tangan dengan Air atau Hand Sanitizer?

AYO BACA: Berkumur dengan Air Garam dan Cuka Bisa Bunuh Corona Covid-19?

AYO BACA: Ini Saran Dokter Jika Ada Tamu Saat Pandemi Corona Covid-19

b. Pendapat Kedua, jemaah melaksanakan salat zuhur, baik secara sendiri maupun berjemaah, dan pelaksanaan salat Jumat dengan model shift hukumnya tidak sah.

Terhadap perbedaan pendapat di atas (point a dan b), dalam pelaksanaannya jemaah dapat memilih salah satu di antara dua pendapat dengan mempertimbangkan keadaan dan kemaslahatan di wilayah masing-masing.

C. Penggunaan Masker Saat Salat

1. Menggunakan masker yang menutup hidung saat salat hukumnya boleh dan salatnya sah karena hidung tidak termasuk anggota badan yang harus menempel pada tempat sujud saat salat.

2. Menutup mulut saat salat hukumnya makruh, kecuali ada hajat syar’iyyah. Karena itu, salat dengan memakai masker karena ada hajat untuk mencegah penularan wabah COVID-19 hukumnya sah dan tidak makruh.

AYO BACA: Corona Masuk ke Indonesia, Ini Doa Agar Terhindar dari Penyakit Berbahaya

AYO BACA: 7 Situs Resmi untuk Pantau Perkembangan Virus Corona di Indonesia

AYO BACA: Jahe dan Kunyit, Mana yang Lebih Berkhasiat?

II. REKOMENDASI

1. Pelaksanaan salat Jumat dan jemaah perlu tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti memakai masker, membawa sajadah sendiri, wudlu dari rumah, dan menjaga jarak aman.

2. Perlu memperpendek pelaksanaan khutbah Jumat dan memilih bacaan surat Alqurn yang pendek saat salat.

3. Jemaah yang sedang sakit dianjurkan salat di kediaman masing-masing.

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/qsUX_L3m_0Y" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers