web analytics
  

Meratapi Nasib Karyawan Perusahaan Penerbangan

Jumat, 5 Juni 2020 09:35 WIB
Netizen, Meratapi Nasib Karyawan Perusahaan Penerbangan, Meratapi, Nasib, Karyawan, Perusahaan, Penerbangan, maskapai penerbangan, dampak corona, dampak covid,

Aktivitas di Bandara Husein Sastranegara, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Kamis (30/1/2020). (Ayobandung.com/Kavin Faza)

AYOBANDUNG.COM -- Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional (IATA) menyatakan dampak wabah Covid-19 baru akan berakhir jauh setelah lockdown dicabut. Paling tidak dua tahun setelah wabah merebak di Wuhan, Cina Tenggara pada Desember 2019.

Dampaknya lebih besar dibandingkan wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) di China tahun 2002 atau Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV) di Timur Tengah pada 2012. Meskipun demikian, pengalaman menunjukkan, kerusakan pada bisnis penerbangan bersifat temporer dibandingkan dengan kerusakan secara keseluruhan, ungkap DG merangkap CEO IATA Alexander de Juniac pada April 2020.

Wabah Covid-19 yang menewaskan 380 ribu orang di sedikitnya 165 negara menyebabkan permintaan dan penawaran dalam bisnis aviasi khususnya dan bisnis leisure pada umumnya turun drastis. Emirates, Thai Airlines, British Airways, Unites Airlines, Singapore Airlines, dan masih banyak lagi.

Mereka merumahkan, mem-PHK, memberlakukan cuti tanpa gaji, memberlakukan pensiun dini atau menghentikan kontrak kerja dengan secara sepihak. Tidak diketahui apakah manajemen airlines itu memberi kompensasi sekaligus atau dicicil.

Di antara yang terkena hantaman palu godam itu adalah pilot dan pramugara/pramugari yang menjadi ikon perusahaan penerbangan yang bersangkutan. Mereka adalah garda terdepan. Ironis bukan?

Dipandang sebagai Cost

Perusahaan penerbangan memiliki ciri (1) banyak karyawan, (2) padat modal dan (3) teknologi. Bila terjadi ‘gangguan’ maka yang terlebih dulu terkena restruksturisasi atau apapun namanya adalah karyawan. Mereka dianggap sebagai ‘biaya’ yang harus dipangkas.

Disebut cost atau biaya lantaran perusahaan membayar gaji beserta tunjangannya, biaya menginap, uang lembur, uang makan, berbagai insentif hingga penggunaan air dan listrik. Dulu pengurangan karyawan juga menurunkan penggunaan alat tulis kantor (ATK).

Sejalan dengan hal tersebut, manajemen membuat peraturan-peraturan yang sebetulnya kurang memberi ketenangan kepada karyawan. Ada klausul-klausul yang memberatkan. Karyawan tak mempunyai pilihan karena jumlah lapangan kerja sangat terbatas.

Serikat Pekerja dalam menanggapi tindakan manajemen biasanya bersikap normatif. Jarang mengambil keputusan untuk mogok apalagi dalam situasi seperti sekarang. Aksi mogok dinilai memperburuk keadaan.

Maskapai penerbangan pernah pula terkena dampak krisis keuangan tahun 2008-2009. Manajemen melakukan berbagai langkah penghematan untuk memperpanjang umur perusahaan. Disamping membangkitkan simpati investor tidak langsung atau pemilik modal langsung.

Ketika itu di Australia, seorang pilot yang di-PHK terpaksa menjadi sopir traktor di lahan pertanian. Barangkali hal serupa juga terjadi di negara-negara lain.

Diperkirakan wabah Covid-19 kali ini menyebabkan karyawan perusahaan penerbangan mencari pekerjaan baru, walaupun tidak sesuai dengan keahlian. Mereka terpaksa menjadi sopir taksi atau petugas sekuriti. Atau menganggur sebab semua lapangan kerja terpukul, termasuk bisnis pariwisata atau industri jasa yang lain.

Padahal ketika perusahaan baru beroperasi atau tumbuh, karyawan didorong supaya produktif agar menghasilkan earning yang lebih besar. Ironisnya, ketika kondisi perusahaan menurun maka mereka lebih dulu menjadi target penghematan. Mengapa demikian?

Dalam teori pengambilan keputusan dinyatakan, target yang dipilih biasanya yang mudah tercerai berai, tidak memiliki daya tawar yang kuat atau kurang mempengaruhi kelancaran operasional perusahaan. Pengambilan keputusan selayaknya didasarkan kepada pertimbangan profesional.

Memprioritaskan Keselamatan dan Keamanan

Manajemen perusahaan penerbangan lazim memprioritaskan aspek keselamatan dan keamanan. Suatu rencana penerbangan bakal ditunda atau dibatalkan sama sekali bila item dalam check list tidak terpenuhi.

Kepatuhan yang luar biasa terhadap aspek-aspek keamanan dan keselamatan menyebabkan kerugian dari sektor ini sangat minimal, zero accident. Untuk itu maskapai berani menanggung kompensasi jika terjadi penundaan atau keterlambatan.

Sayangnya, prestasi ini dianggap rutin, akibatnya penghargaan terhadap penerbang, awak kabin, teknisi dan lainnya juga biasa-biasa saja.

Perkiraan IATA Meleset

Chief Economist IATA,Brian Pearce, di Jenewa, Swiss pada Desember tahun lalu memperkirakan maskapai penerbangan dunia akan memperoleh laba bersih US$29,3miliar pada 2020. Berkat dukungan bank sentral dan kebijaksanaan fiskal di berbagai negara, serta membaiknya sektor kargo.

Perkiraan tersebut lebih rendah dibanding sebelumnya US$28 miliar yang diutarakan pada Juni tahun yang sama, tetapi meningkat ketimbang tahun 2019 yang berjumlah US$25,9 miliar. Airlines mengalami kesulitan pada tahun lalu gegara perang dagang, terutama antara Amerika Serikat- China.

Hanya dalam waktu dalam empat bulan, perkiraan yang menyenangkan itu harus diubah. CEO Emirates Airlines Sheikh Ahmed bin Saeed Al Maktum menyatakan, wabah Covid-19 menyebabkan kemerosotan besar dan mendadak pada sektor permintaan perjalanan udara sebab banyak negara menutup perbatasan dan memberlakukan peraturan perjalanan yang ketat.

Emirates termasuk yang paling terpukul karena tidak memiliki rute domestik. Ia mengandalkan Dubai International Airport yang modern, layanan prima dan lokasi yang letaknya di tengah-tengah bola dunia. Dubai dikembangkan sebagai pusat keuangan serta leisure kelas dunia.

Emirates mempunyai 257 pesawat, kebanyakan berbadan lebar seperti Airbus-380. Emirates menerbangi 159 destinasi di lima benua.

Manajemen baru-baru ini memotong pembayaran gaji sebanyak 25-40 persen . Selain memberhentikan ribuan karyawan. Padahal airlines ini membukukan laba US$ 456 untuk tahun keuangan Maret 2019 –Maret 2020.

Kritik Terhadap Direksi

Menanggapi dampak wabah Covid-19 Brian Pearce mengubah pendirian pada Maret lalu. Menurutnya, dunia mengalami resesi yang dalam. Banyak yang akan kehilangan pekerjaan. Tak ada yang salah dengan model bisnis airlines, tetapi pemulihan paling cepat berlangsung di kuartal keempat tahun ini.

Kendati Brian Pearce menyatakan tidak ada yang salah dengan model bisnis airlines, namun kelesuan kali ini menjadi pintu masuk untuk mengkritik direksi. Direksi kurang memperhatikan resiko bisnis yang ternyata memberi kontribusi amat besar terhadap jalannya perusahaan.

Hasil riset IATA terhadap prosedur mengatasi resiko di berbagai airines mendapati, banyak airlines fokus kepada kemungkinan musibah pesawat terbang dan berbagai macam asuransi. Sebaliknya kurang memperhatikan risiko bisnis yang lebih luas, seperti pada sumber daya manusia, pemasaran, pengelolaan modal, distribusi produk, teknologi dan inovasi.

Mengapa bisa terjadi seperti itu? Apakah direksi tidak berada dalam ruang yang steril? Diganggu katabeletje?

Sebagaimana lazimnya, persiapan rencana bisnis untuk tahun depan dimulai pada awal November. Para perencana tidak menyangka virus Covid-19 yang mulai berjangkit pada Desember 2019 akan cepat meluas. Perkiraan Brian Pearce yang optimistik yang disampaikan di Jenewa pada 11 Desember 2019 jauh lebih menarik.

Dalam konteks ini terdapat kegagalan dalam mengantisipasi kerugian yang ditimbulkan aspek eksternal yakni wabah Covid-19. Ternyata wabah yang diabaikan itu mempengaruhi permintaan dan penawaran.  

Ternyata fakta-fakta masa lalu menunjukkan,  kesalahan strategi dan kegagalan mengelola resiko keuangan berkontribusi terhadap kerugian perusahaan. Jauh lebih besar dibandingkan dengan pengelolaan operasi pesawat terbang yang mempriotaskan safety and security.

Direksi disebut melihat aspek resiko terlampau sempit. Kecenderungan ini otomatis mempengaruhi strategi dan pengelolaan resiko keuangan yang antara lain mencakup struktur pembayaran pinjaman, pengelolaan modal dan persaingan.

Pemulihan

Maskapai penerbangan menempati posisi penting secara politis maupun ekonomis. Atas dasar itu tidak mengherankan bila pemerintah mengalokasikan sejumlah khusus. Pemerintah Australia mengalokasikan total AS$1 miliar agar Qantas dan Virgin Australia dapat beroperasi terutama menerbangi sektor domestik dan regional.

Airlines di negara-negara yang memiliki pasar domestik yang luas mempunyai keuntungan, apalagi bila hubungan antar kota tidak melulu lewat darat. Ia tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan airlines yang berasal dari negara kota, seperti Singapura, Doha, Uni Emirates Arab.

***

Sjarifuddin Hamid, Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel terkait

dewanpers