web analytics
  

Jaman Woneng

Kamis, 4 Juni 2020 09:50 WIB Adi Ginanjar Maulana
Bandung Baheula - Baheula, Jaman Woneng, Jaman Woneng, sampar, woningverbetering, rumah sunda, sejarah sunda,

Rumah-rumah di kampung sebelum adanya program perbaikan. ( (Sumber: Bandoeng en de Hygiene (1929)))

AYOBANDUNG.COM -- Di Jawa Barat, antara 1930-1940, berlangsung “woningverbetering” atau “verbeterde woningen” (perbaikan dan pembangunan kembali rumah). Program ini dijalankan dalam rangka mencegah agar wabah sampar tidak menyebar, dengan menyasar rumah-rumah berbahan bambu yang rentan menjadi sarang tikus, agen pembawa bibit penyakitnya.

Menurut Tabel 54A “Gewestgewijs overzicht van het aantal sterfgevallen aan pest en van het aantal verbeterde woningen” (Survei per provinsi untuk jumlah kasus kematian akibat sampar dan jumlah rumah yang diperbaiki dan dibangun kembali) yang dimuat dalam “Jaarverslag van den Dienst der Volksgezondheid over 1937” (1939) program perbaikan dan pembangunan kembali rumah mula-mula dijalankan pada tahun 1930 seiring dengan kemunculan wabah sampar di Bandung pada tahun 1929.

Mula-mula jumlahnya mencapai 11.694, setahun kemudian menjadi 13.864. Untuk tahun 1932 meningkat dua kali lipat menjadi 25.039, tetapi setahun kemudian menurun lebih dari setengahnya, yakni 10.777.

Pada 1934 saat wabah sampar merangkak naik di Priangan, program perbaikan dan pembangunan rumah malah menurun menjadi 9.440. Tetapi 1935, pasti karena wabahnya terus membengkak, program tersebut ditingkatkan lagi menjadi 20.868 rumah. Begitu pula pada 1936 naik menjadi 26.266.

Kemudian dengan efektifnya program vaksinasi Otten sejak awal 1935, program “woningverbetering” diturunkan lagi jumlahnya pada 1937 menjadi 18.599 rumah. Secara umum, antara 1930-1937 sudah diperbaiki dan dibangun kembali sejumlah 136.547 rumah di Jawa Barat.

Pengalaman perbaikan dan pembangunan kembali rumah tersebut di dalam khazanah bahasa Sunda dikenal sebagai “jaman woneng”. Kata “woneng” adalah pelafalan orang Sunda bagi kata Belanda “woning” yang berarti rumah, yang selengkapnya seharusnya “woningverbetering” atau “verbeterde woningen”. Namun, yang menarik, adalah bagaimana pengalaman tersebut diawetkan dalam ingatan orang Sunda?

Untuk menjawabnya, saya mencari pustaka terkait ihwal tersebut. Antara lain, saya menemukan informasinya dalam buku Di Lembur Kuring (1964) karya Sjarif Amin yang sebagian di antaranya diulangi dalam karyanya yang lain yaitu Nyi Haji Saonah (1983), Ayat Suci Lenyepaneun (1989) karya Moh E. Hasim, Mulangkeun Panineungan (1997) karya R. Muchtar Affandi, dan Membela Kehormatan Angklung: Sebuah Biografi dan Bunga Rampai Daeng Soetigna (2007) susunan Tatang Sumarsono dan Erna Garnasih Pirous.

Gambaran rinci perihal “jaman woneng” terungkap dalam Di Lembur Kuring. Pada senarai kata buku ini, Sjarif Amin menerangkan bahwa, “Woneng. Asal tina kecap ‘woning’, nyebarna waktu diayakeun ‘Woningverbetering’, parentah ngarobah imah sagala-galana sing nepi ka teu betaheun beurit nu bisa ngaliarkeun panyakit pes.

Ngawoneng, maksudna nyieun atawa ngadegkeun imah nurutkeun aturan nu diparentahkeun ku Dines Pangbasmi Pes (Pestbestrijdingsdienst). Aya ‘kenteng-woneng’, da dibagi kenteng bayareun nyicil, malah seng, paku deuih. Aya ‘mantri-woneng’, nu sok nalingakeunana, bisi nu ngawoneng tea henteu nurutkeun aturan” (‘Woneng’ berasal dari kata ‘woning’, yang menyebar saat diselenggarakannya ‘Woningverbetering’, yaitu perintah mengubah rumah secara menyeluruh sehingga tidak menyebabkan tikus kerasan dan dapat menyebarkan penyakit sampar.

Ngawoneng, maksudnya membuat atau mendirikan rumah menurut aturan yang diperintahkan Dinas Pembasmian Sampar (‘Pestbestrijdingsdienst’). Ada ‘kenteng woneng’, yaitu genting yang harus dibayar secara menyicil, bahkan seng dan juga paku. Ada ‘mantri woneng’ yang bertugas memeriksa bila yang mendirikan rumah tidak sesuai dengan aturan).

AYO BACA : Sampar di Cicalengka, 1932-1935

Menurut Sjarif Amin, pada zaman woneng penggunaan bambu yang berbentuk bulat gelondongan tidak diperkenankan untuk dipakai bahan bangunan, bahkan untuk ujung pagar yang menggunakan bambu gelondongan harus dibersihkan ruasnya agar tidak dijadikan sarang tikus. Demikian pula dengan bambu tiang penyangga tempat menjemur pakaian   harus dibelah, sementara penggunaan bambu tali untuk menjemur meskipun sangat kecil tidak diperbolehkan.

Foto-02

Contoh bagian rumah yang tetap menggunakan bambu, agar tidak menjadi sarang tikus. (Sumber: Bandoeng en de Hygiene (1929))

Demikian pula, tiang balok lintang tempat buang air, mandi dan mencuci (tihang bagbagan) di kolam harus dibelah, celah-celah tempat keluarnya asap pada atap dapur tingginya harus 30 sentimeter. Namun, yang paling dasar, menurut Sjarif Amin, aturan perbaikan dan pembangunan rumah yang baru itu mengubah adat kebiasaan orang Sunda mendirikan rumah.

Padahal, pada mulanya, membuat rumah sifatnya bebas, untuk hal-hal berkaitan dengan model, tiang, balok penopang (pamikul), tiang penyangga (pangeret), dan lain-lain. Bagi orang kaya bisa menggunakan kayu. Tetapi kebanyakan berbahan bambu, terutama jenis gombong (“Nu matak kitu bae prahna oge nu teu boga rahab kai mah. Tihang, pamikul, pangeret, ku gombong. Usuk ku awi tali, iga-iga oge ku awi tali, tjara njieun gagalur. Bilik awi, palupuh awi, gombong atuh”).

Yang menarik adalah informasi untuk bahan atap rumah, karena semula umumnya berbahan alang-alang (eurih) yang dirampat dan disatukan (diwelit) atau alang-alang yang digulung sebesar guling lalu dihamparkan di seantero atap (dibalubur), yang bila ingin tahan hingga puluhan tahun, alang-alangnya dicampur dengan ijuk. Dengan demikian, dari keterangan Sjarif Amin, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa sebelum tahun 1930 umumnya atap rumah orang Sunda kebanyakan berbahan alang-alang. Terutama bagi yang tinggal di kampung atau di desa.

Demikian sentralnya peran bambu untuk orang Sunda, sehingga Sjarif Amin mengatakan “Awi, awi, naon atuh nu lain tina awi?!” (Bambu, bambu, apa pula yang tidak berbahan dari bambu?!).  Nah, ketika program woningverbetering diperkenalkan, kasau (usuk) rumah harus menggunakan kayu albasia, kayu lame untuk balagbag, kemudian genteng, seng, dan paku bisa menghutang dulu, dibayarnya dicicil sangat murah, bahkan hingga bertahun-tahun.

Namun, seakan menyesali program pencegahan wabah sampar itu, Sjarif Amin menyatakan, “Alus katendjo saliwatan mah, unggal suhunan kenteng, geus puguh kasebutna imah, kandang embe, saung bagbagan atawa saung di sawah oge kenteng hateupna teh. Tapi ana breg hudjan, sawareh mah lain beueus deui, lain sawer deui, tapi matak rantjutjut anu ngiuhan!” (Sekilas terlihat bagus. Setiap rumah beratap genting, bahkan untuk kandang kambing, demikian pula untuk pondok tempat buang air, mandi dan mencuci atau pondok di sawah. Tapi saat tertimpa hujan, bukan hanya menyebabkan orang yang sedang berteduh lembab basah, bukan hanya terkena air tempias, bahkan hingga kuyup).

Semangat gotong royong pun seakan musnah, karena semua orang harus memperbaiki dan membangun lagi rumahnya, demikian pula dengan kebiasaan saling pinjam bahan bangunan tidak bisa dilakukan lagi. Memang, kata Sjarif Amin, banyak yang tertolong dari ancaman sampar, apalagi ditambah vaksinasi Dokter Otten. Namun, sayangnya, kemudian berkecamuk penyakit malaria (“Tetela rea anu katulungan tina antjaman bahaja pes mah, da tulujna bari djeung diajakeun suntikan deuih, panjegahna, hasil ngulik doktor Otten. Tapi gantina, mahabu malaria, meh di saban tempat anu diwoneng”).

Akibat lebih lanjut dari program woningverbetering adalah kehidupan di pedesaan jadi terganggu karena paksaan perbaikan dan pembangunan rumah. Banyak yang terpaksa menunda kerja sehari-hari dan menjual secara rumah harta bendanya, sehingga banyak yang mengalami kesusahan hidup. Di sisi lain, bagi orang yang berada menimbulkan provokasi saling bersaing mempercantik rumahnya, seperti dilekor, ditembok, diberi kaca, dan lain-lain. Tapi bagi orang tidak punya tapi merasa iri hati, menyebabkan mereka menjual kolam, kebun, sawah, demi mempercantik rumahnya.

AYO BACA : Menjajal Vaksin Sampar Anyar

Akhirnya, Sjarif Amin menyimpulkan bahwa “Ku kuriak woneng, katengtreman hirup djeung kahirupan di lembur kuring mimiti kagadabah. Sareatna ukur parentah robah bilik djeung suhunan, tapi balukarna ngababuk ka nu lain keur pukul ratana nu ngalaman mah” (Dengan adanya woningverbetering, ketenteraman hidup dan kehidupan di kampungku mulai terganggu. Terlihat hanya perintah mengubah dinding bambu dan atap, tapi akibatnya merembet kepada hal-hal lainnya).

Tidak jauh berbeda, bahkan dengan daerah yang sama dari Sjarif Amin, Moh E. Hasim (1989) menyatakan, “Harita di Ciamis kaler aya woningverbetering nya eta sakabeh wangunan dianyarkeun nurutkeun aturan pamarentah di antarana kudu make hateup kenteng” (Waktu itu di Ciamis utara ada woningverbetering yaitu semua bangunan diperbarui menurut aturan pemerintah di antaranya harus menggunakan atap genting). Tentu yang dimaksud oleh Moh E. Hasim berkisar di sekitar tahun 1930-an.

Demikian pula yang dialami R. Muchtar Affandi. Dalam bukunya (1997), ia menyatakan saat mula-mula datang ke Sagalaherang, Subang (tetapi waktu itu termasuk Purwakarta), pada 1940, sedang berlangsung “woningverbetering”. Dengan catatan, pelaksanaan di tempat tersebut terbilang telat dibandingkan dengan daerah lainnya (“Kaitung rada leuir dilaksanakeunana woningverbetering di Sagalaherang teh, cenah, da ari di wewengkon sejen mah geus leuwih tiheula dilaksanakeunana teh”).

Uraian selanjutnya, hampir sama dengan yang disampaikan Sjarif Amin. Menurut R. Muchtar Affandi, “Puguh wae rahayat teh rame dok-dak kuriak, tumut kana parentah pangagung, nepi ka jadi kacapangan harita mah: ‘jaman woneng’. Teu wudu matak haliwu, lantaran sarerea jadi baroga gawe. Eta aturan anu jolna ti Batawi teh dina raraga numpes hama kasakit pes anu disebarkeun ku beurit” (Tentu rakyat beramai-ramai memperbaiki dan membangun rumah, menuruti aturan pemerintah, sehingga menyebabkan adanya ungkapan ‘jaman woneng’. Menyebabkan kegemparan, karena semua orang jadi punya hajat. Aturan yang berasal dari Batavia itu dalam rangka menumpas hama penyakit sampar yang disebarkan oleh tikus).

Segala bangunan rumah yang umumnya berbentuk panggung dan berbahan bambu harus diganti. Khususnya bambu gelondongan, seperti tiang, darurung, atau iga-iga dinding harus ditutupi, agar tidak menjadi sarang tikus (“Ku ayana aturan woneng, imah rahayat anu bahan luluguna tina awi — enya imah panggung tea – kudu dirombak sabisa-bisa sangkan beurit teu baretaheun nyayang. Sarupaning awi guluntungan, naha rek tihang, darurung, atawa iga-iga bilik, kudu dicocokan, sangkan engkena teu dipake nyayang ku beurit”).

Foto-03

Rumah-rumah hasil rombakan dengan aturan woningverbetering. (Sumber: Bandoeng en de Hygiene (1929))

Dibandingkan ketiga penulis di atas, Tatang Sumarsono dan Erna Garnasih Pirous (2007) mencatat sisi lain dari program perbaikan dan pembangunan rumah itu. Kedua penulis menemukan fakta mengenai penggunaan alat musik angklung, dalam kerangka sosialisasi program pembasmian penyakit sampar, pada akhir tahun 1930-an. Kata mereka, “Hal ini terbukti dengan diikutsertakannya rombongan angklung pada kegiatan yang lebih luas, di antaranya ketika pemerintah melaksanakan program pembasmian penyakit pes”.

Dari uraian keempat buku di atas, saya mendapat kesan bahwa program perbaikan dan pembangunan rumah pada “jaman woneng” (1930-1940) lebih banyak ditanggapi negatif oleh orang Sunda atau meninggalkan kenangan buruk. Kesan jelek itu adalah karena menyebabkan orang Sunda tercerabut dari membuat rumah secara tradisi, yakni ditinggalkannya kebiasaan menggunakan bahan bangunan dari bambu dan atap rumah dari alang-alang serta ijuk. Barangkali dari situ pula kebiasaan menggunakan bahan bangunan dari papan kayu dan atap genting bermula di kalangan orang Sunda kebanyakan, terutama di perdesaan.

Selain itu, kebijakan “woningverbetering” menyebabkan kesengsaraan hidup, hilangnya sifat gotong royong dan kerja sama dalam mendirikan rumah, dan alih-alih menimbulkan sifat tinggi hati dan iri hati dalam pembuatan rumah. Ini dapat dimengerti bila kita melihat kembali jumlah rumah yang diperbaiki dan dibangun kembali selama tahun 1930-1937 (dalam Tabel 54A) yang mencapai ratusan ribu. Dengan jumlah tersebut, bisa melingkupi jutaan orang, yang terpengaruh “woningverbetering” serta punya kesan negatif pada program menangkal wabah sampar yang melanda Jawa Barat.

***

Atep Kurnia, Peminat sejarah dan literasi Sunda.

AYO BACA : Vaksinasi Sampar Tahun 1935

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel terkait

dewanpers