web analytics
  

Pengeboran Sumur Artesis Ancam 3 Sungai di Tasikmalaya

Kamis, 4 Juni 2020 07:00 WIB Irpan Wahab Muslim
Umum - Regional, Pengeboran Sumur Artesis Ancam 3 Sungai di Tasikmalaya, berita tasikmalaya, ayotasik, tasikmalaya hari ini, pencemaran air, pengeboran sumur

Warga menyampaikan kekhawatirannya terkait pengeboran sumur artesis yang mengancam 3 sungai di Tasikmalaya, Rabu (3/6/2020). (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM -- Warga di dua desa, yakni Desa Sukamulih dan Sukaraharja, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya, mengeluhkan kegiatan pengeboran sumur artesis yang dilakukan sebuah perusahaan ternak ayam.

Perusahaan itu berada di Kampung Pangkalan, Kecamatan Sariwangi, tidak jauh dari situs Makam Walahir dan Lokasi Wisata Batu Mahpar.

Warga menilai, lokasi pengeboran tersebut merupakan aliran sumber mata air 3 sungai yang selama ini memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat yakni Sungai Cimerah, Sungai Cikunten, dan Sungai Cimulu.

Jika ada aktivitas penyedotan dilokasi sumber air, maka dipastikan akan sangat berdampak seperti terjadinya kekeringan sumber mata air.

Kehawatiran warga ini pun kemudian disampaikan oleh perwakilan kepada Anton Charliyan, yang merupakan Mantan Kapolda Jawa Barat dan kini pemilik Kawasan Wisata Batu Mahpar.

"Wilayah tersebut merupakan aliran sumber mata air yang menuju Sungai Cimerah, Cikunten, dan Cimulu. Kalau disedot dari atas, maka akan berdampak terjadinya kekeringan sumber air," jelas Abah Uje, warga setempat, Rabu (3/6/2020).

Pertemuan yang dipimpin oleh Aktivis Lingkungan Galunggung (Gasantana), Hadi, ini dihadiri pula Ketua RT 15 RW 07 Kampung Benjan Dindin, Ketua RT 03 RW 03 Budi Santoso, Iwan Wahyu, dan tokoh masyarakat lainnya

"Baik tumbuhan maupun hewan-hewan lainya. Terlebih, kawasan Galunggung ini sekarang sudah jadi Kawasan Geopark yang harus dijaga ekosistemnya maupun budayanya," jelas Hadi.

Padahal, kata dia, kegiatan pengeboran sumur artesis tersebut harus ada Izin dari lingkungan maupun pemerintah. Akan tetapi warga tidak mengetahui apakah aktivitas ini berizin atau ilegal.

Bahkan Dindin dan Budi Santoso, yang merupakam ketua RT dan RW setempat menjelaskan, jika perusahaan peternakan ayam ini tidak pernah berkoordinasi dengan masyarakat terkait pengeboran ini.

"Dengan tegas masyarakat meminta untuk segera menghentikan kegiatan tersebut. Makanya kami semua datang ke Abah Anton untuk minta difasilitasi komunikasi dengan perusahaan. Sebab selama ini kami komunikasi tapi tidak pernah ditanggapi," jelas Dindin.

Sementara itu, Anton Charlian membenarkan telah kedatangan puluhan warga dari kedua desa di Kecamatan Sariwangi. Anton pun akan mencoba untuk memfasilitasi apa yang diharapkan warga kepadanya, baik ke perusahaan maupun ke pemerintah daerah.

"Sehubungan dengan izin pengeboran tersebut, bila memang terbukti berpotensi merusak lingkungan, maka itu bisa masuk ranah pidana tentang perusakan lingkungan. Dimana nanti akan berurusan dengan penegak hukum," tegas Anton.

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/bLciQVkozuc" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers