web analytics
  

Atasi Kelebihan Kalori Usai Santap Hidangan Lebaran

Selasa, 2 Juni 2020 12:45 WIB Netizen Cicin Yulianti
Netizen, Atasi Kelebihan Kalori Usai Santap Hidangan Lebaran, Atasi, Kelebihan, Kalori, Hidangan Lebaran, kuliner lebaran,

Ilustrasi. (Pixabay)

AYOBANDUNG.COM -- Di Indonesia, hari raya Idulfitri sering disebut juga hari Lebaran. Banyak tradisi yang dilakukan masyarakat selama Lebaran. Mulai dari tradisi mudik, bersilaturahmi ke rumah saudara, berbagi THR (Tunjangan Hari Raya) hingga ziarah ke makam.

Lebaran di Indonesia juga identik dengan hidangan khasnya seperti ketupat, opor ayam, rendang atau kue Lebaran sebagai pengisi perut setelah berpuasa selama 30 hari.

Tradisi mudik dan bersilaturahmi ke rumah saudara tahun ini tidak bisa masuk ke list kegiatan yang biasa dilakukan ketika Lebaran. Penyebabnya karena adanya PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Berbeda dengan tradisi di atas, tradisi memasak ketupat, opor atau membuat kue Lebaran masih bisa dilakukan. Namun, beberapa orang kerap kurang memperhatikan pola makan setelah Lebaran karena hidangan-hidangan tersebut yang menggugah selera.

Terlebih di masa adanya pandemi ini, menjaga pola makan sehat menjadi anjuran pemerintah juga.

Dilansir dari halaman www.promkes.kemkes.go.id, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) telah menggaungkan Gerakan Masyarakat Sehat (GERMAS). Gerakan ini dilakukan untuk mengingatkan masyarakat agar senantiasa menjaga kesehatan. Hal ini berkaitan langsung dengan pola makan sehat yang seharusnya diterapkan masyarakat.

Menurut Nitta Isdiany, seorang dosen Jurusan Gizi di Politeknik Kesehatan Bandung, masyarakat kadang tidak memperhatikan pola makan ketika momen Lebaran.

“Ini hari istimewa, keluarga cenderung memilih makanan yang memang tinggi protein, lemak, karbohidrat. Belum kue Lebaran yang manis sekali, ada bolu dan kue-kue kering,” ujarnya, saat dihubungi lewat sambungan telepon, Kamis (28/5/2020).

Kandungan Kalori pada Makanan Khas Lebaran

Nitta menyebutkan, kalori yang terkandung pada beberapa hidangan khas Lebaran di antaranya, pada rendang dengan santannya yang kental kurang lebih mengandung 205 kkal. Untuk opor ayam yang kuahnya banyak, mengandung kurang lebih 200 kkal. Lalu untuk tiga potong kue nastar, kalorinya sama dengan satu porsi nasi atau sekitar 175 kkal.

Nitta pun menjelaskan bahwa masyarakat harus mengingat jumlah kebutuhan kalori per harinya. Kebutuhan kalori untuk pria dewasa sebesar 2250 kkal, sedangkan bagi wanita dewasa sebesar 2100 kkal. Untuk anak-anak, kalori yang dibutuhkan yakni sekitar 1700 kkal. Adapun remaja, mereka membutuhkan kalori sebesar 2000 kkal karena sedang dalam masa pertumbuhan.

Jika pola makan ketika Lebaran ini terus-menerus terjadi, maka akan menyebabkan datangnya penyakit pada tubuh.

“Pada orang dewasa, ini akan menjadi masalah. Lama-lama tubuh akan merespons terhadap kelebihan berat badan tersebut. Ada gangguan-gangguan fungsi organ dan menimbulkan berbagai macam penyakit. Salah satunya yang terkait dengan pola makan yang salah adalah penyakit diabetes miletus,” ujar Nitta.

Tips Menjaga Pola Makan Sehat Setelah Lebaran

Dari banyaknya hidangan yang bisa disantap selama atau setelah Lebaran, banyak orang yang masih mengabaikan efek dari kelebihan dalam menyantap makanan tersebut.

Terlebih, ketika masa pandemi seperti ini, pola makan sehat pun harus tetap dijaga. Dalam meninjau acuan menentukan pola makan sehat, bisa dilihat Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang.

Nitta juga menyampaikan beberapa tip dalam menjaga pola makan sehat setelah Lebaran.

Pertama, komitmen kepada diri. “Kalau komitmennya ingin hidup sehat, maka kita harus menjaga imunitas tubuh lebih baik di samping mewabahnya Covid-19 ini. Artinya kembali lagi, yaitu melakukan pola makan sehat yaiu pola makan yang mengandung gizi seimbang,” tuturnya.

Kedua, modifikasi perilaku. Menurut Nitta, hal ini memang sulit dilakukan oleh banyak orang. “Ini sulit. Contohnya, kalau makan kita punya kebiasaan makan sambil nonton, berkumpul atau menggunakan piring besar,” tuturnya.

Namun, dia juga mengimbau agar pola makan setelah Lebaran bisa kembali ke pola makan sehat.

“Kalau konsumsinya hanya pada saat itu, di hari kemdian harusnya sih sudah berubah. Kembali ke pola makan yang seharusnya. Jadi tidak terulang lagi pola makan yang tinggi akan karbohidrat, lemak, protein, rendah serat,” katanya.

Ketiga, menambah aktivitas fisik. “Teknik olahraga paling bisa mengeluarkan energi dan lemak dalam tubuh. Itu cepat sekali untuk menurunkan berat badan,” tutur Nitta.

***

Cicin Yulianti, Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel terkait

dewanpers