web analytics
  

Nasib Ketupat di Tengah Pandemi

Senin, 1 Juni 2020 13:14 WIB Netizen Meuthia Novianthree Nafasya
Netizen, Nasib Ketupat di Tengah Pandemi, Nasib Ketupat, Tengah, Pandemi, pandemi corona, pandemi covid-19,

Ketupat. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

AYOBANDUNG.COM -- “Minal Aidizin Wal Faidzin mohon maaf lahir dan batin, selamat menikmati ketupat dan opor ayam. Awas jangan terlalu banyak nanti kolestrol!”, penggalan pesan broadcast WhatsApp untuk mengucapkan selamat hari lebaran kepada umat muslim.

Lebaran menjadi momen yang paling dinantikan oleh umat muslim di seluruh dunia. Tayangan televisi dipenuhi oleh siaran berita mengenai kemacetan di mana-mana. Masyarakat kota berbondong-bondong mudik ke kampung halaman untuk merayakan lebaran bersama keluarga.

Ketupat menjadi salah satu hal yang paling dinantikan saat lebaran, tak lupa dengan opor ayam. Terbuat dari anyaman daun kelapa (janur) yang diisi dengan beras, ketupat menjadi menu keharusan bagi sebagian orang.

Dikutip dari laman kumparan.com bahwa ketupat pertama kali diperkenalkan pada abad ke-15 oleh Sunan Kalijaga ketika masa syiar Islamnya di Demak. Sunan Kalijaga juga memperkenalkan dua tradisi yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Pada kedua momen tersebut, ketupat menjadi menu hidangan utama.

Di berbagai daerah, ketupat memiliki nama dan makna yang berbeda pula. Contohnya Jawa Barat, orang Sunda menyebutnya dengan “Kupat” yang artinya manusia tidak diperbolehkan untuk mengumpat, membicarakan hal buruk mengenai seseorang.

Ketupat sudah menyebar ke negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Hal tersebut disebabkan oleh penyebaran agama Islam diikuti dengan memperkenalkan ketupat menjadi tradisi perayaan lebaran.

Pasar akan dipenuhi dengan penjual ketupat di setiap sudut, ada yang menjual janurnya saja atau bahkan yang langsung berbentuk ketupat. Masyarakat antusias menyambut lebaran dengan ditandai adanya ketupat sebagai menu hidangan utama. Ketupat terasa lebih nikmat apabila disantap bersama keluarga.

Hal tersebut disetujui oleh Imas Sumaryati (70), keluarganya akan berkumpul dan menyantap ketupat disandingkan dengan opor ayam. Lebaran kali ini terasa berbeda, ia hanya memasak sedikit ketupat. Tidak semua keluarganya dapat berkumpul karena pandemi Covid-19.

Kesekian kalinya Covid-19 menjadi biang permasalahan. Pemerintah melarang masyarakat untuk tidak mudik dengan alasan agar memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Akan tetapi tidak sedikit masyarakat yang masih nekat mudik.

Alternatif

Imas berniat pergi ke pasar Banjaran, yang ada di Kabupaten Bandung untuk membeli ketupat. Dia mengira pasar akan sepi karena adanya larangan pemerintah untuk tetap di rumah, namun kenyataanya terbalik. Pasar ramai dan terjadi kerumunan demi membeli ketupat.

“Pagi-pagi saya pergi ke pasar niatnya mau beli ketupat yang sudah dianyam, namun saya kaget ternyata pasar seramai itu dan banyak orang antri buat beli ketupat,” kata Imas saat diwawancarai melalui telepon, (27/5/2020)

Daun pisang menjadi alternatif karena tidak adanya daun kelapa. Walaupun memakai daun pisang, rasanya tetap enak dan lebih mudah dimasak tidak perlu menunggu lama. Ketupat daun pisang yang dibuat Imas tetap habis disantap anak dan cucunya yang berkunjung.

“Biasanya pakai janur, saya ganti jadi pakai daun pisang. Hanya bentuknya saja yang berbeda untuk rasanya tetap sama dan bahkan lebih enak. Kalau pakai janur perlu waktu lama supaya matang, tetapi kalau pakai daun pisang bisa lebih cepat matang,” kata Imas.

Proses pembuatannya pun mudah dan anti gagal karena beras akan dimasak sampai setengah matang ditaburi garam agar terasa gurih. Nasi setengah matang tersebut dibungkus pakai daun pisang seperti membungkus pepes ikan. Perlu waktu sekitar satu jam agar matang sempurna.

Membuat Sendiri

Mengambil janur langsung dari pohonnya dan dianyam sendiri bisa menjadi alternatif lain, seperti yang dilakukan Dewi Rahmah (20). Dia hanya perlu mengambil janur dari pohon kelapa yang ada di sekitaran rumahnya.

Tingginya penyebaran Covid-19 di Indonesia mengharuskan Dewi untuk tidak keluar rumah demi membeli ketupat. Dia bersama keluarganya bergotong-royong mempersiapkan menu hidangan Lebaran. Dia tidak hanya dengan keluarga kecilnya, namun keluarga besarnya pun ikut berkumpul karena rumah mereka yang saling berdekatan.

“Karena ada pandemi Covid-19 jadi saya ngga bisa keluar rumah, jadinya lebih milih buat bikin sendiri kebetulan ada pohon kelapa di dekat rumah. Selain bikin ketupat, saya dengan keluarga juga masak-masak menu yang lain. Kita juga masaknya bareng-bareng di satu rumah, kebetulan rumahnya dekat semua” kata Dewi saat diwawancarai melalui WhatsApp.

Sekitar 2-3 orang akan menganyam janur menjadi ketupat dilanjutkan oleh Dewi dan saudaranya yang lain untuk diisi beras. Para ibu dikeluarganya menyiapkan menu masakan lainnya. Sop tulang sapi menjadi menu andalan yang cocok disantap dengan ketupat.

Ada begitu banyak alternatif yang dapat dikreasikan agar tetap dapat menghidangkan ketupat saat perayaan lebaran. Ketupat masih tetap dan akan terus menjadi menu khas lebaran sekalipun ada pandemi Covid-19 yang sedang merajalela di seluruh pelosok negeri.

***

Meuthia Novianthree Nafasya, Mahasiswa Program Studi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel terkait

dewanpers