web analytics
  

Warga Perlu Disiplin Jalankan Protokol Kegiatan Produktif Saat New Normal

Senin, 1 Juni 2020 09:22 WIB Fira Nursyabani

Ilustrasi new normal. (Ayobandung.com/Attia Dwi Pinasti)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Indonesia siap menerapkan masa adaptasi kebiasaan baru (new normal). Untuk memasuki masa new normal itu, menurut Wimar Witoelar, perlu peran aktif warga negara untuk disiplin menjalankan protokol baru di masa pandemi Covid-19. 

Kedisiplinan itu dinilai akan ikut mendorong keberhasilan penanganan pandemi Covid-19 yang anggarannya cukup minim sementara aktivitas produktif di luar rumah diharapkan bisa berjalan aman.

Pemerintah hanya menganggarkan kurang dari 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sangat jauh jika dibandingkan dengan Jerman yang anggarannya mencapai 40% dari PDB.

"Pemerintah tentu punya kekurangan, tapi kita sebagai warga negara perlu membantunya dengan disiplin, nurut sama protokol yang ditetapkan pemerintah," ujar juru bicara presiden di masa Presiden Abdurrahman Wahid itu.

Wimar berbicara di diskusi webinar di acara halalbihalal Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) yang diadakan melalui zoom meeting Minggu (31/5/2020) malam, dari pukul 19.00 WIB hingga 23.00 WIB.

 

Whats-App-Image-2020-06-01-at-9-01-30-AM

Halalbihalal Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) yang diadakan melalui zoom meeting Minggu (31/5/2020) malam. (dok. PMB)

 

Hadir dalam diskusi webinar itu selain Wimar ada Rahmat Witoelar (mantan dubes), Hendarmin Ranadireksa (aktivis prodemokrasi), Masli Mulia (mantan dirut Samudra Indonedia), Ade Indira Sugondo (mantan anggota DPR), Jeffrey Mulyono (mantan ketua umum Asosiasi Pertambangan Indonesia), Hilmi Panigoro (dirut Medco), Ahmad Ridwan Tento (sekjen GINSI), Ria Dewi Eryani (dosen Psikologi Unisba), Wan Abbas (pengurus PRSSNI Jabar), Roy Rondonuwu (dosen Fikom Unpad), Harris Harlianto (kepala IVF Bandung Fertility Center), Syafiril Erman (penulis novel Kepundan), Priyantono Oemar (wartawan Republika), Nadia Rahmawati (pegiat Komunitas Keluarga Masa Kini).

Diskusi dibuka oleh Ketua PMB Gusman Maulana dan dipandu oleh pengurus PMB, Cici Citra Wati.

Pelaksanaan new normal diakui Nadia Rahmawati masih menjadi kekhawatiran para orang tua. Terutama di bidang pendidikan.

Karena itu, ia berharap pelaksanaan new normal bisa dilakukan secara bertahap. Sekolah bisa dibuka jika kurva pasien benar-benar sudah landai, sehingga mengurangi risiko penularan pada anak-anak.

Menaati protokol, menurut Jeffrey Mulyono, menjadi syarat mutlak dalam pelaksanaan new normal. Jeffrey yang pernah positif Covid-19 menegaskan perlunya disiplin jaga jarak, pakai masker, dan rajin cuci tangan.

"Saya baru sembuh setelah 42 hari dirawat. Kenanya mungkin karena sering menyentuh benda di tempat umum. Waktu itu saya tak rajin cuci tangan meski sudah pakai masker dan jaga jarak," ujar Jeffrey.

Modal Jeffrey untuk sembuh adalah semangat. Stres justru akan memperparah kondisi.

Kondisi psikis, menurut Ria Dewi Eryani, perlu terus dijaga agar tidak stres. Ada banyak kondisi yang membuat orang stres, namun Ria Dewi menyarankan perlu dihindari. Bersemangat, menghindari stres, menjadi salah satu peningkat imunitas tubuh.

Jeffrey mengakui, berpikiran positif dan bersemangat dapat mengalahkan virus selama masa perawatan. Semangat itu muncul salah satunya dari pergaulan dengan tenaga medis yang merawatnya. 

"Mereka itu bukan siapa-siapanya pasien, tetapi dengan keterbatasan APD mereka menyiapkan diri tertular 24 jam merawat pasien demi kesembuhan pasien," ujar Jeffrey. Karena itu, begitu ia sembuh ia segara mengajak teman-temannya memberikan bantuan APD untuk tenaga medis.

Kepedulian sosial ini juga menjadi kekuatan bangsa ini untuk bersama-sama menghadapi mas sulit selama pandemi.

"Ketika pengusaha di Jakarta diajak untuk membantu penyediaan kamar hotel bagi tenaga medis, sambutannya luar biasa, sehingga bisa menyediakan kamar-kamar hotel dekat rumah sakit, agar tenaga medis bisa melindunginya keluarganya dengan cara tidak perlu pulang ke rumah," ujar Hilmi.

Di masa wabah pes, menurut Priyantono Oemar, dokter Tjipto Mangoenkoesoemo sampai perlu berteriak agar semua warga negara dilibatkan dalam perang melawan wabah pes dengan cara meminta pemerintah mengumpulkan pajak wabah, sehingga warga di daetah yang tak terkena wavah pun bisa membantu daerah yang terkrna wabah.

Usulan itu dilontarkan katena pemerintah Hindia Belanda membiarkan warga di daerah yang terkena wabah berswadaya mengatasi sendiri.

Memasuki masa new normal, diperlukan sikap adaptif dengan mengedepankan keselamatan.

"Dengan karyawan 14.000, selama pandemi Covid-19 ini Medco bisa menerapkan kerja dari rumah karena data sudah ada di database yang bisa diakses dari mana saja, sehingga yang bekerja di kantor atau di lokasi operasi bisa kurang dari 50%," ungkap Hilmi.

Medco sudah menyiapkan sistem kerja ini sejak dua tahun lalu.

Cepat atau lambat, suka tidak suka, kata Hendarmin Ranadireksa, masyarakat akan menjalani masa new normal karena pandemi Covid-19 entah sampai kapan berakhir ketika vaksin belum ditemukan.

Menurut Priyantono Oemar, bangsa Indonesia pernah mengalami kondisi serupa dengan situasi berbeda ketika terjadi wabah pes yang bermula dari 1911 hingga 1930-an. Vaksin pes baru ditemukan Dr Otten pada 1934.

"Di masa wabah yang cukup lama itu, saat itu orang-orang juga perlu beradaptasi dengan keadaan baru. Orang-orang yang bepergian harus terbiasa didisinfektan dan dikarantina sebelum bertemu orang lain di tempat tujuan," ujar Priyantono.

Maka, di masa new normal nanti, yang perlu diutamakan adalah kegiatan yang produktif. Berbondong-bondong pergi ke mal atau pergi makan di kafe, menurut Priyantono, bukanlah kegiatan produktif, sehingga sebisa mungkin dihindari.

Memang dibandingkan dengan pasar tradizional, mal bisa jadi lebih terjaga pengawasannya karena ada petugas pengukur suhu dan pengendalian jumlah pengunjung. Hal yang belum dilakukan di padar tradisional.

"Saya beberapa kali mencoba keluar-masuk pasar tradisional, tak ada peneriksaan suhu, tak ada penjarakan kios. Pengunjung bisa berdesakan di pasar tradisional," ujar Priyantono.

Menormalkan kembali aktivitas produktif di luar rumah dinilai akan segera memulihkan ekonomi.

"Kelemahan kita selama ini adalah nilai ekspor kita yang rendah, namun di masa pandemi negara-negara yang nilai ekspornya tinggi menjadi tak berdaya juga. Sementara kita bisa bertahan. Domestic driven economy menjadi kekuatan kita saat ini untuk bangkit kembali," kata Hilmi.

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/3Zbv7KHomwM" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>

Editor: Fira Nursyabani

artikel lainnya

dewanpers