web analytics
  

Menilik Potensi Proyek Strategis Nasional Drone dengan Pesawat Berpenumpang

Minggu, 31 Mei 2020 18:45 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Miniatur pesawat R80 ditampilkan pada Jabar Habibie Festival. (Republika/Edi Yusuf)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Pandemi Covid-19 tampaknya ikut berimbas pada prioritas pemerintah terhadap proyek strategis nasional (PSN).

Melalui rapat terbatas kabinet yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi), Jumat (29/5/2020), pemerintah memutuskan untuk menghapus 2 proyek pengembangan pesawat dari daftar PSN, yakni R80 dan N245.

Dua proyek ini sedianya warisan Presiden ketiga Republik Indonesia BJ Habibie. 

Menurutnya, kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap pesawat dan produk dirgantara lainnya akan terus meningkat setiap tahunnya melihat potensi dan kapasitas ekonomi domestik yang besar.

Namun kini sebagai gantinya, pemerintah Indonesia menambahkan 3 proyek drone atau pesawat tanpa awak dalam PSN 2020-2024 ini. Konon, pengalihan proyek pesawat dengan awak menjadi teknologi drone ini dianggap lebih cocok dengan situasi saat ini.

Pengamat penerbangan dari Jaringan Penerbangan Indonesia (Japri), Gerry Soejatman mengaku cukup menyayangkan N245 dikeluarkan dari susunan PSN. Namun dia pun enggan terburu-buru dalam menilai. 

Dia meyakini PTDI sebagai perusahaan plat merah tak akan lepas tangan dalam pengembangan N245. Apalagi, Gerry menilai pengembangan N245 dinilai memiliki potensi sama besarnya dengan proyek N219.

Seperti diketahui, N219 adalah pesawat multifungsi yang juga sedang dikerjakan oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI). N219 dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan transportasi udara nasional di wilayah perintis yang dapat digunakan untuk berbagai macam kebutuhan, seperti angkutan penumpang, angkutan barang, maupun ambulan udara.

whatsapp-image-2017-08-16-at-192700-1
Pesawat N219 berhasil mengudara dalam tes uji terbang di Landasan Bandara Husein Sastranegara pada Rabu (16/8/2017). (dok. Ayobandung.com)

N219 telah melakukan uji terbang perdana pada 16 Agustus 2017. Saat ini pesawat tersebut masih menjalani serangkaian pengujian sertifikasi. Proses sertifikasi merupakan proses penting untuk menjamin keamanan dan keselamatan karena akan digunakan oleh customer dan masyarakat umum.

"Saya pribadi sedih N245 dihentikan. Namun ini bukan berarti PTDI tidak akan mengembangkan N245. Hanya saja tidak mendapatkan prioritas dukungan dari pemerintah. Saya cukup yakin jika N219 berhasil dikomersilkan maka pengembangan N245 hanya akan tunggu waktu saja. PTDI saat ini masih dalam tahap sertifikasi N219, dan lebih baik fokus ke penyelesaian sertifikasi, lalu ke pemasaran N219," Kata Gerry kepada Ayobandung.com, Minggu (31/5/2020). 

Sementara itu, Gerry menilai, untuk proyek pesawat R80 yang telah dikeluarkan dari PSN ini sejatinya masih memiliki kesempatan pengembangan dengan sokongan swasta.

Pengembangan proyek R80 dikerjakan oleh PT Regio Aviasi Industri (RAI) yang merupakan perusahaan bentukan Habibie bersama putranya Ilham Akbar Habibie. Untuk proyek ini, Gerry menyebut, pemerintah bisa turut membantu untuk memudahkan perijinan, tax breaks, dan lain-lainnya.

"Kalau R80, masih panjang sekali perjalanannya. Pengembangan R80 akan memakan dana miliaran dolar, dan ini proyek swasta. Saya rasa R80 tidak perlu ada di Proyek Strategis Nasional. Tetapi pemerintah baiknya tetap memberi dukungan non-moneter lainnya seperti kemudahan perijinan, tax breaks, dan lain-lainnya, karena jika berhasil, diharapkan dapat menjadi sumber devisa ekspor juga sama seperti N219," katanya Gerry.

Proyek pesawat R80 digadang-gadang menjadi pesawat regional turbopop dengan kapasitas terbesar. R80 diklaim mampu memuat 80 hingga 90 penumpang di saat pesawat regional turbopop lainnya hanya mampu mengangkut 72 penumpang.

Fungsi R80 sangat cocok untuk kondisi di Indonesia sebagai negara maritim. Pengembangan pesawat ini sebenarnya diproyeksikan dapat menjadi pengumpan pesawat jarak jauh.

Namun Gerry mengakui, kompetitor R80 kapasitasnya tidak terbatas pada 72 penumpang. Gerry mencontohkan, ATR72-600 bisa mengangkut 78 penumpang. Ada juga Dash8-Q400 yang mampu mengangkut antara 82 hingga 90 penumpang.

Namun menilik pengoperasian pesawat di Indonesia, Gerry menyebut, maskapai di Indonesia tidak ada yang mengoperasikan Dash8-Q400 yang lebih canggih dan performa lebih gagah dibanding ATR72. Indonesia sekarang ini dikenal sebagai pasar terbesar bagi ATR72. Hal ini lantaran, lanjut Gerry,  biaya operasi ATR72 murah.

"Maskapai lebih mementingkan biaya operasi yang murah dibanding kecanggihan dan kemutakhiran pesawat. Di dunia sendiri, ATR72 jauh lebih laku dibanding Dash8-Q400. Karenanya, membuat pesawat adalah sebuah tantangan, tetapi menjualnya dan memelihara pesawat adalah tantangan yang lebih besar lagi," kata Gerry.

Di sisi lain, Gerry menilai, teknologi drone intai terus berkembang di Indonesia. Buktinya komponen sistem bikinan dalam negeri telah diciptakan. Bahkan dia menyakini hal ini masih bisa ditingkatkan lagi bila ada keseriusan semua pihak.

"Indonesia juga sudah punya yang bikin sensor intainya, lalu control system untuk dronenya. Dan industri komponen-komponenya bisa lebih kecil atau investasi lebih kecil dibanding untuk pesawat penumpang," Katanya.

ayobdg-pemanfaatan-drone-guna-mitigasi-pergerakan-tanah-kavin-faza-3
Ilustrasi drone. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Selain itu, Gerry meyakini pemerintah maupun pihak swasta telah membangun program riset yang fokus untuk pengembangan teknologi pesawat nirawak ini. Karenanya untuk proyek ini dirinya meyakini, bisa berpotensi didukung dari berbagai pihak.

"Jadi tidak tergantung 100% sama dukungan pemerintah. Pasar drone intai juga tidak terbatas pada aplikasi pertahanan, tetapi juga untuk penginderaan jauh untuk sektor-sektor lainnya. Kalau berhasil, kita bisa memiliki teknologi drone yang tidak tergantung dengan teknologi luar. Dan ini penting untuk ketahanan nasional," katanya.

Gerry juga menilai, potensi ekosistem industri drone intai di Indonesia sudah menunjukkan geliat. Bahkan proyek pengembangan pesawat nirawak ini bisa menjadi salah satu industri menjanjikan untuk dalam negeri lantaran didukung perkembangan teknologi drone yang terus meningkat.

"Untuk drone intai ini, kepentingan kita bukanlah sekadar lebih canggih, tetapi potensi membangun ekosistem industrinya di dalam negeri lebih memungkinkan. Dan memang untuk teknologi pengintaian, Indonesia harus bisa mengurangi ketergantungannya terhadap produk-produk impor," ujar Gerry.

 

Editor: Fira Nursyabani

artikel lainnya

dewanpers