web analytics
  

Bolehkah Salat dalam Keadaan Darurat Najis?

Jumat, 29 Mei 2020 09:39 WIB
Umum - Ramadhan, Bolehkah Salat dalam Keadaan Darurat Najis?, Ramadan, Hikmah Ramadan, Kajian Ramadan, Nabi Muhammad saw, salat

Warga melakukan salat Asar di selasar masjid, Jalan Ganeca, Kota Bandung. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Apabila seseorang dalam keadaan tidak bisa menghilangkan najis dari badannya, sementara waktu salat hampir habis. Maka apa yang harus dilakukan?

Ustaz Galih Maulana dalam buku Syarat Sah Shalat Mazhab Syafi’i yang diterbitkan Rumah Fiqih Publishing menjelaskan, orang yang dalam keadaan tidak bisa menghilangkan najis dari badannya sementara waktu salat hampir habis, maka yang harus dilakukannya adalah salat sebagaimana biasanya.

Salat tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada waktu salat. Jangan sampai terlewat waktu salat tanpa menunaikan salat.

Imam Nawawi mengatakan, "Hukum dari masalah ini yaitu apabila seseorang yang terkena najis di badannya kemudian dia tidak mampu menghilangkan najis tersebut (karena alasan tertentu), maka dia wajib melaksanakan salat sesuai keadaannya sebagai bentuk penghormatan atas waktu salat."

AYO BACA : Masjid Hanya Buat Salat pada Tahap Awal New Normal

Ustaz Galih memberi contoh ketika seseorang yang telah berwudhu pergi ke suatu tempat tapi di sana tidak ada air. Kemudian di tengah perjalanan orang tersebut terkena najis.

Sementara waktu salat akan segera habis dan tidak ada kesempatan membersihkan najis, maka dalam keadaan seperti ini, ia wajib melaksanakan salat sebagaimana biasanya. Nanti setelah orang tersebut mampu menghilangkan najis, salatnyadiulang kembali.

Dari Abu Hurairoh bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Apabila aku memberi kalian perintah akan suatu hal maka laksanakanlah semampu mungkin." (HR. Bukhari Muslim).

Ustaz Galih menjelaskan, dalam konteks ini, ketika salah satu syarat sah tidak mampu terpenuhi bukan berarti kewajiban menjalankan salat pada waktunya menjadi terabaikan.

AYO BACA : MUI: Salat Jumat Wajib Dilakukan Warga di Zona Hijau

Jadi laksanakanlah salat itu bagaimanapun keadaannya semampu mungkin, salat inilah yang kemudian dalam term mazhab syafi'i dinamai sebagai salat li hurmat al-wakti.

Bila najis yang menempel pada tubuhnya sudah berhasil dihilangkan. Maka wajib mengulangi salat tersebut meski waktunya sudah habis. Inilah yang disebut sebagai salat qadha.

Imam Nawawi menyebutkan, "Diwajibkan mengulanginya (ketika sudah mampu menghilangkan najis)."

Begitu juga orang yang memiliki luka yang mengeluarkan darah. Orang dengan keadaan seperti ini juga wajib mengulangi salat. Inilah pendapat paling shahih dalam mazhab Syafi'i.

"Apabila pada luka terdapat darah yang banyak, namun tidak bisa dicuci karena ditakutkan bertambah parah, maka tentang kewajiban mengulangi salat (setelah sembuh) ada dua pendapat yang disebutkan penulis (as-Syairozi), yang paling shohih adalah qoul jadid atau pendapat barunya Imam Syafi'i yang menyatakan wajib." (Al-Majmu' Syarh al-Muhadzab).

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/dIFa8Er_2KE" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>

AYO BACA : Masjid di Luar Makkah Mulai Dibuka 31 Mei

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Fira Nursyabani

artikel terkait

dewanpers