web analytics
  

Pengalaman Warga Bandung Berlebaran di Episenter Covid-19 Dunia

Selasa, 26 Mei 2020 18:07 WIB Nur Khansa Ranawati
Umum - Unik, Pengalaman Warga Bandung Berlebaran di Episenter Covid-19 Dunia, Amerika Serikat, Covid-19, Virus Corona, Covid-19, Warga Bandung Lebaran di Amerika Serikat, Washington DC,

Noviani Lagarde (tengah) harus menghabiskan Idul Fitri 2020 di Washigton DC, Amerika Serikat bersama keluarganya dan membatalkan rencana pulang kampung akibat Covid-19. (Ayobandung.com/Nur Khansa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Noviani Lagarde (37) setidaknya telah dua kali menghabiskan Idulfitri di ibu kota Amerika Serikat, Washington DC. Namun, tahun ini, Novi dan keluarganya harus merayakan lebaran dengan cara yang berbeda.

Sebagaimana yang juga terjadi pada mayoritas negara di dunia, pandemi Covid-19 memaksa banyak orang untuk melakukan berbagai hal dengan protokol yang baru. Bagi Novi, hal tersebut salah satunya adalah dengan melakukan tradisi bermaafan dan memasak makanan khas lebaran dengan tidak beranjak dari rumahnya.

"Setiap lebaran pasti kami masak makanan khas lebaran. Semua bikin sendiri, tidak ada yang beli," ungkapnya ketika dihubungi Ayobandung.com, Senin (25/5/2020).

Dia mengatakan, hal tersebut sedikitnya mampu mengobati rasa rindu dengan kampung halamannya di bilangan Dago, Kota Bandung. Rindu pada kampung halaman tersebut terasa berlipat ketika tahun ini rutinitas Idulfitri para WNI di Washington DC harus dibatalkan demi keselamatan bersama.

"Sebelum Covid-19 biasanya kami bisa salat Ied di community center, mendengar ceramah dan silaturahmi dengan sesama muslim di DC," ungkapnya.

Setelah itu, dia mengatakan, biasanya para WNI kemudian berkumpul di area rumah Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat guna saling bercengkrama. Kegiatan berlanjut dengan makan-makan di rumah dan saling mengundang kerabat dekat.

AYO BACA : 'Malaikat Maut' Berkeliaran di Pantai AS, Peringatkan Soal Corona

"Tahun ini karena ada perintah untuk stay at home, jadi tidak bisa melakukan hal itu semua. Salat di rumah saja, masak makanan lebaran pun hanya dimakan sekeluarga, tidak ada open house," ungkapnya.

Novie yang tinggal bersama suami dan seorang anaknya menyiasati suasana sepi tersebut dengan memutar suara takbir secara daring. Salah satu rekan dekatnya juga menyempatkan diri untuk mengantar kue dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

"Untungnya ada teman yang baik, antar kue ke rumah untuk silaturahmi dan tetap jaga jarak 1,5 meter juga pakai masker," ungkapnya.

Situasi serupa juga dirasakan mayoritas WNI di Washington DC. Sebagai gantinya, KBRI setempat mengundang para warga Indonesia untuk melakukan silaturahmi virtual pada 23 Mei melalui Facebook.

"Video call via Zoom juga lumayan bisa mengobati rindu keluarga dan kampung halaman, meskipun beda waktunya jauh. Perbedaannya sampai 11 jam, jadi harus disesuaikan," jelasnya.

Padahal, tahun ini rencananya Novi dan keluarga akan pulang ke Indonesia untuk berkumpul bersama keluarga di Bandung. Sayangnya, rencana tersebut harus diurungkan untuk alasan kesehatan.

AYO BACA : Tak Takut Corona, Warga AS Masih Asyik Liburan ke Pantai

Tak heran, Amerika Serikat saat ini tergolong sebagai episenter kasus Covid-19 di dunia. Berdasarkan situs Worldometer, hingga hari ini, Selasa (26/5/2020), setidaknya terdapat 1,6 juta penduduk AS yang positif Covid-19. Sementara angka kematian hampir menembus 100 ribu orang, tertinggi di dunia.

"Pengennya sih mudik, tapi daripada beresiko kena Covid-19 di perjalanan dan beresiko menularkan ke keluarga, lebih baik dirumah saja," ungkapnya.

Selain itu, dia mengatakan, pihak bandara setempat juga memberlakukan aturan yang ketat bagi penumpang yang mau bepergian lewat udara. Selain harus memenuhi syarat administrasi pada umumnya, calon penumpang juga harus menyertakan surat bebas Covid-19.

"Amerika Serikat juga memberlakukan travel warning ke sejumlah negara, kalau mau pulang malah repot," ungkapnya.

Sesampainya di bandara di Indonesia pun, sejumlah protkol kesehatan harus dilalui warga yang datang dari luar negeri. Mulai dari surat keterangan sehat, interview, pengecekan, hingga rapid test adalah prosedur wajib yang harus dilakukan.

"Jadi lebih memilih untuk di rumah saja. Lebaran bukan hanya identik dengan mudik dan baju baru, tetapi juga bagaimana kita bisa menjaga silaturahmi dengan peduli terhadap kesehatan diri sendiri dan orang lain," jelasnya.

Distrik tempatnya tinggal pun masih memberlakukan pembatasan kegiatan hingga 8 Juni mendatang. Warga diminta untuk tetap di rumah bila keadaan tidak mendesak, dan harus menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Aturan tersebut diberlakukan sejak akhir Maret lalu.

AYO BACA : Surat Kabar AS Ini Tampilkan Nama 1.000 Korban Tewas Covid-19

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers