web analytics
  

Sosok Guru di antara Dua Dunia

Senin, 25 Mei 2020 17:22 WIB Netizen Drs. Toto Taufikurohman, M.Pd.

Ilustrasi guru. (Pontas)

Tidak lama lagi tahun pelajaran baru akan segera dimulai meskipun masih menunggu keputusan atau kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Saatnya pula para guru segera mempersiapkan rencana pembelajaran setahun ke depan. Pembelajaran yang bukan hanya memuat sejumlah aspek yang mesti dikuasai peserta didik, melainkan juga mesti membangun karakter mereka. Rencana pembelajaran  yang matang dan baik tentu saja mengindikasikan sejauh mana upaya yang akan dilakukan guru untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Sebagai sosok yang patut “digugu” dan “ditiru” seorang guru harus mampu menjaga segenap perilaku, ucapan, atau apapun yang melekat pada profesinya. Pantang baginya berkepribadian di luar kepantasan karena berpengaruh besar terhadap perilaku peserta didik. Surya (2005: 5) menyatakan bahwa guru sebagai tenaga pendidik profesional selayaknya mempunyai citra baik di masyarakat, guru itu ditiru atau diturut atau dicontoh.

AYO BACA : Kisah Guru di Garut, Datangi Rumah Murid yang Tak Punya HP dan TV

Berdasarkan Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, guru dituntut memenuhi kompetensi: pedagogik, kepribadian, sosial, dan professional. Pemenuhan keempat kompetensi itu memungkinkan terwujudnya sosok seorang guru yang benar-benar ideal di mata peserta didik. Seorang guru akan memberikan warna tersendiri terhadap corak peserta didik di masa mendatang.

Seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (baca: internet), peran guru untuk menjaga moralitas anak-anak bangsa secara konsisten, tidak hanya dituntut pada dunia nyata saja tetapi juga kini pada dunia maya, terutama media sosial, seperti WhatsApp, Twitter, Facebook,  Instagram, dan Tik Tok.

AYO BACA : Guru Besar IPB Setuju dengan Langkah Kementan Antisipasi Krisis Pangan

Laporan You Are Social (Agus Tri Haryanto, 2020) menyebutkan bahwa pada tahun 2020 ada 175,4 juta pengguna internet di Indonesia; tumbuh 17% atau 25 juta pengguna dibandingkan tahun sebelumnya. Menariknya, dari 175, 4 juta pengguna internet tersebut, 160 juta pengguna aktif di media sosial. Sejatinya, data pengguna media sosial tersebut dapat dijadikan sarana yang efektif bagi seorang guru untuk menebar nilai-nilai kebaikan. Boleh jadi pemerhati atau pengikut (followers) akun seorang guru di media sosial, sebagian besarnya adalah para peserta didiknya.

Media sosial adalah sarana yang memudahkan seseorang berekspreasi. Tidak ada larangan pula bagi seorang guru mengaktualisasikan aktivitas kesehariannya. Manusiawi jika seorang guru kadang berekspresi seperti orang kebanyakan. Sebuah aktivitas  tertentu di media sosial mungkin pantas bagi sebagian orang, tetapi tidak pantas dilakukan seorang guru. Jadi, berhati-hatilah bermedia sosial jika Anda menjadi seorang guru. Salah satu sifat seorang anak adalah cenderung meniru perilaku orang dewasa.

Drs. Toto Taufikurohman, M.Pd.

Guru MAN 1 Kota Bandung

AYO BACA : Kisah Guru Honorer Bertahan di Tengah Pandemi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

artikel lainnya

dewanpers