web analytics
  

Vaksinasi Sampar Tahun 1935

Senin, 25 Mei 2020 17:05 WIB Netizen ATEP KURNIA
Netizen, Vaksinasi Sampar Tahun 1935, wabah sampar, sampar banjaran, sampar batujajar, vaksin sampar, vaksinasi sampar,

Antena stasiun penerima telepon menghiasi daerah persawahan di Rancaekek. Daerah ini pada tahun 1930-an menjadi tempat berkecamuknya sampar sekaligus menjadi tempat kedua upaya vaksinasinya pada 1935. (Sumber: Tropenmuseum)

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

Salah besar bila menganggap hanya dengan vaksinasi, wabah sampar bisa ditangani secara menyeluruh. Agar efektif, upaya tersebut tetap harus dibarengi dengan program perbaikan rumah, agar tidak menjadi sarang tikus, yang membawa baksil bibit sampar. Pendapat tersebut disampaikan Dokter M.U. Thierfelder, yang diberi tanggung jawab menangani sampar di Kabupaten Bandung (De Koerier, 9 Januari 1935).

Pernyataan tersebut disampaikan seminggu sebelum upaya vaksinasi massal dilakukan di Priangan. Program baru tersebut, setelah diujicobakan di Banjaran dan Batujajar, akan mulai diselenggarakan pada hari Rabu, 16 Januari 1935 mula-mula di Cimahi dan Rancaekek, karena di kedua tempat tersebut, wabah sampar sangat lazim.

Namun, saat itu setelah lebaran, tersiar kabar bahwa banyak orang di Lembang dan Cimahi yang meninggal setelah divaksinasi. Demikian pula, kabar yang diberitakan di Cicalengka. Untuk menangkal kabar bohong itu, penduduk desa-desa dan 20 kampung yang akan divaksinasi dan menghadapi orang yang mati, menikah, menjelang lebaran dan pesta lebaran, diberi penerangan lagi (De Koerier, 14 Januari 1935).

Foto-01-1
Pemandangan daerah selatan Cimahi. Daerah Cimahi menjadi menjadi tempat pertama vaksinasi massal sampar di Priangan pada 1935. (Sumber: KITLV)

Kabar meresahkan tersebut juga terjadi di Sumedang. Karena konon, tiga dari lima orang yang divaksinasi meninggal dunia. Kabar tersebut, katanya, bisa jadi bermula dari dari keluarga tidak semuanya yang divaksinasi, melainkan bergilir. Sebagian-sebagian. Di Bandung, bahkan para pelayan pribumi yang bekerja di hotel memaksa mengundurkan diri karena takut divaksinasi. Ini juga timbul dari ketidakpuasan hasil yang diperoleh dari vaksinasi yang sudah dilakukan di Banjaran dan Batujajar, karena hingga 5 Januari 1935, di sana masih ada 63 kasus kematian akibat sampar, jadi ada 110% kematian di tempat vaksinasi dibandingkan dengan tempat yang belum diselenggarakan vaksinasi (De Locomotief dan Het Nieuws van den Dag, 15 Januari 1935).

Dalam praktiknya, vaksinasi besar-besaran memang mula-mula dilakukan pada 16 Januari 1935 di empat onderdistrik di Priangan, yakni di Cimahi dan Rancaekek (barat dan timur Bandung), masing-masing satu onderdistrik di Garut dan Tasikmalaya. Namun, meski sebagian-sebagain yang divaksinasi, ternyata vaksinnya kurang, sehingga harus dibuat lagi. Oleh karena itu, vaksinasi massal ditunda lagi selama seminggu (Het Nieuws van den Dag, 16 Januari 1935).

Sebelum pelaksanaan vaksinasi massal, dalam rapat 15 Januari 1935, Dewan Kabupaten Bandung memberikan ucapan selamat dan terima kasih kepada Dokter Otten. Sebagai jawabannya, pada 17 Januari 1935, Dokter Otten menyampaikan data-data terkait capaian uji coba vaksinasi yang telah dilakukannya di Banjaran dan Batujajar.

Pada 19 Januari 1935, De Sumatra Post melaporkan dana yang dibutuhkan untuk melakukan vaksinasi 2,7 juta orang di Priangan adalah sebesar f. 35.000. Dana tersebut diperlukan untuk menggaji per dokter sebanyak f. 175 untuk tiap bulannya, ditambah tiga perawat yang membantu dokter untuk memvaksinasi 1500 orang setiap harinya. Total untuk gaji sebesar f. 20.000, dan f. 15.000 lagi untuk biaya perjalanan dinas. Pemerintah kolonial menyetujui untuk menambah f. 20.000 dana tambahan untuk menangani sampar.

Kabar lain, setelah vaksinasi dilakukan di Garut, konon menenangkan para penduduk, sehingga ketika bupati Garut dan inspektur sampar berkunjung ke desa-desa, dalam kerangka penanganan sampar, mereka disambut dengan nyanyian kebangsaan Belanda, Wilhelmus (De Koerier, 26 Januari 1935).Memasuki Februari 1935, kekhawatiran akibat vaksinasi terus berlanjut. Di Onderdistrik Ujungberung, orang-orang pribumi berdemonstrasi. Pihak berwenang bertindak, dengan menangkap lima orang penghasut dan membawanya ke Bandung. Pada Jum’at, 1 Februari 1935, di balai desa Rancaekek diselenggarakan vaksinasi sampar, meskipun tidak dipadati oleh pribumi sebagaimana hari pertama dan kedua (De Sumatra Post, 2 Februari 1935).

AYO BACA : Menjajal Vaksin Sampar Anyar

Ini pula yang dikatakan Dokter Thierfelder. Vaksinasi massal difokuskan di Rancaekek, seraya tetap pula dilakukan di Cimahi (De Koerier, 2 Februari 1935). Sejak Senin, 4 Februari 1935, giliran Majalaya yang dihuni 31.000 orang yang divaksinasi sampar. Selain itu, disebutkan bahwa vaksinasi massal berlangsung lancar, karena 100% orang yang ingin divaksinasi bisa diberi vaksin. Bahkan mencapai 115% (De Koerier, 5 Februari 1935).

Atas keberhasilan vaksinasi di Priangan, dr. Park, ketua biro epidemologi untuk masyarakat di Singapura (Epidemiologisch Bureau van den Volkenbond te Singapore) datang ke Bandung dan menemui Dokter Otten di Dienst van Volksgezondheid. Dia menanyakan informasi lebih lanjut ihwal temuan vaksin baru sampar. Namun, meski terjadi penurunan angka kematian akibat sampar di Priangan, Maret dan April 1935 merupakan bulan-bulan hujan lebat, hingga kemungkinan angka kasus sampar akan membengkak lagi, sebelum benar-benar turun karena upaya vaksinasi (De Koerier, 23 Februari 1935).

Hingga 26 Februari 1935 dikabarkan selama lima minggu lebih pelaksanaan vaksinasi massal, sudah ada 200 ribu orang yang sudah divaksinasi. Tiga onderdistrik di Priangan sudah selesai divaksinasi dan empat distrik ditunda pelaksanaannya. Kabar lainnya, di Banjaran rasio kasusnya menjadi 1:4 dan di Batujajar 1:12, sementara di Rancaekek yang sudah dilakukan vaksinasi, angka kematian akibat sampar menjadi nol (Het Nieuws van den Dag dan De Locomotief, 26 Februari 1935).

Hingga pertengahan Maret 1935, angka kematian akibat sampar di Priangan terbilang rendah. Antara 10-16 Maret tercatat ada 114 kematian, sebelumnya antara 24 Februari-2 Maret angka kasusnya mencapai 127 dan antara 3-9 Maret ada 152 kasus kematian. Angka kematian di Ujungberung turun, demikian pula di Cicadas, Buahbatu, Ciparay, Cimalaka, dan lain-lain (De Sumatra Post, 28 Maret 1935).

Namun, menjelang akhir Maret, angka kasus sampar di Priangan meningkat lagi. Angkanya naik menjadi 147 kasus antara 24-30 Maret 1935 (De Locomotief, 6 April 1935). Awal April 1935 mulai urun lagi, dengan catatan 91 kematian dan antara 14-20 April 1935 di Bandung dan Sumedang hanya ditemukan 57 kasus. Di daerah Bandung, yang masih banyak terjadi adalah di daerah Pameungpeuk. Dan di kota Bandung sendiri, meskipun vaksinasi tersebut bersifat suka rela, tetapi penduduk dari desa-desa berkerumun di belakang bioskop Luxor untuk bertanya dan mendapatkan vaksinasi sampar (De Locomotief, 27 April 1935).

Pada awal vaksinasi massal bulan Januari 1935, ada juga peristiwa penolakan yang dilakukan oleh pembantu yang merawat kebun, yang bekerja pada seorang letnan dua zeni Van Der Vliet di Cimahi. Konon, di kamar pembantu tersebut ditemukan brosur-brosur menghasut, yang ditulis dengan menggunakan tinta merah, dan sebagaian masih dalam bentuk coretan-coretan pensil. Isinya mengancam: barangsiapa yang mengikuti anjuran untuk divaksinasi sampar, akan ditebas dengan golok. Brosur tersebut ditemukan secara tidak sengaja oleh polisi kemudian direncanakan akan disebarkan ke publik, dengan membuatnya sebagai poster, untuk mengungkap siapa pelakunya. Namun, ternyata, setelah penyelidikan di kamar bujang kebon itu ditemukan brosur-brosur tersebut. Setelah dilakukan penggeledahan, pembantu tersebut mengaku bahwa ia melakukannya karena ia yakin bahwa orang-orang pribumi akan mati bila disuntik vaksin sampar.  Setelah diadili, si bujang kebon dijatuhi hukuman 18 bulan bui (Algemeen Handelsblad, 11 Mei 1935).

Pada 20 Mei 1935, Het Nieuws van den Dag mengabarkan vaksinasi sampar mengalami stagnasi, karena kekurangan vaksin. Vaksinasi massal di Bandung ditunda dulu selama seminggu, sejak tanggal tersebut. Kekurangan vaksin tersebut adalah untuk daerah Pameungpeuk, Cicadas, dan Bandung sendiri, karena butuh banyak vaksin, karena sebelumnya mengalami kegagalan pengiriman. Tapi untuk kabupaten Tasikmalaya dan Garut terus berlanjut.

Minggu ketiga Mei 1935, antara 19-25 Mei, di Bandung dan Sumedang angka kejadian sangat rendah sejak Oktober 1934. Angka kematiannya sejumlah 53 orang, sebelumnya 61 orang, dan antara 14-20 April 1935 sebanyak 57 orang. Di daerah Pameungpeuk yang biasanya tinggi hanya tercatat satu kematian. Angka yang masih tinggi adalah di Tanjungsari dengan tujuh kasus kematian. Di Cipaganti ada lima kasus, dan empat kasus kematian di Lembang, Padalarang, Pacet, dan Pasir Jambu. Sementara tiga kasus ditemukan di Ujungberung (De Indische Courant, 8 Juni 1935).

Memasuki Juli 1935 juga terlihat penurunan angka kasus kematian akibat sampar di Bandung dan Sumedang. Setelah tercatat paling rendah angkanya 28 kasus, kemudian naik lagi menjadi 49 orang, tetapi antara 23-29 Juni 1935 turun lagi menjadi 36 kematian. Angka kematian tercatat selama beberapa minggu di Tanjungsari: 10, 9, 6, 4 lalu 6 orang; di Soreang berturut-turut 0, 1, 2, dan 4 kasus; di Pacet, setelah dua minggu tanpa sampar, kemudian muncul 7 kasus dan turun menjadi 4 kasus; di Buahbatu sebanyak 3, 3, 2, dan 3 kasus (Het Nieuws van den Dag, 9 dan 11 Juli 1935).

AYO BACA : Sampar di Cicalengka, 1932-1935

Karena di Tanjungsari masih banyak ditemukan sampar, maka pada 21 Juli 1935 akan dilakukan vaksinasi lagi. Setelah Tanjungsari dilanjutkan ke Cikeruh. Selain itu, angka kematian di Rancaekek akibat sampar menjadi naik lagi, karena selama dua bulan masih ditemukan kasus sampar (Het Nieuws van den Dag, 13 Juli 1935). Dua hari kemudian, koran yang sama melaporkan angka kematian di Bandung dan Sumedang sebanyak 60 kasus antara 30 Juni-6 Juli 1935, terutama di Tanjungsari, Cikeruh, dan Rancaekek. Koran tersebut, selanjutnya pada edisi 23 Juli 1935, menyebutkan bahwa angka kematian akibat sampar di Sumedang dan Bandung antara 7-13 Juli 1935 turun menjadi 47 kasus. Revaksinasi akan dilakukan di Rancaekek.

Pada 11 September 1935, kantor berita Aneta dari Bandung melaporkan bahwa 93% atau 800 ribu orang penduduk pribumi Bandung dan Sumedang sudah divaksinasi. Dengan kabupaten Tasikmalaya dan Garut, jumlahnya menjadi 1,5 juta orang. Sementara dari sebanyak 22 ribu orang Eropa yang ada di Bandung, hanya 300 orang saja yang dengan suka rela divaksinasi. Orang-orang Eropa tersebut adalah terutama berasal dari para tuan kebun yang sering berinteraksi dengan pribumi. Angka yang masih tinggi terdapat di Cicalengka dan Rancaekek (De Sumatra Post dan De Koerier, 11 September 1935).

Pada 9 Oktober 1935, di Aula Medische Hoogeschool, Batavia, berlangsung sesi presentasi yang menampilkan pembicara dari dinas karantina di Shanghai, Cina, Dr. Wu Lien Teh. Dengan dipandu oleh Van der Plaats, dari Faculteit der Geneeskunde, Dokter Wu mendedahkan pengalamannya selama menangani kasus sampar di Cina sekaligus berterima kasih pada upaya yang dilakukan oleh Dokter Otten, yang menemukan formula baru vaksin sampar (Het Nieuws van den Dag, 9 Oktober 1935 dan De Sumatra Post, 15 Oktober 1935).

Sementara kasus kematian akibat sampar di Bandung dan Sumedang juga terus menurun. Antara 5-12 Oktober 1935 angkanya 34 kasus, turun dari minggu sebelumnya sebanyak 56 kasus, dengan angka terbanyak di Majalaya 9 kasus; kemudian Ciparay 4 kasus; dan Ujungberung 5 kasus. Sementara 11 onderdistrik lainnya hanya ditemukan 1 dan 2 kasus. Kota Bandung bebas dari sampar (Het Nieuws van den Dag, 22 Oktober 1935 dan De Locomotief, 23 Oktober 1935).

Foto-03-1
Waldemar Haffkine (1860-1930), sang penemu vaksin Haffkine. Sebelum ditemukannya vaksin Otten, penanganan sampar di Pulau Jawa antara lain melalui pemakaian vaksin Haffkine, meskipun hasilnya tidak maksimal. (Sumber: Wikipedia)

Pada Kamis pagi, 23 Oktober 1935, Dokter Otten sebagai direktur Landskoepokinrichting en het Insituut Pasteur di Bandung menyampaikan makalah mengenai vaksinasi sampar di Jawa (“De Pestvaccinatie op Java”) pada kongres ilmu pengetahuan ketujuh Hindia Belanda (het Zevene Nederlandsch-Indisch Natuurwetenschappelijk Congres) di Batavia. Ia menceritakan sejarah, perkembangan, serta penemuan vaksin sampar berikut penerapannya. Termasuk penggunaan vaksin Haffkine yang ditemukan Waldemar Haffkine (1860-1930) (De Koerier dan De Locomotief, 26 Oktober 1935).

Pada akhir tahun 1935, angka kasus sampar di Bandung dan Sumedang kembali naik lagi. Antara 8-14 Desember 1935 angkanya mencapai 71 kasus, yang ternyata angka yang lebih besar dengan rata-rata selama dua bulan terakhir dengan angka kasus terbesar sebanyak 52 kasus dan yang terkecil sebanyak 40 kasus. Oleh karena itu, terutama di onderdistrik Cicadas yang antara 14-21 Desember 1935 ditemukan 10 kasus, banyak orang yang pernah kontak diisolasi dan di seluruh kabupaten ada 200 orang yang diisolasi. Sehingga setelah Lebaran akan dilakukan revaksinasi. Selain itu, di Kota Bandung yang sudah dinyatakan bebas sampar sejak Juni, ditemukan lagi kasus sampar yang baru sebanyak 4 kasus (Het Nieuws van den Dag, 24 Desember 1935 dan Algemeen Handelsblad, 27 Desember 1935).

Ternyata meski dari satu sisi, vaksinasi massal terbilang efektif untuk menangani wabah sampar di Priangan, tetapi di sisi lain, angka kasus-kasus tetap masih ada, sehingga harus dilakukan lagi revaksinasi. Barangkali betul, musim hujan dan upaya perbaikan rumah juga turut berpengaruh pada upaya penanganan sampar di Priangan. Kita lihat saja nanti upaya perbaikan rumah, yang dalam khazanah bahasa Sunda dikenal sebagai “jaman woneng”. ***

Atep Kurnia

Peminat literasi dan budaya Sunda.

AYO BACA : Jaarbeurs-Jubileum dan Sampar di Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

terbaru

Hobi Bagaikan Harta Karun

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:40 WIB

Setiap pekerjaan pasti merasakan suka dan duka. Tetapi, dengan dasar hobi, pekerjaan jadi terasa lebih menyamankan.

Netizen, Hobi Bagaikan Harta Karun, Hobi,Harta Karun,Pekerjaan,Menulis

Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:10 WIB

Jika kita terlalu percaya diri maka akan nampak arogan. Di lain sisi, jika tidak punya kepercayaan diri sama sekali maka...

Netizen, Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini, Confident Humility,Hal yang Rumpang,Masa Kini,Filosofi  Hidup,Kepercayaan Diri,Kerendahan Hati

Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 14:30 WIB

Bila ditelusuri, nama-nama geografi itu mengabadikan perkembangan kota, seperti halnya yang terjadi di Kota Bandung.

Netizen, Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung, Sawahkurung,Sawah Terakhir,Pusat Kota Bandung,Sejarah,Geografis

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:36 WIB

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif.

Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:00 WIB

Apakah rumah memang tempat yang aman?

Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 14:23 WIB

Walaupun secara resmi Sony sudah menarik peredaran ponselnya di tanah air, peminat dari ponsel ini justru tidak pernah s...

Netizen, Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat, Sony Xperia,Ponsel,Teknologi,smartphone,Jepang

Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 10:18 WIB

Apa saja kontribusi yang diberikan oleh Kartawinata selama menjadi anggota Perhimpunan Batavia?

Netizen, Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang, Anggota Perhimpunan Batavia,Adat Bengang,Raden Kartawinata,Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW)

Mengapa Mudik?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:55 WIB

Meski kini pemerintah melarang mudik. tradisi mudik ini tidak akan pernah berhenti pada satu generasi.

Netizen, Mengapa Mudik?, Mudik,Larangan Mudik,Mengapa Mudik?

artikel terkait

dewanpers