web analytics
  

Surat Kabar AS Ini Tampilkan Nama 1.000 Korban Tewas Covid-19

Senin, 25 Mei 2020 13:02 WIB

Surat kabar The New York Times yang menampilkan 1.000 nama korban Covid-19 di AS. (Twitter/@nytimes)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Ada yang berbeda pada surat kabar The New York Times edisi 24 Mei 2020. Halaman utama surat kabar itu dipenuhi dengan daftar orang yang meninggal akibat Covid-19 di Amerika Serikat (AS).

Menyadur The Guardian, keputusan tersebut dimaksudkan untuk menyampaikan secara betapa luas dan beragamnya tragedi Covid-19 di AS. Halaman depan berisi daftar nama dan informasi pribadi yang diambil dari obituari di seluruh AS.

Judul utamanya adalah "Kematian AS mendekati 100.000, kerugian yang tak terhitung", dengan sub judul yang berbunyi: "Mereka bukan hanya nama dalam daftar. Mereka adalah kita."

Dalam sebuah artikel Times Insider, asisten editor grafis Simone Landon menjelaskan keputusan tersebut adalah cara untuk mempersonalisasikan kejenuhan pembaca dan staf melihat banyaknya data korban jiwa akibat pandemi di AS.

Landon mencantumkan nama, usia, dan detail pribadi para pasien yang meninggal itu. Seperti contohnya "Alan Lund, 81 , Washington, konduktor dengan 'telinga yang paling menakjubkan".

Tom Bodkin, chief creative officer, mengatakan desain seperti ini belum pernah ia temui selama ia 40 tahun bekerja. "Ini tentu yang pertama di zaman modern," kata Bodkin.

The Times ikut mengunggah gambar halaman utama tersebut di akun media sosial Twitter pada hari Sabtu (23/5/2020) dan dalam beberapa jam langsung diretweet oleh 23.600 dan mendapatkan lebih dari 47.500 likes.

Relaksasi pembatasan dikhawatirkan dapat memicu gelombang kedua virus corona

Senin (25/5/2020) adalah hari libur Memorial Day untuk AS. Beberapa ahli khawatir bahwa kembalinya cuaca yang lebih hangat dan melonggarnya pembatasan di seluruh negara bagian dapat memicu gelombang kedua virus corona.

Pada hari Jumat (23/5/2020) Dr Anthony Fauci, mengatakan wabah lokal baru tidak dapat dihindari karena langkah-langkah mitigasi dilonggarkan. Dia mengatakan gelombang kedua Covid-19 dapat dihindari jika pengujian, karantina dan pelacakan kontak terus dilakukan.

Dr Fauci mengatakan dia berharap bahwa AS akan siap menghadapinya, meskipun sebuah studi baru-baru ini oleh Universitas Harvard menemukan bahwa hanya sembilan negara bagian yang melakukan pengujian minimum yang disarankan.

Beberapa jam setelah Dr Fauci berbicara, Donald Trump mengabaikan peringatan tersebut dan memerintahkan rumah ibadat untuk dibuka kembali pada akhir pekan.

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/cizWvSQ9L5k" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Suara.com.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Fira Nursyabani

artikel lainnya

dewanpers