web analytics
  

2 Bulan Tak Jualan, Pedagang ITC Bandung Jahit Masker hingga Jual Motor

Sabtu, 23 Mei 2020 06:40 WIB Nur Khansa Ranawati
Bandung Raya - Bandung, 2 Bulan Tak Jualan, Pedagang ITC Bandung Jahit Masker hingga Jual Motor, Tak Jualan, Pedagang ITC Bandung, Masker, Jual Motor

Salah satu pedagang pakaian muslim di ITC Kebon Kalapa Bandung, Anton (43) terpaksa kembali berjualan di tengah pandemi untuk memenuhi kebutuhan hidup. (ayobandung/Nur Khansa)

REGOL, AYOBANDUNG.COM -- Sejak Rabu (20/5/2020), para pedagang mal ITC Kebon Kalapa Bandung memutuskan untuk kembali berjualan. Mereka kembali berupaya menjajakan barangnya setelah dua bulan tidak berniaga akibat peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Sebenarnya, para pedagang pakaian dan kebutuhan sandang lainnya tersebut belum boleh kembali melakukan aktivitas dagang bila merujuk pada aturan PSBB Kota Bandung yang diperpanjang hingga 29 Mei 2020. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain.

Berdasarkan pantauan Ayobandung.com, pada Kamis (21/5/2020), para pedagang berjajar membuka lapak dagang di pelataran parkir dan area tangga pintu masuk mal. Operasional  mal ITC sendiri masih tutup, namun pedagang dan pembeli berbondong-bondong melakukan jual beli di luar mal layaknya pasar tumpah.

Hal yang melanggar peraturan tersebut mau tidak mau dijalani Anton (43), salah satu pedagang baju muslim pria di ITC. Kala itu, Anton yang berjualan bersama anak laki-lakinya membawa sebagian barang dagangannya yang digelar dengan gantungan pakaian sederhana.

Anton mengatakan telah absen berjualan selama dua bulan, sebagaimana mayoritas pedagang ITC lainnya. Selama itu pula dia kekurangan pemasukan, dan harus memberhentikan satu orang pegawainya.

"Saya biasanya berjualan di dalam, tapi karena corona ini jadi sudah hampir dua bulan enggak jualan lagi. Saya punya satu karyawan dan sudah dikeluarkan karena tidak ada pemasukan," ungkapnya pada Ayobandung.com.

Anton mengaku merasa bingung setelah dua bulan dipaksa memutar otak agar keluarganya tetap dapat dinafkahi. Pria yang berdomisili di Cibaduyut tersebut memiliki empat orang anak yang masing-masing belum berpenghasilan mandiri.

"Saya punya empat anak, dan tidak dapat penghasilan lagi. Kalau yang kerja kantoran kan masih dapat gaji, kami wiraswasta tidak dapat pemasukan. Pegawai-pegawai toko di ITC saja mungkin sudah ribuan yang dikeluarkan," ungkapnya.

Dia mengaku selama dua bulan tersebut berupaya bertahan dengan memproduksi masker sendiri. Masker non-medis tersebut ditawarkan ke sejumlah kolega untuk dipesan sesuai kebutuhan.

AYO BACA : Salat Idulfitri di Bandung Barat Hanya Boleh 50 Orang

"Ya alhamdulillah untuk nambah-nambah lumayan, ada beberapa yang pesan. Daripada menganggur sama sekali," ungkapnya.

Anton menuturkan, banyak kabar pahit yang harus dihadapi sesama pedagang ITC selama dua bulan belakangan. Salah satu temannya yang juga merupakan pedagang disebut terpaksa menjual motornya untuk biaya hidup.

"Ada teman saya yang juga pedagang di sini sampai jual motor karena enggak ada bekal (pemasukan). Kalau masih ada yang bisa dijual juga saya bakal jual, tapi saya enggak punya yang bisa dijual lagi untuk nutupin biaya lebaran," tuturnya.

Dia yang telah berdagang di ITC sejak 2005 tersebut mengatakan pengalaman larangan berjualan karena pandemi ini merupakan pengalaman pertama yang berdampak besar. Anton dan pedagang lainnya kala itu berharap PSBB di Kota Bandung segera selesai.

"Tapi kenyataannya diperpanjang lagi. Ya sebenarnya aturan PSBB ini penting juga, tapi dampak ke pedagangnya luar biasa," ungkapnya.

Alasan-alasan itulah yang membuat Anton rela berdagang berdesakkan tanpa menghiraukan physical distancing di pelataran ITC. Hal tersebut dinilai lebih baik dibanding harus menganggur dua minggu lagi.

"Yang penting mah pakai masker saja dan jaga kebersihan, bawa hand sanitizer. Takut berlebihan itu enggak boleh juga," ungkapnya.

Anton mengaku selama ini dia dan sejumlah rekan sesama pedagangnya belum mendapat bantuan apapun dari pemerintah. Dia menduga hal tersebut dikarenakan sehari-harinya Anton tidak tergolong sebagai warga tidak mampu.

"Belum dapat apa-apa sama sekali. Ya mungkin karena saya sehari-harinya berdagang jadi tidak masuk kategori yang dapat sumbangan. Tapi kan sekarang dua bulan enggak jualan sama saja susah," paparnya.

AYO BACA : Jelang Lebaran, PSBB di Bandung Barat Mulai Longgar

Dia mengatakan rela untuk tidak berjualan asalkan pemerintah dapat dengan sigap menjamin para pedagang untuk tidak kekurangan pemasukan. Namun, karena hal tersebut dinilai belum sanggup dipenuhi, maka Anton dan rekan-rekannya memilih untuk kembali menyambung hidup meski penuh resiko.

"Makannya menurut saya sih mal-nya dibuka saja, jadi para pembeli juga bisa diperiksa dulu oleh satpam. Pedagang dan pembeli harus pakai sarung tangan, harus sedia hand sanitizer. Kami juga enggak akan keberatan," ungkapnya.

Pemkot Kewalahan
Pemandangan kegiatan belanja yang dipadati warga bukan hanya terjadi di ITC, namun juga di sejumlah pusat perbelanjaan sandang lainnya. Kawasan Pasar Baru hingga Trunojoyo menjadi beberapa destinasi belanja yang diburu warga di tengah pandemi.

Menanggapi permasalahan di ITC, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung Elly Wasliah mengaku telah melakukan pengawasan. Pihaknya telah bertemu dengan manajemen ITC pada Kamis (21/5/2020), dan menyebut membludaknya pedagang di pelataran parkir bukanlah ranah Disdagin.

"Kami panggil manajemen ITC, karena kami urusannya dengan manajemen mal. Kalau dari luar sepertinya gedung buka, padahal para pedagang itu hanya memakai lahan parkirnya saja. Gedungnya tutup," ungkap Elly di Pendopo Kota Bandung, Jumat (22/5/2020).

Dia mengatakan, bila pedagang melakukan kegiatan jual beli di dalam mal, maka pihaknya dapat melakukan tindakan. Oleh karenanya Elly menyebut telah berkoordinasi dengan Satpol PP Kota Bandung untuk menanggulanginya.

"Kemarin kami datang dengan Satpol PP, menanyakan siapa yang memberikan izin mereka dagang di sana," ungkapnya.

Dia juga menyebutkan para pedagang meminta waktu selama empat hari hingga Sabtu (23/5/2020) untuk berjualan. Selepas Sabtu, dia mengatakan, para pedagang berjanji tidak akan berjualan lagi.

"Kami bicara baik-baik, ada 220 pedagang dari dalam gedung ITC. Mereka minta hanya empat hari (berjualan) sampai Sabtu, setelah itu mereka akan patuh tidak akan jualan lagi," ungkapnya.

Sementara itu, Elly mengaku pihaknya belum sempat menyambangi kawasan Pasar Baru yang juga mengalami permasalahan serupa. 

AYO BACA : Pasrah! Satpol PP Cimahi Bolehkan Lapak Pedagang di Jalan Gandawijaya Dibuka

Editor: Andres Fatubun

artikel terkait

dewanpers