web analytics
  

Penukaran Uang Baru Ramai Jelang Lebaran, Bagaimana Hukumnya?

Jumat, 22 Mei 2020 10:57 WIB
Umum - Ramadhan, Penukaran Uang Baru Ramai Jelang Lebaran, Bagaimana Hukumnya?, Ramadan, Hikmah Ramadan, Kajian Ramadan, penukaran uang

Sejumlah pelaku jasa tukar uang di Jalan Belitung, Kota Bandung, Kamis (14/5/2020). (Ayobandung.com/Kavin Faza)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Menjelang Hari Raya Idulfitri 1441 H, tidak jarang warga mencari jasa penukaran uang baru. Berlakunya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tidak menghalangi mereka untuk mendapatkan uang dengan kondisi baik yang memiliki nominal lebih kecil. 

Para penjaja rupiah ini pun mengutip uang jasa dalam penukaran tersebut. Sebagai contoh, uang senilai Rp10.000 yang akan ditukar dengan Rp100.000, konsumen harus membayar uang senilai Rp110.000. Margin Rp 10.000 dikutip oleh pengguna jasa tersebut sebagai untung dari usahanya menukarkan uang.

Ketentuan atau hukum penukaran uang menurut Islam telah tertuang dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf) pada 2002. Namun, hingga kini tak sedikit masyarakat yang belum mengetahui akan hukum tukar uang tersebut.

Kaidah Al-Qur'an dalam Surah al-Baqarah ayat 275 menjelaskan, semua jual beli adalah halal kecuali riba menjadi panduan. Tak hanya terhindar dari riba, jual beli tersebut hanya boleh dilakukan atas dasar kerelaan kedua belah pihak.

Mengenai transaksi jual beli sudah ditentukan 6 barang yang disebut dengan barang ribawi. Barang ini harus ditukar dengan bersamaan jenis, seperti dikutip dari Hadis dari Muslim, Abu Dawud, At Tirmidziy, an- Nasaiy, dan Ibnu Majah.

AYO BACA : Layanan Penukaran Uang Keliling BI Jabar Ditiadakan Tahun Ini

Hanya, memang ada ulama yang mem buat kias akan barang tersebut sesuai dengan kebermanfaatannya.

"(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya'ir dengan sya'ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai."

Di dalam hadis riwayat Muslim lainnya yang dirawikan dari Abu Said al-Khudriy, Nabi SAW bersabda, "Janganlah kamu menjual emas dengan emas kecuali sama (nilainya) dan janganlah menambahkan sebagian atas sebagian yang lain; janganlah menjual perak dengan perak kecuali sama (nilainya), dan janganlah menambahkan sebagian atas sebagian yang lain; dan janganlah menjual emas dan perak tersebut yang tidak tunai dengan yang tunai."

Fatwa MUI menjelaskan, transaksi jual beli mata uang (ash-sharaf) sebenarnya boleh dilakukan. Hanya, ada ketentuan yang harus dipenuhi. Pertama, transaksi tersebut tidak untuk spekulasi alias untung-untungan.

Pada transaksi yang dilakukan terhadap mata uang sejenis, nilainya harus sama dan tunai (at-ta qa budh). Sementara, untuk transaksi yang berlainan jenis mata uang maka harus dilakukan nilai tukar yang berlaku pada transaksi dilakukan dan secara tunai.

AYO BACA : Bahaya Covid-19, Warga Diimbau Tak Tukarkan Uang ke 'Inang-inang'

Sesuai dengan fatwa MUI tersebut, pengamat dan praktisi ekonomi syariah dari IPB University Irfan Syauqi Beik mengatakan, hukum penukaran uang dalam Islam itu diperbolehkan kalau prinsipnya mencakup dua hal. Yaitu, nilai tukar harus sama besar dan transaksi tukar-menukar uang nya harus on the spot atau di lokasi.

Irfan menyatakan, jika kedua prinsip tersebut dilanggar maka dipastikan transaksi atau uang tersebut menjadi riba. Menurut dia, praktik yang mengarah pada riba biasanya marak terjadi di tempat penukaran uang di jalan-jalan.

Contohnya, menukar Rp10.000 dengan Rp8.000. Dia menilainya termasuk jenis riba dan haram meski dengan dalih uang jasa. 

Irfan menambahkan, begitupun halnya jika melakukan transaksi penukaran dengan mata uang asing. Menurut dia, penukaran tersebut harus sesuai dengan nilai kurs yang berlaku saat itu. Jika tidak, itupun tergolong perbuatan riba.

Irfan berharap, masyarakat, khususnya muslim, yang sedang menjalankan ibadah puasa tidak sekali-kali mencoba menukarkan uang dengan cara yang tidak di be narkan oleh aturan Islam. De ngan melakukan praktik riba tersebut, dia menyatakan, bisa jadi seluruh amalan yang dilakukan selama Ramadan jadi pupus.

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/dSj5qikJs_Q" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>

AYO BACA : KPw BI Jabar Siapkan Uang Tunai Rp21,66 Triliun untuk Idulfitri 2020

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Fira Nursyabani

artikel terkait

dewanpers