web analytics
  

Dokter Djundjunan Menangani Penyakit

Rabu, 20 Mei 2020 11:04 WIB Adi Ginanjar Maulana
Bandung Baheula - Baheula, Dokter Djundjunan Menangani Penyakit, sampar, dr djundjunan, jalan dr djundjunan,

Bersama keluarga sebagai dokter di pertambangan Ombilin, Sawahlunto, Sumatra Barat. Sumber: Otobiografi Dokter H. Rd. Djundjunan Setiakusumah (2002) (ist)

AYOBANDUNG.COM -- Di Bandung ada Jalan dr. Djundjunan atau Jalan Terusan Pasteur dan Jalan dr. Djundjunan Dalam yang termasuk wilayah administratif Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Cicendo. Nama jalan tersebut tentu diambil dari nama tokoh kesehatan yang punya andil di Kota Bandung khususnya. Dialah Dokter H. Raden Djundjunan Setiakusumah (1888-1968), salah seorang pendiri Paguyuban Pasundan, Ketua Paguyuban Pasundan Cabang Bandung (1929-1942), Kepala Kesehatan Kota Bandung (1942), Ketua PMI Cabang Bandung (1948-1958), dan lain-lain.

Pada zaman pendudukan Jepang, riwayat ringkas hidupnya pernah dimuat dalam Orang Terkemuka di Jawa (1943). Di situ disebutkan bahwa ia lahir di Ciawi, Tasikmalaya, 1 Agustus 1890. Lulus sebagai dokter dari STOVIA pada 1918. Setelah itu bekerja sebagai dokter pemerintah kolonial di Semarang (1918-1919), Sawahlunto (1919-1921), Talu (1921-1924), dan Semarang (1924-1925). Sebagai dokter pribumi kelas 1 di Purwakarta (1925-1926), Sumedang (1926-1928), dan sebentar ke Serang sebelum kemudian akhirnya ke Bandung (1928). Pada 1939, dia diangkat menjadi dokter kepala pribumi dan pada 1942 menjadi kepala djawatan kesehatan Bandung Si dan memegang urusan pengajaran, latihan rakyat serta pemuda.

Antara 1918 hingga 1930-an, Djundjunan turut serta dalam upaya penanganan dan pemberantasan beberapa penyakit yang berubah menjadi wabah di Pulau Jawa, antara lain flu Spanyol, malaria, dan sampar. Informasi agak rinci dalam upaya pemberantasan penyakit menular tersebut dapat diikuti dari buku memoarnya: Otobiografi Dokter H. Rd. Djundjunan Setiakusumah: Sebuah Kenangan (2002) yang disunting Iskandarwassid.

Foto-03

Sebagai Ketua PMI Cabang Bandung (1948-1958), Djundjunan memberikan sambutan pada acara yang diselenggarakan oleh PMI. (Sumber: Otobiografi Dokter H. Rd. Djundjunan Setiakusumah (2002))

Sebelum membahas pengalamannya, ada baiknya menambah keterangan latar belakang keluarga Djundjunan. Dari naskah memoar yang dikerjakannya pada 1958 itu diketahui bahwa ayahnya Rd. Kanduruan Argakusumah adalah Camat Cimaragas, Kewadanaan Banjar, Kabupaten Tasikmalaya. Ibunya Nyi Rd. Ratnadewi. Ihwal titimangsa kelahirannya, ia menyatakan ada perbedaan. Katanya, “Saya dilahirkan di Ciawi, Tasikmalaya, di Pager Ageung. Menurut catatan ayah, saya dilahirkan pada tanggal 1 Agustus 1888, tetapi menurut catatan sekolah pada tahun 1890”.

Sekolah dasarnya di Sekolah Cibadak, Sekolah Kelas Hiji, dan sekolah Belanda kelas II Bandung, kemudian STOVIA sejak 1908. Pada Juli 1914, ia dan kawan-kawan mahasiswa STOVIA asal Tatar Sunda mendirikan Paguyuban Pasundan. Katanya, “Akhirnya, kami bersepakat untuk mendirikan perkumpulan khusus diisi oleh orang Sunda atau orang yang mencintai tanah Sunda dengan tujuan memajukan derajat dan pengetahuan orang Sunda. Memelihara kebudayaan, kesusastraan Sunda, kesenian, dan sebagainya. Untuk mempersiapkan ini semua, Sdr. Hidayat (sekarang: Prof. Dr. Hidayat) berunding dengan tokoh yang dipertua Daeng Ardiwinata di Paseban, Weltevreden”.

“Setelah mencapai kesepakatan, pada hari Minggu bulan Juli didirikan perkumpulan yang garis besar tujuannya seperti telah diutarakan di atas, diberi nama Paguyuban Pasundan …,” lanjutnya. Adapun susunan awal pengurus Paguyuban Pasundan adalah “Penasihat: D. Ardiwinata; Ketua: Hidayat; Wakil Ketua: Oto Subrata; Sekretaris I: Djundjunan; Sekretaris II: Iskandar; Bendahari: Kusumah Sudjana, dan beberapa pembantu dari KWS. Kecuali D. Ardiwinata dan Oto Subrata, pengurus harian diambil dari klepek”.

AYO BACA : Jaarbeurs-Jubileum dan Sampar di Bandung

Pada 28 Mei 1918, Djundjunan menerima ijazah Indisch Arts dengan tugaspenuh menjalankan geneeskunde (ilmu pengobatan), heelkunde (pembedahan), dan verloskunde (ilmu kebidanan). Mula-mula dia ditempatkan di CBZ Semarang (Juni 1918). Saat itu di Semarang mulai terjadi wabah flu Spanyol (Spaanse Griep). Djundjunan ditugaskan untuk turut menangani wabah tersebut. Padahal pada saat yang sama berjangkit juga penyakit kolera. Dengan ketakutan ikut tertular, dia terus membantu menangani yang terjangkit. Ia harus tiap saat berkumur-kumur agar tidak terinfeksi. Pasien terus mengalir dan mayat-mayat korban terus bertumpuk. Secara bersama-sama, mereka menemukan obat yang mengandung obat panas, batuk, sekaligus obat jantung, untuk menanganinya.

“Setelah lama mencari-cari, kami dapat membuat campuran yang disebut puder influenza. Karena mudah cara pakainya, penemuan ini segera diberitahukan ke pelosok-pelosok. Kemudian puder ini oleh pemerintah dijadikan tablet: tablet influenza, berisi aspirin,” itu dia resep yang digunakan untuk menangani wabah influenza yang sedang mewabah.

Dari Semarang, dia ditugaskan untuk menangani penyakit kolera yang merajalela di Kewadanaan Ajibarang, Purwokerto, Karesidenan Banyumas. Penyuntikan juga dia lakukan di Selokaton, daerah Sukorejo. Setelah itu, Djundjunan diperintahkan untuk menangani wabah flu Spanyol di daerah Maos. Namun, sayang, saat itu obatnya tidak tersedia di sana. Padahal, “Tiap hari banyak orang meninggal. Kampung-kampung kosong. Obat tidak ada persediaan. Memang sangat berat keadaan yang saya hadapi pada waktu itu. Tiap hari bertengkar dengan pegawai Indo dari SS (Kereta Api). Mereka sangat tidak sopan. Asisten-Residen Indo berpihak kepada mereka”.

Malang, ia jatuh sakit panas, batuk, mengeluarkan darah. Ia minta diganti, tapi belum bisa. Untuk sementara dia tinggal di sebuah hotel. Oleh nyonya pemilik hotel, dia diberi nanas untuk obatnya, hingga esoknya dia merasa membaik. Akhirnya ia kembali ke Tasikmalaya untuk penyembuhan. Setelah ditugaskan sebentar ke Demak, Djundjunan ditugaskan menjadi dokter di rumah sakit Ombilin-bedrijf (perusahaan) dan menjadi bedrijf-arts (dokter perusahaan). Di samping sebagai dokter tambang, saya juga diserahi pekerjaan sebagai dokter sipil dan pengawasan penyakit cacar (pengawas vaksin). Dari Ombilin, dia dipindahkan ke Talu, wilayah Lubuksikaping. Di daerah ini dia terlibat dalam pemberantasan wabah frambusia atau patek. Untuk memberantasnya, dari uang iuran perkebunan untuk rumah sakit, dia membeli alat-alatnya dan obat neosalvarsan. Kemudian dia melakukan penyuntikan.

Katanya, “Setelah tersedia keperluan-keperluan untuk itu, saya sediakan dan buat sendiri, dimulailah penyuntikan-penyuntikan di kecamatan Ujunggading di mana jumlah penderita paling banyak. Mula-mula orang-orang itu ragu-ragu, takut takut, jangan-jangan mati karena disuntik. Tetapi, setelah diterangkan agar jangan takut dan bahwa obat ini sungguh obat mujarab, barulah mereka menyerahkan diri. Paling dulu dicoba dengan orangorang yang betul-betul dihinggapi penyakit puru itu, yang paling berat. Setelah, di tempat ini selesai, saya terus turni biasa. Seminggu kemudian saya diminta datang lagi. Pada kunjungan kedua kali ini banyak sekali orang sakit datang. Para penderita yang mendapat pengobatan pada minggu lalu sudah sembuh semua.”

Pada 1923, karena sudah tidak kerasan lagi di Sumatra, Djundjunan minta dipindahkan lagi. Akhirnya dari Talu dia ditarik lagi ke Semarang pada September 1923. Di Semarang ditempatkan di rumah sakit pembantu Tawang. Namun, baik di Talu maupun di Semarang ia terjangkit sakit malaria. Ia meminta pindah lagi. Kemudian dia dipindahkan ke Purwakarta, 1924. Di sana dia banyak menemukan banyak penderita frambusia, seperti di Pagaden Baru, Ciasem, Purwodadi, Pamanukan, dan lain-lain. Orang-orang sakit paling banyak terutama di Plered.

Setelah beberapa bulan bekerja berat di Purwakarta, di dipindahkan ke Sumedang sekitar Maret 1925, karena untuk urusan kesehatan dan rumah sakit diserahkan kepada Medische Zendingcommite Jawa Barat. Seperti di Purwakarta, Djundjunan menemukan para penyakit frambusia di Buahdua, Sumedang. Ia melakukan upaya pemberantasan penyakit tersebut, meski hasilnya tidak begitu memuaskan hatinya.

Pertengahan 1927, Djundjunan dipindahkan ke Serang, Banten. Dia bekerja di rumah sakit dan berkunjung ke kampung-kampung untuk mengampanyekan pentingnya kesehatan. Di sana, Djundjunan banyak menemukan kasus penyakit cacing tambang, karena masyarakatnya suka buang hajat di pekarangan. Oleh karena itu, kampanyenya adalah berupa pembuatan kakus dan kebersihan lingkungan rumah. Sebenarnya kampanye tersebut pernah dilakukan pada 1925, tetapi pada saat Djundjunan dinas lagi di Serang, tidak terlihat efektivitas kampanye tersebut. Kampung-kampung tetap kotor. Selain penyakit cacing tambang, dia juga mendapati banyaknya kasus sakit mata trachoom yang dapat menyebabkan kebutaan. Sebabnya, orang di sana lebih suka menggunakan air kotor di kolam untuk berwudu.

AYO BACA : Sampar di Cicalengka, 1932-1935

“Orang Serang susah sekali untuk didekati. Maka dari itu, usaha-usaha dalam lapangan kesehatan kurang berhasil. Selain dari itu, mereka rupanya sama sekali tidak menikmati kesenangan hidup dan kegembiraan sehari-hari. Hubungan pamongpraja dan rakyat renggang, menurut pendapat saya. Karena tidak ada kesenangan, mereka lebih suka meninggalkan kampungnya, pergi ke Tanjungpriuk atau Lampung,” itu alasan yang diberikan Djundjunan di balik buruknya kondisi kesehatan di Serang.

Menghadapi keadaan demikian, Djundjunan merasa tidak betah. Apalagi Pemerintah Kota Bandung membutuhkan tenaga dokter Indonesia. Karena masih terikat kontrak kerja dengan gubernemen, dia tidak bisa bekerja di Bandung hingga 31 Juli 1928. Jadinya, ia mulai bekerja di Bandung sejak 1 Agustus 1928. Di sini, dia bekerja di Rumah Sakit Kotapraja “Juliana” atau Rumah Sakit Rancabadak (kemudian Rumah Sakit Hasan Sadikin). Di rumah sakit ini hanya ada tiga dokter yang bekerja, termasuk dirinya dan temannya Dokter Rd. S. Tjokrohadidjojo. Mereka mendapat giliran piket di rumah sakit seminggu lamanya.

Foto-02

Pembangunan Rumah Sakit Juliana, Bandung. Sejak 1 Agustus 1928, Djundjunan bekerja di rumah sakit tersebut. (Sumber: ika-fkunpad.org)

Di Rumah Sakit Juliana, Djundjunan bekerja di poliklinik laki-laki. Poliklinik dijaga dokter perempuan Belanda dan bagian kanak-kanak oleh Tjokrohadidjojo. Seminggu dua kali, selama sejam, dia memberikan pelajaran kepada calon-calon perawat. Djundjunan juga merawat pasien di ruang perawatan di bagian penyakit menular, TBC, ruangan anak-anak, dan ruangan untuk perawatan orang gila sementara, dan lain-lain. Hal-hal baru yang dipelajarinya selama bekerja di rumah sakit tersebut adalah pelajaran pengobatan dengan rontgen atau radium, karena pusat kesehatan ini merupakan pusat penanganan segala penyakit tumor (kanker, dan sebagainya).

Karena menangani juga ihwal penyakit menular, Djundjunan turut menangani wabah sampar atau pes yang mulai muncul di Bandung sejak tahun 1929. Menurut penuturannya, dia dapat menentukan soal terjangkitnya penyakit sampar, sehingga dia dikenal sebagai ahlinya.

Katanya, “Waktu di Bandung belum ada suntikan dengan vaksin Otten, terdapat banyak sekali penderita penyakit pes. Sebagai dokter yang bertugas merawat penderita penyakit menular, tentu saja saya pula yang diserahi tugas untuk menangani bagian ini. Begitu pasien yang pertama datang, ditemui dan ditetapkan oleh saya. Karena banyaknya menerima pasen pes, saya disebut ahli dalam menentukan terkena pes atau bukan sebelum ada keterangan laboratorium”.

Hal-hal di atas menggambarkan pelbagai penyakit, termasuk yang mewabah, yang ditemukan dan berbagai upaya yang dikedepankan oleh Dokter Djundjunan, paling tidak hingga bekerja di Rumah Sakit Juliana, Bandung. Selama itu, ia berpendapat bahwa “aneka macam pekerjaan yang bisa menambah pengetahuan dokter”.

***

Atep Kurnia, Peminat literasi dan budaya Sunda.

AYO BACA : Menjajal Vaksin Sampar Anyar

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers