web analytics
  

Cara Rasul Atasi Pandemi

Rabu, 20 Mei 2020 10:08 WIB Netizen Dr. Mukhlis Aliyudin

Ilustrasi. (Pixabay)

AYOBANDUNG.COM -- Sejak diberlakukannya lockdown sampai PSBB dua kali, jumlah korban positif Covid-19 terus bertambah setiap harinya. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat drastis setelah Lebaran. Karena di awal Ramadan sampai menjelang Lebaran, banyak terjadi kerumuman di pasar, jalan-jalan menjelang bedug Magrib, dan arus mudik Lebaran yang tidak bisa dibendung lagi. Masyarakat begitu berat meninggalkan tradisi Lebaran seperti membuat kue, belanja baju, membuat ketupat, apalagi setelah cairnya dana THR masyarakat seperti ada tenaga yang menggerakkannya sampai tidak takut lagi keluar rumah.

Jauh sebelum Ramadan, pemerintah sudah berkali-kali mengingatkan standar protokol kesehatan yang harus ditaati masyarakat agar terhindar dari pandemi Covid-19 dan bisa menghentikan penyebaran virus ini. Misalnya pemerintah mengimbau masyarakat untuk menghindari orang yang sudah terpapar corona. Bahkan tidak hanya itu, pemerintah juga mengingatkan masyarakat untuk tidak berkerumuan atau menjauhi kerumuman, agar tidak tertular dari orang yang sudah positif. Karena kita tidak tahu kalau di antara orang yang berkerumuan itu ada yang sudah, dan virus ini bisa menularkannya dari jarak cukup dekat yaitu sekitar 1,5-2 meter. Inilah mengapa pemerintah juga meminta masyarakat untuk jaga jarak dengan siapapun.

AYO BACA: Virus Corona Covid-19 Menyebar Lewat Makanan Kemasan, Benarkah?

AYO BACA: Cara Buat Masker Anticorona Murah dan Ramah Lingkungan ala Dokter Taiwan

AYO BACA: 8 Cara Mencegah Virus Corona Covid-19 Saat Keluar Rumah

Saran pemerintah ini pernah diperingatkan Rasulullah Saw kepada umatnya, "Larilah dari orang yang sakit lepra, sebagaimana kamu lari dari singa" (H.R. Bukhari dan Muslim). Lari di sini bukan berarti lari sebenarnya, tetapi menjaga jarak dan menghindari orang yang sudah terkena penyakit menular, agar kita tetap terhindar dari penyakit tersebut.

Kemudian tindakan dan saran Rasulullah Saw kepada orang yang sudah tertular penyakit ialah untuk membantunya dengan dukungan moral. Karena orang yang terkena penyakit menular ini, secara psikologis dia akan down, merasa malu dan berdosa, dan khawatir dikucilkan masyarakat.

Di masyarakat kita, ada kebiasaan yang aneh ketika ramai-ramai pandemi Covid-19, yaitu ketika ada orang yang divonis positif oleh pihak kesehatan, masyarakat seperti yang di komando melakukan sanksi sosial terhadapnya. Orang yang positif seolah-olah dia malu karena pengidap penyakit ini ialah aib untuk diri dan keluarganya, sehingga pasien tersinggung dan tidak sedikit yang kesal dengan perlakukan masyarakat.

AYO BACA: Tangkal Covid-19 dengan Mengonsumsi Ubi Ungu

AYO BACA: Bacaan Qunut Nazilah, Doa Menangkal Malapetaka

AYO BACA: [CEK FAKTA] Ini Bentuk Virus Corona Jika Diperbesar 2.600 Kali?

Perlakuan masyarakat seperti ini membuat korban semakin down dan menderita, karena dianggap pembawa petawa untuk daerah tempat tinggalnya. Terlebih lagi ketika ada orang yang dinyatakan positif oleh medis dan harus dijemput dari rumahnya untuk dilakukan isolasi. Kejadian ini seperti tontonan ketika aparat dan medis menjemput pasien bak menjemput penjahat. Banyak terjadi drama dan kisah memalukan cara penanganan pasien yang viral di medsos, dan media-media lainnya.

Janganlah menganggap para korban ini seperti penjahat, dan mempermalukannya di depan publik. Dalam hadis riwayat Bukhari bahwa Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, "Janganlah kamu lama-lama memandang orang-orang yang sedang sakit lepra."

Nabi Muhammad Saw memberikan cara dalam bersikap kepada orang yang terkena penyakit menular seperti Covid-19. Jangankan mengasingkannya, memberi sangsi sosial, Rasul menyuruh kita untuk tidak memandang orang sakit lama. Karena orang sakit yang dipandang lama secara psikologis akan merasa malu, beban, minder, sehingga bertambah menderita.

Pandemi Covid-19 yang sudah berjalan di Indonesia sekitar 5 bulan ini, begitu terasa dampaknya pada masyarakat. Tidak hanya secara ekonomi, sosial, dan budaya pun mengalami perubahan yang drastis. Secara mental pun masyarakat kita sudah kena. Mudah marah, cepat tersinggung, mudah sakit, dan stress takut tertular virus yang belum ada obatnya ini.

 AYO BACA: Lebih Baik Mana, Cuci Tangan dengan Air atau Hand Sanitizer?

AYO BACA: Berkumur dengan Air Garam dan Cuka Bisa Bunuh Corona Covid-19?

AYO BACA: Ini Saran Dokter Jika Ada Tamu Saat Pandemi Corona Covid-19

Memang berat untuk berdiam diri di rumah tidak melakukan aktivitas dan bekerja dalam waktu yang tidak menentu. Namun bagaimana pun, kita harus tetap menjaga fisik dan psikis kita agar tetap kuat dan stabil. Karena dengan fisik dan psikis yang kuat dan stabil inilah kita bisa meningkatkan daya tahan tubuh kita, sehingga kita siap menghadapi pandemi Covid-19.

Ada berbagai cara agar kita tetap kuat dan imun kita tetap terjaga, yaitu di antaranya ialah kita harus bersabar dan senantiasa berpikiran positif, bahwa pandemi ini akan segera berakhir. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw menganjurkan umatnya untuk bersabar ketika menghadapi wabah penyakit Thaun, "Tha'un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Kemudian Dia jadikan rahmat kepada kaum Mukminin. Tidaklah seorang hamba yang di situ terdapat wabah penyakit, tetap berada di daerah tersebut dalam keadaan bersabar, meyakini bahwa tidak ada musibah kecuali atas takdir yang Allah tetapkan, kecuali ia mendapatkan pahala seperti orang yang mati syahid" (HR. Bukhari).

Jangan sampai kita frustasi, apalagi ada anggapan bahwa virus corona ini tidak ada obatnya. Percayakan pada tim medis dan para ahli yang terus berjuang mencari solusi dan obat dari virus ini. Rasulullah Saw bersabda, "Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit, kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya” (HR. Bukhari).

Mari kita tingkatkan empati pada orang lain untuk membantu yang terdampak musibah ini dengan kemampuan kita, dan mari kita tingkatkan kepeduliaan kita pada orang lain untuk tetap disiplin dan mentaati protokol kesehatan, agar kita selamat dari pandemi covid 19 dan bisa melanjutkan perjalanan di muka bumi.

***

Dr. Mukhlis Aliyudin, Dosen Dakwah dan Komunikasi dan Pimpinan Pondok Modern Al Aqsa Jatinangor Sumedang.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel lainnya

dewanpers