web analytics
  

Geliat Perajin Kulit Ketupat 'Gang Blok Kupat' di Tengah Pandemi Covid-19

Selasa, 19 Mei 2020 16:28 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Sejumlah warga menganyam kulit ketupat di Gang Blok Kupat, Kota Bandung. (Ayobandung.com/Eneng Reni)

BABAKAN CIPARAY, AYOBANDUNG.COM -- Di Kota Bandung, ada permukiman padat penduduk yang sejak dahulu dikenal sebagai sentra Perajin kulit ketupat. Dinamai "Gang Blok Kupat", kawasan ini berada tak jauh dari Pasar Induk Caringin, Bandung.

Nama 'kupat' sendiri diambil dari bahasa Sunda, yang dalam bahasa Indonesia berarti ketupat. Sentra Perajin kulit ketupat ini berada di Gang Blok Kupat, RT 1-7, RW 13, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung.

Setiap harinya, perajin kulit ketupat bisa mengirimkan ribuan kulit ketupat ke berbagai pasar tradisional di Kota Bandung. Apalagi jelang Hari Raya Idulfitri, biasanya, Gang Blok Kupat tak pernah berhenti berdenyut dari perputaran ekonomi. Pasalnya, kawasan ini tak pernah sepi pesanan baik dari konsumen pribadi maupun pasar.

Salah satu Perajin kulit ketupat, Zulaeha, mengakui menjadi Perajin kulit ketupat adalah salah satu mata pencaharian utama mayoritas warga di kawasan tersebut. Nenek berusia 65 tahun itu telah ikut melestarikan kegiatan menganyam kulit ketupat sejak dirinya belia.

Kegiatan menganyam kulit ketupat di Gang Blok Kupat telah berlangsung puluhan tahun. Kemampuan menganyam ketupat diajarkan turun temurun. Maka tak aneh, pemandangan di sepanjang gang, baik warga lanjut usia maupun muda-mudinya, terampil menganyam kulit ketupat.

"Blok Kupat ini udah ada lama, gak tahu tahun pastinya cuman dari saya belum lahir juga udah ada. Kegiatan bikin cangkang ketupat juga ini udah turun-temurun sampai jadi mata pencaharian warga. Pokoknya ini mah udah turun-temurun dari nenek moyang," kata Zulaeha saat berbincang dengan Ayobandung.com di pelataran rumahnya, Selasa (19/5/2020).

Setiap hari, Zulaeha dan warga sekitar bisa menghasilkan 500 biji kulit ketupat. Menjelang Hari Raya, pesanan selalu meningkat. Bahkan, per harinya setiap warga dapat membuat kulit ketupat tak kurang dari 1.000 biji.

Saat musim Lebaran tiba, katanya, warga mampu memproduksi ribuan cangkang ketupat per hari. Bahannya sendiri didatangkan dari Tasikmalaya.

Menjelang hari raya, harga satu ikat kulit ketupat, diakuinya, bisa meningkat drastis. Dengan berisikan 10 buah kulit ketupat, warga bisa menjualnya dengan harga Rp10.000.

"Untuk upah, kalau hari biasa Rp3.500 per 100 biji, tapi kalau jelang Lebaran jadi naik Rp10.000 per 100 biji. Makanya warga yang awalnya jarang bikin jadi tergiur buat ikut bikin  soalnya lumayan. Bisa tiga kali lipat dari hari biasanya upahnya juga," kata Zulaeha.

Saat berbincang, Zulaeha ditemani menantunya, Iim (38). Iim mengaku, dirinya terbiasa menganyam kulit ketupat sejak menikah.

"Sekalian nambah kerjaan dari jualan bensin ya keterusan bikin cangkang ketupat. Dari belajar sampai sekarang mah udah mahir," kata Iim.

Di Gang Blok Kupat, kata Iim, anak-anak SD sudah mahir menganyam kulit ketupat. Selain untuk turut membantu orang tua, ada pula anak menganyam untuk bekerja sambilan usai pulang sekolah atau sambil menunggu waktu berbuka saat Ramadan.

"Anak-anak kecil juga di sini ada yang ikut kerja bikin cangkang ketupat, jadi buruh bikin cangkang lah karena sambil memanfaatkan waktu, ngabuburit. Ada juga yang memang membantu orang tuanya bikin cangkang, ada juga yang sengaja kerja. Makanya dari kecil udah pada bisa," kata Iim.

Zuleaha mengatakan, usai pandemi virus corona menyerang Indonesia, para Perajin kulit ketupat mulai jarang mendapatkan janur untuk menganyam. Zulaeha menyadari, pandemi ini memang menjadi pukulan untuk semua sektor ekonomi di masyarakat, tak terkecuali ekonomi kerakyatan warga di kawasan tempat tinggalnya.

"Sebetulnya para pengrajin mah kalau ada cangkang lanjut aja. Cuman memang sejak ada corona, daun dari Tasiknya sudah jarang ngirim karena semua janur ini didatenginnya dari Cibalong, Tasik," katanya.

Sejak pandemi Covid-19, angka penjualan kulit ketupat mengalami penurunan. Namun, dirinya bersyukur lantaran masih memiliki mata pencaharian di situasi yang serbasulit ini.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers