web analytics
  

Kupat Singkatan ‘Ngaku Lepat’ dan Fakta Unik Ketupat Lainnya

Selasa, 19 Mei 2020 11:31 WIB M. Naufal Hafizh

Kampung Ketupat yang berlokasi di Blok Kupat, Caringin, Kota Bandung merupakan salah satu sentra penghasil ketupat. Hasil buatannya didistribusikan ke berbagai pasar tradisional di Kota Bandung dan daerah-daerah lain di luar Bandung Raya. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Tahukah kamu bahwa kupat adalah singkatan dari ngaku lepat? Unik, ya?

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Ketupat seiring berjalannya waktu menjadi hidangan menu utama yang wajib ketika Idulfitri.

Tradisi ketupat ini hanya ada di Indonesia saja.

Berbagai sumber mengatakan, ketupat itu sudah ada sejak dari masa hidup Sunan Kalijaga, tepatnya di masa syiar Islamnya pada abad ke-15 hingga 16.

AYO BACA : Cara Membuat Ketupat Lebaran yang Sempurna

Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya Jawa yang berbaur dengan nilai Islam.

Masyarakat Jawa dan Sunda biasa menyebut ketupat sebagai kupat yang memiliki arti unik.

Kupat merupakan singkatan dari "ngaku lepat" yang berarti mengakui kesalahan.

Dalam Idulfitri, kita memang diharuskan saling memohon maaf antar-umat muslim.

AYO BACA : Sunan Kalijaga, Sosok Pencetus Tradisi Lebaran Ketupat

Itu sebabnya ungkapan kupat atau "ngaku lepat" cocok saat Idulfitri.

Makanan dari beras yang dibalut janur kuning dengan 4 sisi ini juga memiliki makna tersendiri.

Empat sisi pada ketupat berarti laku papat atau empat perilaku yang harus dimaafkan.

Lalu mengapa harus beras dan janur kuning?

Janur kuning atau nyiur dan beras merupakan sumber daya alam yang sudah dimanfaatkan untuk makanan oleh masyarakat di zaman tersebut.

Juga di Bali hingga saat ini nyiur masih digunakan untuk membungkus sesuatu untuk upacara keagamaan kepada leluhur.

AYO BACA : Cara Mudah Agar Ketupat Tidak Cepat Basi Tanpa Pengawet

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers