web analytics
  

Sunan Kalijaga, Sosok Pencetus Tradisi Lebaran Ketupat

Selasa, 19 Mei 2020 10:35 WIB
Umum - Nasional, Sunan Kalijaga, Sosok Pencetus Tradisi Lebaran Ketupat, Sunan Kalijaga, Sosok, Pencetus, Tradisi Lebaran, Ketupat, lebaran ketupat,

Kampung Ketupat yang berlokasi di Blok Kupat, Caringin, Kota Bandung merupakan salah satu sentra penghasil ketupat. Hasil buatannya didistribusikan ke berbagai pasar tradisional di Kota Bandung dan daerah-daerah lain di luar Bandung Raya. (Dok. Ayobandung.com)

Sunan Kalijaga memperkenalkan tradisi Lebaran Ketupat

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Masyarakat Jawa umumnya mengenal dua kali Lebaran, pertama adalah Idulfitri 1 Syawal dan kedua lebaran ketupat pada 8 Syawal, setelah puasa sunah 6 hari Syawal.

Dito Alif Pratama dalam artikelnya “Lebaran Ketupat dan Tradisi Masyarakat Jawa” mengungkapkan Lebaran ketupat pertama kali dikenalkan Sunan Kalijaga.

AYO BACA: 5 Makanan yang Tidak Boleh Dikonsumsi Saat Lapar

AYO BACA: 7 Hal yang Harus Dihindari Saat Perut Lapar

AYO BACA: Puasa Bahaya bagi Penderita Sakit Mag? Ini Faktanya

Saat itu Sunan Kalijaga menggunakan dua istilah, Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Lebaran adalah perayaan Idulfitri yang diisi dengan Salat Id dan silaturahmi.

Sementara itu, Bakda Kupat dilakukan 7 hari setelahnya. Masyarakat kembali membuat ketupat untuk diantarkan kepada sanak kerabat sebagai tanda keberasamaan.

Tradisi ini juga tetap lestari di komunitas Muslim Jawa di berbagai daerah seperti Muslim di Kampung Jawa Todano di Minahasa.

Tradisi mengantarkan makanan ini juga terdapat di Motoboi Besar, Sulawesi Utara dan di Bali. Muslim Bali atau Nyama Selam (saudara yang bergama Islam) melakukan tradisi ngejot yakni mengantarkan makanan ke tetangga menjelang Idulfitri.

AYO BACA: Begini Hukumnya Update Status Ibadah di Media Sosial

AYO BACA: Mengenal 4 Masjid Tertua di Kota Bandung

AYO BACA: Penderita Diabetes Bisa Makan Kolak, Tapi dengan Aturan Ini

Mengutip “Malay Annal of Semarang and Chrebon' oleh H.J de Graaf,” - Listya Ayu Saraswati dan P Ayu Indah Wardhani dalam makalah mereka “Perjalanan Multikultural Dalam Sepiring Ketupat Cap Go Meh” menulis ketupat sudah dikenal masyarakat Jawa pada abad ke-15 seiring penyebaran Islam yang dilakukan Wali Songo (sembilan wali) di Pulau Jawa.

Lebaran ketupat yang dirayakan pada 8 Syawal ini merupakan bentuk menyisipan nilai Islam dalam budaya lokal. Misalnya pada Perang Topat (perang ketupat) di masyarakat Islam Suku Sasak.

Perang Topat sebenarnya bertepatan dengan upacara pujawali umat Hindu yang diperingati pada bulan keenam Kalender Bali. Bagi masyarakat Islam Sasak, Perang Topat merupakan peringatan masuknya Islam di sana.

AYO BACA: Waktu yang Tepat Menyeruput Kopi saat Ramadan

AYO BACA: Ini Obat-obat yang Tak Akan Batalkan Puasa

AYO BACA: 4 Manfaat Buka Puasa dengan Bubur Kacang

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers