web analytics
  

Lebaran di Keraton Kasepuhan Cirebon Tanpa Alunan Gamelan Sekaten

Senin, 18 Mei 2020 15:27 WIB Erika Lia
Umum - Ramadhan, Lebaran di Keraton Kasepuhan Cirebon Tanpa Alunan Gamelan Sekaten, Cirebon,Gamelan Sekaten,Keraton Kasepuhan Cirebon,Lebaran di Cirebon,Gamelan

Gamelan Sekaten

CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- Di antara sejumlah tradisi yang tetap digelar di Keraton Kasepuhan Cirebon, penabuhan Gamelan Sekaten berusia sekitar 600 tahun menjadi salah satu pengecualian.

Gamelan Sekaten yang biasanya ditabuh hanya dua kali dalam setahun itu, rencananya absen di awal momen istimewanya kali ini. Pandemi Covid-19 memaksa ketidakhadiran gaungnya.

"Gamelan ini biasanya ditabuh setiap Idulfitri dan Iduladha di Siti Inggil Keraton Kasepuhan Cirebon. Tapi, tahun ini tidak ditabuh karena ada wabah Covid-19," ungkap Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, Senin (18/5/2020).

Gamelan Sekaten sendiri dalam sejarahnya diyakini digunakan Sunan Gunung Jati sebagai alat menyebarkan Islam di Cirebon.

Alunan musiknya diperdengarkan dari alun-alun kepada masyarakat. Dahulu, masyarakat yang hendak mendengarkan lantunan gamelan ini harus 'membayar'.

"Tapi bukan dengan uang, melainkan membayarnya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat atau syahadat, Ashaduallailahailallah. Wa asyhaduanna muhammadarrasulullah," tuturnya.

Kegunaannya sebagai syiar Islam itulah yang kemudian membuat gamelan ini disebut Gamelan Sekaten. Menurutnya, Sekaten sendiri berasal dari kata syahadatain.

Meski Idulfitri nanti Gamelan Sekaten direncanakan tak ditabuh, Keraton Kasepuhan Cirebon tetap akan melaksanakan jamasan atau pencucian/pembersihan perangkat gamelan yang disakralkan itu.

"Setiap mau ditabuh, Gamelan Sekaten akan dicuci dulu," cetusnya.

Jamasan pada benda-benda pusaka selama ini lazim dilakukan di lingkungan Kesultanan Cirebon, sebelum pemanfaatan benda-benda itu di hari tertentu.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers