web analytics
  

Pertumbuhan Ekonomi Yogyakarta Terendah se-Pulau Jawa

Senin, 18 Mei 2020 12:20 WIB Netizen Hentiek Puspitawati

Ilustrasi. (Pixabay)

AYOBANDUNG.COM -- Mengawali tahun 2020, BPS Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memotret pertumbuhan ekonomi Triwulan I-2020 yang menunjukkan bahwa seluruh provinsi se-Indonesia mengalami kontraksi ekonominya.

Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami kontraksi yang paling dalam dibandingkan provinsi lainnya se-Pulau Jawa yaitu sebesar 5,48 persen. Bahkan dibandingkan triwulan I tahun lalu, kinerja ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah satu-satunya provinsi di Pulau Jawa yang mengalami kontraksi yaitu sebesar 0,17 persen.

Pandemi Covid-19 yang mulai muncul di bulan Desember 2019 di Wuhan, Cina, kemudian menyebar ke negara-negara di luar Cina sejak awal tahun 2020 telah menyebabkan penurunan berbagai kegiatan ekonomi dunia termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta.

AYO BACA: Apa yang Harus Disiapkan di Rumah Kalau Lockdown?

AYO BACA: Virus Corona Covid-19 Menyebar Lewat Makanan Kemasan, Benarkah?

AYO BACA: Jangan Taruh Makanan dan Ponsel di Bagasi Motor!

Meskipun kasus Covid-19 di Indonesia baru ditemukan di awal Maret 2020, namun situasinya begitu cepat menggerogoti kebugaran ekonomi hampir semua negara di dunia. Dampak tersebut juga sangat dirasakan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pembatasan aktivitas masyarakat dalam upaya mencegah penyebaran wabah Covid-19 berdampak pula kepada perlambatan perekonomian.

Kinerja Perekonomian D.I. Yogyakarta Triwulan I 2020

Pada triwulan pertama ini, perekonomian DIY dibandingkan triwulan I-2019 (year on year) mengalami kontraksi sebesar 0,17, berbanding terbalik dengan kondisi tahun lalu yang tumbuh cukup tinggi sebesar 7,51 persen.

Kontraksi tertinggi terjadi pada kategori konstruksi sebesar 9,75 persen, seiring selesainya mega proyek bandara YIA, dan disusul kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 8,92 persen dikarenakan curah hujan yang tidak menentu dan mundurnya musim tanam padi yang membuat panen raya tertunda.

Berbanding terbalik dengan sektor informasi dan komunikasi yang tumbuh positif sebesar 11,24 persen, dikarenakan meningkatnya kebutuhan internet akibat himbauan pemerintah untuk tetap dirumah saja menyebabkan hampir semua aktivitas dilakukan secara online.

AYO BACA: LIPI Rilis Daftar Produk Rumah Tangga yang Bisa Dijadikan Disinfektan

AYO BACA: 8 Cara Mencegah Virus Corona Covid-19 Saat Keluar Rumah

AYO BACA: Corona Masuk ke Indonesia, Ini Doa Agar Terhindar dari Penyakit Berbahaya

Sedangkan struktur perekonomian DIY triwulan I-2020 yang terbesar adalah industri pengolahan sebesar 12,90 dan pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 11,35 persen dan penyediaan akomodasi, makan dan minum sebesar 9,89 persen. Jika dilihat dari andil pertumbuhan terbesarnya, kategori konstruksi yang mempunyai andil terbesar sebesar -0,98 persen, pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar -0,91 persen, dan sektor industri pengolahan sebesar -0,19 persen.

Kondisi perekonomian DIY pada triwulan I-2020 dibandingkan dengan triwulan IV-2019 (quarter to quarter) mengalami kontraksi sebesar 5,48 persen, bahkan selama 10 tahun terakhir ini pertumbuhan ekonomi DIY secara q to q mengalami kontraksi yang paling dalam.

Kategori Konstruksi mengalami kontraksi yang paling dalam, yaitu 30,43 persen, disusul Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib mengalami kontraksi sebesar 19,22 persen. Pada awal tahun anggaran, kegiatan konstruksi yang bersumber dari APBN/APBD sebagian besar masih dalam proses perencanaan/lelang kecuali pekerjaan konstruksi yang bersifat multi years.

Industri Pengolahan mengalami kontraksi sebesar 3,92 persen. Hal ini disebabkan oleh penurunan industri makanan dan minuman, industri furnitur, dan industri kulit.

AYO BACA: Tangkal Covid-19 dengan Mengonsumsi Ubi Ungu

AYO BACA: Bacaan Qunut Nazilah, Doa Menangkal Malapetaka

AYO BACA: [CEK FAKTA] Ini Bentuk Virus Corona Jika Diperbesar 2.600 Kali?

Jika dilihat dari sisi pengeluaran, komponen konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah tumbuh melambat dibandingkan triwulan I-2019, sedangkan PMTB mengalami kontraksi yang cukup dalam yakni sebesar 7,23 persen. Kontribusi terbesar dari sisi pengeluaran adalah konsumsi rumah tangga dan PMTB. Sedangkan pertumbuhan ekonomi DIY secara q to q dari sisi pengeluaran, seluruh komponennya tumbuh negatif.

Dampak Ekonomi saat Covid-19 Melanda

Geliat pertumbuhan ekonomi D.I Yogyakarta bisa dilihat keterbandingannya dengan geliat yang terjadi di lingkup Pulau Jawa maupun terhadap 34 provinsi di Indonesia. Pertumbuhan agregat PDRB
Pulau Jawa sebesar 3,42 persen (y-on-y), jauh melambat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 5,66 persen. D.I. Yogyakarta merupakan satu-satunya provinsi di Pulau Jawa yang mengalami kontraksi pertumbuhan, sedangkan lima provinsi lain masih tumbuh positif. Meskipun diliputi situasi pandemi Covid-19 dengan kejadian terpapar paling tinggi se-Indonesia, perekonomian DKI triwulan I-2020 masih mampu tumbuh di atas 5 persen dan menjadi pertumbuhan tertinggi di Pulau Jawa.

Kontribusi PDRB D.I. Yogyakarta baik terhadap pulau Jawa maupun terhadap jumlah 34 provinsi posisinya relatif kecil. Kontribusi terhadap Pulau Jawa sebesar 1,45 persen, sedangkan terhadap total 34 provinsi sebesar 0,86 persen. Oleh karena kontribusi PDRB D.I. Yogyakarta yang relatif kecil tersebut menjadikan andil pertumbuhannya terhadap pertumbuhan total 34 provinsi tidak tampak berpengaruh.

Walau demikian, anjloknya pertumbuhan ekonomi yang dirasakan oleh DIY sendiri sangat terasa oleh masyarakat. Apalagi Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pariwisata, hampir aktivitas disektor tersebut berhenti. Padahal sektor pariwisata mempunyai peran penting pada pertumbuhan ekonomi di DIY dan tentunya untuk pemasukan devisa negara

Apa yang Harus Dilakukan?

Dengan adanya Surat Edaran yang dikeluarkan pemerintah pada tanggal 18 Maret 2020, segala kegiatan di semua sektor yang terkait pariwisata dan ekonomi kreatif ditunda sementara waktu demi mengurangi penyebaran corona. Hal ini mengakibatkan sektor pariwisata lumpuh sementara, sehingga pengangguran meningkat.

AYO BACA: Cara Salam Alternatif untuk Cegah Corona Sesuai Anjuran WHO

AYO BACA: Padanan Kata Lockdown, Corona, dan Social Distancing dalam Bahasa Indonesia

AYO BACA: Pemuka Agama di Bandung Diduga Tularkan Corona ke 226 Jemaat

Tempat tujuan wisata sudah ditutup, hotel dan penginapan pun sepi pengunjung, bahkan UMKM yang menunjang disektor inipun ikutan tutup dan merumahkan karyawannya. Kondisi ini bisa jadi lebih parah daripada saat krisis 2008 lalu.

Dulu saat krisis 2008 terjadi akibat krisis finansial global, penyebabnya dapat diketahui, sedangkan saat ini tidak ada yang tahu sampai kapan covid-19 ini akan berhenti, karena penyebabnya bisa mengancam jiwa manusia.

Di tengah-tengah adanya social distancing, masyarakat menurunkan aktivitas kegiatan sehari-harinya. Bahkan hal ini berdampak pada terjadinya deflasi akibat turunnya konsumsi masyarakat dan dan dampak ketersediaan, karena adanya pengurangan aktivitas produksi.

Jika pemerintah tidak bergerak cepat mengatasi penyebaran virus corona, maka dikhawatirkan akan terjadi krisis. Dengan menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai dan menindak tegas bagi masyarakat yang tidak taat aturan, kemungkinan besar penyebaran covid-19 bisa ditekan. Memang ini juga perlu dukungan kesadaran dari masyarakat.

Yang tak kalah pentingnya lagi adalah pemerintah daerah perlu menggenjot produksi dari wilayah sendiri untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, dan tidak tergantung lagi terhadap barang impor, sehingga ada pemberdayaan masyarakat untuk lebih peka dalam menangkap sektor-sektor ekonomi yang mampu mendukung untuk keberlangsungan hidupnya.

AYO BACA: Lebih Baik Mana, Cuci Tangan dengan Air atau Hand Sanitizer?

AYO BACA: Berkumur dengan Air Garam dan Cuka Bisa Bunuh Corona Covid-19?

AYO BACA: Ini Saran Dokter Jika Ada Tamu Saat Pandemi Corona Covid-19

Seperti saat ini, akibat anjuran pemerintah untuk di rumah saja, aktivitas belanja online semakin tinggi. Jika pemerintah daerah mampu menggandeng perusahaan swasta untuk mewujudkan suatu sistem tersebut, untuk merekrut pengusaha-pengusaha lokal dalam penyediaan barang dan jasa, tentunya dapat meningkatkan aktivitas produksi mereka dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sehingga meningkat kesejahteraannya.

Gerak cepat dari pemerintah tentunya sangat diharapkan dalam menekan banyaknya korban dari tertularnya virus dan kepatuhan terhadap aturan pemerintah serta kepekaan masyarakat dalam menangkap peluang ekonomi sangat penting dalam menghadapi pandemi covid-19  ini sehingga ekonomi yang stabil akan semakin cepat terwujud.

***

Hentiek Puspitawati, Fungsional Statistisi BPS Provinsi DIY.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel lainnya

dewanpers