web analytics
  

Olahraga Berat Malah Tingkatkan Risiko Terjangkit Corona?

Jumat, 15 Mei 2020 15:22 WIB

[Ilustrasi] Olahraga intensitas tinggi. (Pixabay)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM – Berolahraga terlalu keras ternyata berdampak buruk bagi kesehatan dan meningkatkan Risiko terjangkit virus corona.

Dokter spesialis olahraga dr Michael Triangto, Sp.KO mengatakan, olahraga intensitas tinggi hanya akan memperbesar Risiko terinfeksi penyakit, termasuk Covid-19.

Dalam kurva Immune Function and Exercise 2011 digambarkan hubungan antara intensitas olahraga, daya tahan tubuh, dan infeksi penyakit. Ada tiga titik, pertama titik kiri atas, kedua titik tengah terendah, dan ketiga titik kanan yang melonjak hingga ke atas.

"Kalau kita tidak berolahraga, itu adanya di titik pertama, kemungkinan Risiko terhadap infeksi dan imunitas tubuh kita tidak olahraga. Begitu kita mau olahraga ringan sampai sedang, kita ada di titik kedua yang paling rendah," kata dr Michael saat berbincang dengan Suara.com, Kamis (14/5/2020).

Titik kedua ketika kita melakukan olahraga dengan intensitas ringan atau sedang, maka Risiko terinfeksi penyakit adalah yang terendah atau paling minimal, karena daya tahan tubuh menjadi semakin kuat.

"Kalau kita olahraga berat, itu ada di titik ketiga yang lebih tinggi daripada tidak berolahraga, di titik pertama. Itu kemungkinan terinfeksi sangat besar, temasuk mengalami cidera," kata dia.

Bagaimana kita tahu kalau olahraga yang kita lakukan termasuk intensitas sedang atau tinggi? Kalau saat berolahraga kita masih bisa berbicara walau terengah-engah, maka itu artinya olahraga kita termasuk intensitas ringan dan sedang.

Sedangkan pada olahraga intensitas tinggi, kita tidak akan bisa berbicara ketika sedang berolahraga. Segeralah turunkan intensitas olahraga tersebut.

Dr Michael juga menyebutkan bahwa olahraga berat di masa pandemi Covid-19 ini dirasa tidak ada gunanya. Apalagi saat ini umat Islam tengah menjalankan ibadah puasa. Olahraga intensitas tinggi yang dibarengi dengan puasa, bisa semakin memperburuk kesehatan.

"Jadi bisa dipahami kenapa yang berat jadi seperti itu. Sebetulnya dalam kondisi berat-berat, ngapain orang kurang kerjaan. Bulan puasa, ngapain," tutur dr Michael.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Suara.com.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers