web analytics
  

Masuk Tahap Validasi, Unpad-ITB Kembangkan Rapid Test Antigen Covid-19

Jumat, 15 Mei 2020 09:26 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Rapid Test Antigen Covid-19. (Instagram/@ridwankamil)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Pusat Riset Bioteknologi Molekular dan Bioinformatika Unpad bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) tengah mengembangkan alat tes pendeteksi Covid-19.

Bila lulus validasi pada real sample sesuai dengan etika medis, rencananya alat-alat ini siap diproduksi dan disebar kepada masyarakat. Saat ini pengembangan alat pendeteksi yang dinamai Rapid Test 2.0 itu masih berada dalam tahap validasi.

Koordinator penelitian vaksin dan diagnostik Covid-19 di Pusat Riset Bioteknologi Molekular dan Bioinformatika Unpad, Muhammad Yusuf menyampaikan, nantinya Rapid Test 2.0 covid-19 ini tidak akan menggunakan antibodi utuh sebagai bahan utama.

Yusuf menyampaikan, pihaknya akan membuat antigen yang terbentuk dari interaksi fragmen antibodi dan protein pada permukaan virus corona. 

Unpad pun bermitra dengan PT Tekad Mandiri Citra yang berkomitmen memproduksi fragmen antibodi sebagai salah satu komponen utamanya. Selain itu, Unpad juga bermitra dengan PT Pakar Biomedika Indonesia, perusahaan swasta yang telah memiliki kapasitas, pengalaman, serta izin produksi rapid test di dalam negeri. 

"Dalam inovasi Rapid Test yang dikembangkan Unpad, yakni membuat rapid test yang dideteksinya itu bukan antibodi terhadap covid tapi yang dideteksinya itu antigen atau virusnya," kata Yusuf kepada Ayobandung.com, Kamis (14/5/2020) malam.

"Karena kita melihat dari beberapa rapid tes yang sudah ada performanya kurang begitu baik. Sebetulnya tidak dikatakan tidak akurat cuman karena kebetulan saja antibodi dalam tubuhnya tidak dominan jadi tidak bisa terdeteksi, jadinya sulit pemakaiannya," tambah dia.

Yusuf menyampaikan, cara kerja Rapid test Covid ini, sedianya, mendeteksi keberadaan antibodi khas covid dalam darah. Antibodi itu pun akan muncul sebagai respons tubuh ketika tubuh diserang patogen atau penyakit.

Namun yang kerap menjadi masalah, proses pembentukan antibodi covid pada tubuh terperiksa membutuhkan waktu cukup panjang sekitar 14 hingga 25 hari.

Karenanya, Yusuf menyampaikan, Unpad dibantu ITB dalam melakukan pengujian interaksi fragmen antibodi dengan protein virus. Yusuf mengatakan, uji interaksi ini pun berhasil dan data menunjukkan bahwa fragmen antibodi yang dikembangkan bisa mendeteksi antigen.

AYO BACA : Jabar Akan Produksi Alat Rapid Test Sendiri, Akurasi 80%

Usai uji interaksi ini, Unpad bekerja sama dengan PT Pakar biomedika indonesia, perusahaan swasta yang bergerak di bidang produksi dan distribusi rapid tes untuk melakukan assembly atau perakitan Rapid Test Kit

Yusuf menyampaikan, pengembangan Rapid Test 2.0 ini sedianya sudah jadi secara fisik. Namun untuk bisa digunakan secara luas di masyarakat masih harus melewati tahap akhir yakni validasi menggunakan sampel riil positif covid dengan sampel negatif Covid-19.

Yusuf mengungkapkan, lantaran melibatkan sampel riil covid maka proses validasi ini tidak bisa sembarangan dan memerlukan waktu. Meski demikian, Yusuf berharap berlandaskan urgensi saat ini, validasi sambel riil covid maksimal hanya berlangsung selama satu bulan.

"Karena pembuatan antibodinya sudah selesai. Kita rencananya akan memproduksi 5.000 kit dulu. 5.000 itu untuk validasi terlebih dahulu. Jadi yang 5.000 batch awal itu adalah untuk validasi atau menguji ke real sampel," papar dia.

"Kalau sudah validasi, hasilnya baik, baru kita scale up produksinya. Kita rencana di 10.000 dengan 50.000 kit. Dengan tahapan validasi hingga lolos etike penelitian, 50.000 rapid test kit ini baru bisa disebarkan ke masyarakat," katanya.

Akurasi Rapid Test Antigen Covid-19

Yusuf menyampaikan, akurasi rapid test 2.0 Covid-19 hasil pengembangan Unpad sejatinya akan bekerja sesuai mekanisme dan sistem kerja rapid test pada umumnya. Rata-rata akurasi rapid test berkisar di 60%-80%. 

"Akurasi seperti itu, sebenarnya sudah standar untuk rapid tes apapun akurasinya segitu. Misal, sekarang yang beli dari Cina juga sebetulnya akurat. Cuma masalahnya digunakannya bukan pada saat kondisi yang seharusnya. Jadi misal di cek saat kondisi pasien sedang sakit, lagi demam, sebetulnya kan antibodinya belum terbentuk, ya pasti negatif," katanya.

"Tapi misalnya kalau rapid test digunakan pada keadaan tubuh sudah membentuk antibodi ya akan terdeteksi dengan baik. Jadi prediksi akurasi 50% rapid tes itu sebenarnya bukan angka yang sebenarnya. Karena memang tidak sesuai dengan tujuan penggunaan (antibodi belum terbentuk)," katanya.

Whats-App-Image-2020-05-15-at-9-48-25-AM

AYO BACA : Produksi Massal Alat Kesehatan Dalam Negeri Ditargetkan Berlangsung Akhir Mei

Rapid Test Antigen Covid-19. (Instagram/@ridwankamil)

Yusuf juga menyampaikan, bila rapid test 2.0 ini berhasil dikembangkan, ada sejumlah keuntungan yang bisa didapatkan. Salah satunya keunggulan produk ini lebih murah, akurat karena menggunakan antigen, mudah digunakan, cepat, dan bisa didistribusikan lebih cepat ke pelosok daerah.

Yusuf juga menyampaikan sebagian besar komponen rapid tes ini sedianya bisa dikembangkan di dalam negeri. Semisal, fragmen antibodi, cangkang tes kit, hingga nanopartikel emas yang digunakan untuk pewarna garis merah di rapid test sehingga hal ini dapat mengurangi ketergantungan impor ketersediaan bahan baku.

"Makanya sebetulnya kami mencoba berinovasi mencari sumber-sumber yang ada selain dari antibodi yang bisa digunakan pada rapid test. Karena untuk memproduksi antibodi utuh yang umumnya digunakan orang kita belum punya kapasitas untuk memproduksinya," jelas dia.

"Teknologi di Indonesia masih belum tersedia. Alhamdulillah dengan yang kita kembangkan, minimal kita bisa mengganti antibodi sebagai komponen termahal dari rapid test," katanya.

Namun Yusuf mengakui, komponen yang tidak tersedia di Indonesia untuk perakitan rapid tes yakni bahan baku kertas tes. Dia menyampaikan, industri kertas yang memproduksi kertas untuk rapid test ini belum tersedia di Indonesia.

Sehingga untuk pengadaan kertas rapid test di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor.

"Kan rapid test itu bahan dasarnya kertas dan kertasnya ini perlu spesifikasi khusus. Tapi kalau impor juga, kertas itu tidak terlalu signifikan karena stoknya banyak dan harganya tidak terlalu mahal tidak seperti harga antibodi dan emas. Jadi kalau dikatakan, 4-5 komponen bisa buatnya sendiri, atau berarti 80-90% sudak bahan baku lokal," katanya.

Yusuf menyampaikan, bila alat ini ingin ditambah produksinya, tentunya diperlukan peningkatan dari berbagai aspek mulai dari falisitas hingga validasi penelitian.

Karenanya, pihaknya mengajak seluruh stakeholder mengambil perhatian. Lantaran selama ini, industri manufaktur rapid test di indonesia masih sangat lemah. 

"Kalau melihat kapasitas produksi di mitra kami itu kapasitasnya baru di 50.000 per bulan. Tapi ada informasi bahwa gubernur minta 200.000 bahkan pak Rudiantara juga mintanya 300.000 kit. Kan kalau 50.000 per bulan, perlu 4-6 bulan (mencapai 200.000-300.000). Sebetulnya terlalu lama," kata dia.

"Jadi ketika ada permintaan seperti itu ya bisa saja, tapi syaratnya berarti kapasitas produksi kita harus ditingkatkan, fasilitas produksi harus ditingkatkan," ujarnya.

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/_qli0FOR20I" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>

AYO BACA : Rapid Test Biozek dari Cina Bermasalah, Doni Monardo: Akurasinya Rendah

Editor: Fira Nursyabani

artikel lainnya

dewanpers