web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Cerita Mahasiswa Rantau di Tengah Pandemi, Tahan Rindu Keluarga dan Berhemat

Rabu, 13 Mei 2020 15:58 WIB Vina Elvira

Suasana di Jalan Raya Jatinangor, Kabupaten Sumedang di tengah PSBB (Dok. Heri)

JATINANGOR, AYOBANDUNG.COM – Ramadan, merupakan momen yang tepat bagi banyak orang untuk kembali kumpul bersama keluarga besar saat Idulfitri nanti. 

Namun, Ramadan kali ini terasa berbeda bagi Heri (24), mahasiswa tingkat akhir yang tengah menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjajaran. 

Pasalnya, lebaran tahun ini dia tidak bisa pulang ke kampung halamannya di Klaten, Jawa Tengah, akibat wabah pandemi yang belum juga mereda. 

Akhirnya, Heri ‘terjebak’ di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, dan terpaksa merayakan Idulfitri tanpa ditemani sanak keluarga.

“Sedih sih, yang bikin sedih itu nggak bisa ketemu orang tua dan nggak bisa kumpul sama keluarga. Tapi akhirnya ya bisa berdamai dengan keadaan,” ungkapnya kepada Ayobandung.com, Rabu (13/5/2020).

Sebenarnya dia memang berencana pulang ke kampung halaman setelah menyelesaikan tugas akhirnya. Namun, kondisi perkuliahan yang terhambat karena pandemi, membuat progres tugas akhirnya pun ikut mandek, begitu pula dengan pelaksanaan sidang akhirnya.

Kondisi ini, membuat Heri tidak bisa menyelesaikan tugas akhirnya sesuai dengan target yang telah ditentukan. Untuk pulang ke rumah pun, kata Heri, rasanya sudah terlambat, karena kondisi PSBB saat ini.

“Rencana emang aku nggak akan pulang sebelum skripsi-ku selesai dan melaksanakan sidang. Cuman ada kemungkinan skripsi-ku bentar lagi selesai. Nah, baru ada keinginan pulang, tapi udah nggak bisa kayaknya,” kata Heri.

“Pengen pulang sih, tapi gak tahu naik apa sama bakal disetop di jalan kayaknya. Jadi udah fix gak akan bisa pulang kayaknya,” lanjutnya.

Akhirnya, Heri pun menjalani bulan Ramadan ini di Jatinangor sambil menyelesaikan sisa tugas akhirnya yang dikatakan sudah hampir rampung.

Tapi, kata Heri, dia tidak sendirian. Meskipun jauh dari keluarga, Heri masih bisa bertemu dengan rekannya sesama mahasiswa perantau lain yang juga bernasib sama.

Berkunjung ke kosan teman, menjadi sarana bagi Heri untuk menghilangkan rasa bosan dan jenuh selama berada di Jatinangor.

“Soal kuliah, kebetulan aku tinggal ngerjain skripsi. Di Nangor, selama PSBB ya aku di kosan aja. Paling main ke kosan teman yang jaraknya dekat. Kalau untuk makan biasanya masak, kadang bareng teman-teman,”  terangnya.

Selama pelaksanaan PSBB dan kuliah daring, Heri mengungkapkan, sebagian besar aktivitasnya hanya dilakukan di-kosan saja. Sebab, untuk keluar kosan pun rasanya tidak terlalu aman, dan Heri juga tidak ingin mengambil risiko terpapar virus ketika jauh dari keluarga.

“Nggak pergi ke mana-mana, keluar kosan seperlunya saja. Cuman memang Nangor sepi pake banget, kalau malem udah kayak kota mati. Jadinya ya di kosan aja.” ujar Heri.

Bantuan dari Kampus

Meskipun tidak bisa pulang ke rumah, Heri tetap merasa beruntung. Sebab, almamaternya tetap memperhatikan mahasiswa-mahasiswa yang ‘terjebak’ di Jatinangor seperti Heri. Hampir setiap minggunya, Heri dan rekan lainnya mendapatkan pasokan sembako secara rutin dari manajemen kampus.

Unpad" class="related-tag text-orange">Unpad termasuk kampus yang perhatian sama mahasiswa, karena hampir setiap minggu mahasiswa yang masih di Nangor diberi sembako secara merata,” kata Heri.

Hal ini dirasa sangat membantu Heri, terutama di tengah Ramadan dan PSBB. Menurutnya, banyak penjual makanan yang tutup dan tidak beroperasi sejak beberapa bulan lalu. Pemberian sembako ini, kata Heri, sedikit banyak mempermudah dirinya selama menjalani aktivitas di Jatinangor.

“Bantuan sembako, kadang makanan dari Unpad" class="related-tag text-orange">Unpad rutin. Hampir setiap minggu ada,” ungkapnya.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel lainnya

dewanpers