web analytics
  

Bagaimana Hukum Makan Daging Babi karena Tak Tahu?

Rabu, 13 Mei 2020 09:34 WIB

Barang bukti daging babi yang disita Satgas Pangan Polresta Bandung. (Ayobandung.com/Mildan Abdalloh)

SOREANG, AYOBANDUNG.COM -- Peredaran daging babi yang diolah menyerupai daging sapi di Kabupaten Bandung akhirnya terbongkar setelah polisi menangkap pelaku penjual daging babi tersebut. Selama beroperasi hampir satu tahun, pelaku telah menjual kurang lebih puluhan ton daging babi. 

Hal ini tentu merugikan masyarakat, khususnya umat Muslim. Sebab, di dalam Islam daging babi termasuk makanan yang diharamkan. 

Wakil Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Miftahul Huda, mengatakan Al-qur'an secara jelas menyatakan haram mengonsumsi daging babi.

Hal itu di antaranya dinyatakan dalam surat al-Baqarah ayat 173 dan dalam surat Al Maidah ayat 3. Pada kedua ayat tersebut secara tegas dinyatakan, daging babi itu haram untuk dikonsumsi.  

AYO BACA : Daging Babi Oplosan Gunakan Boraks, Kenali Dampaknya Bagi Kesehatan

"Jumhur ulama juga bersepakat bahwa keharaman terhadap babi tidak terbatas pada mengkonsumsi dagingnya, tetapi juga pada memanfaatkan seluruh bagian dari babi, seperti memanfaatkan kulitnya, bulunya, tulangnya, dan lain-lain dari tubuh babi tersebut," kata Kiai Miftah, melalui pesan elektronik kepada Republika.co.id, Selasa (12/5/2020). 

Namun demikian, tidak sedikit masyarakat yang tertipu saat membeli daging sapi yang ternyata daging babi. Salah satu kasusnya seperti yang terjadi di Bandung karena daging babi dibuat seolah menyerupai daging sapi. Sehingga, konsumen tidak mengetahui jika yang dikonsumsinya adalah daging babi.

Lantas, bagaimana hukumnya jika kita tidak mengetahui makanan yang kita konsumsi adalah daging babi atau makanan haram?

Kepala Pengasuh Pondok Pesantren Al-Nahdlah Depok, ini menerangkan perbuatan salah atau melanggar hukum agama karena ketidaktahuan adalah termasuk hal yang dimaafkan. 

AYO BACA : Ini Perbedaan Daging Sapi, Babi, dan Celeng

Karena itu, menurutnya, apabila memakan daging babi karena ketidaktahuan bahwa yang dimakan adalah daging babi, hal itu termasuk sesuatu yang dimaafkan. 

"Akan tetapi setelah tahu harus membersihkan mulutnya dari najis babi tersebut. Caranya dengan berkumur dan menggosok gigi," tambahnya.

Sementara itu, dia menambahkan dalam keadaan darurat dan jika tidak makan akan mengakibatkan mudharat, maka tidak dosa baginya untuk makan yang haram, termasuk daging babi. Namun, dengan syarat makanan itu dimakan secukupnya. Ketentuan ini dijelaskan dalam Al-qur'an surat Al Baqarah ayat 173.  

Karena itulah, Kiai Miftah mengimbau masyarakat lebih berhati-hati terhadap tindakan nakal orang yang berusaha menyerupakan daging babi dengan daging sapi. 

Menurutnya, ada beberapa cara mudah untuk membedakan daging sapi dan daging babi. Hal itu di antaranya, dengan periksa warnanya, seratnya, tekstur, lemak, dan aromanya. 

Sementara itu, dia juga berharap pengawasan terhadap peredaran produk dan bahan pangan ini lebih ditingkatkan. "Diharapkan aparat terkait untuk lebih meningkatkan pengawasan pasar dan menindak tegas pihak-pihak yang curang dan nakal," katanya.

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/nAypkP2uC6U" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>

AYO BACA : Selama Setahun, 4 Orang Jual 63 Ton Daging Babi di Kabupaten Bandung

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Fira Nursyabani

artikel lainnya

dewanpers