web analytics
  

Hikmah Ramadan di Tengah Pandemi Corona

Selasa, 12 Mei 2020 14:03 WIB
Netizen, Hikmah Ramadan di Tengah Pandemi Corona, Hikmah Ramadan, Pandemi Corona,

Ilustrasi. (Ayobandung.com)

AYOBANDUNG.COM -- Sungguh tak pernah saya bayangkan sebelumnya bila negeri ini akan terserang wabah penyakit bernama “corona” yang penyebarannya begitu cepat dan mematikan. Sehingga berbagai upaya pun dilakukan oleh pihak pemerintah dan masyarakat di berbagai pelosok daerah di negeri ini untuk mencegah agar virus corona tak semakin berkembang biak dan menelan lebih banyak korban jiwa.

Dulu, sebelum muncul virus corona, sebagai umat Islam kita mungkin bisa bebas sesuka hati menunaikan ibadah salat berjamaah di masjid dan musala. Namun lihatlah kini? Sungguh tak pernah terbayangkan ketika tiba-tiba salat Jumat ditiadakan dan diganti dengan Salat Zuhur di rumah masing-masing, ketika salat berjamaah dilarang dan dianjurkan agar salat sendiri di rumah masing-masing, dan ketika salat tarawih pun dilarang dilakukan secara berjamaah di masjid dan musala, yang kesemuanya itu merupakan sebuah upaya demi mencegah penularan virus corona tak kasat mata yang bisa saja menempel (dan menular) tanpa disadari oleh siapa pun.

Terlepas dari pandemi corona yang tak kunjung berlalu, menurut saya alangkah baiknya kita selalu berusaha berpikir positif dan jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan yang panjang. Mari kita berusaha mengambil hikmah dari pandemi ini. Hikmah mungkin terasa pahit tapi bila kita renungi maknanya akan membuat kita saling introspeksi diri dan selanjutnya berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Salah satu hikmah besar yang dapat kita petik dari wabah corona di bulan Ramadan ini adalah: kita jadi semakin lebih dekat dengan keluarga. Ya, meski harus saya akui, ini hanya berlaku bagi mereka yang telah berkeluarga, memiliki anak, dan masih tinggal dalam satu kota. Pasangan suami istri serta anak-anak mereka yang semula memiliki kesibukan sendiri dan jarang berkumpul, kini menjadi lebih sering bertatap muka di rumah. Momentum ini tentu dapat dijadikan sebagai salah satu upaya untuk lebih saling mengakrabkan diri, lebih fokus melihat tumbuh kembang anak yang bisa jadi selama ini dilalaikan, dan lain sebagainya.

Suami yang menjadi kepala keluarga dan sebelumnya mungkin tidak pernah menjadi imam salat, kini dituntut untuk menjadi imam salat bagi istri dan anak-anaknya di rumah. Ini artinya, sang suami dituntut untuk belajar lebih mendalam terkait tata cara menjadi imam salat, belajar tentang kekhusyukan saat salat, membaca dan menghafal lebih banyak lagi surat-surat pendek, doa-doa, dan lain sebagainya.

Hikmah lain yang bisa dipetik dari wabah corona di bulan Ramadan ini adalah: kita jadi merasakan begitu besar manfaatnya menabung. Meski saya yakin setiap orang tahu manfaat menabung, tapi pada kenyataannya banyak orang yang enggan mempraktikannya. Seberapa pun penghasilan kita, sebaiknya memang harus ada yang disisihkan untuk ditabung, tujuannya untuk menghadapi hal-hal yang tak diinginkan yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Saya pribadi, merasakannya secara langsung. Sejak tahun 2014 saya berusaha membiasakan diri menyisihkan uang hasil menulis (di berbagai media massa) di tabungan khusus agar saya bisa membeli barang-barang yang saya inginkan suatu hari nanti. Dan kini, ketika virus corona tiba-tiba muncul tanpa aba-aba dan ketika perekonomian terasa sulit, saya masih memiliki tabungan yang cukup digunakan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

Sungguh saya tak bisa membayangkan bagaimana galau dan bingungnya orang-orang yang selama ini terbiasa hidup boros dan glamour. Bahkan sebagian mereka bela-belain kredit barang-barang mewah seperti ponsel pintar bermerk, kendaraan, dan lain sebagainya, demi memenuhi hasrat ke-glamourannya. Tapi lihatlah kini? Saat pandemi corona memorakporandakan berbagai tatanan kehidupan manusia, saya yakin mereka yang terbiasa hidup boros merasa kalang kabut dibuatnya. Masih untung bagi para pekerja yang tidak di-PHK dari tempat kerjanya, tapi bagaimana nasib mereka yang harus menelan kecewa akibat di-PHK dari perusahaan yang selama ini menjadi satu-satunya harapan baginya mendapatkan gaji setiap bulan? Bagaimana mereka bisa membayar cicilan kendaraan dan barang-barang mewah yang selama ini menjadi kebanggaan mereka?

“Jangan boros dan jangan sombong”, itulah hikmah lain yang bisa dipetik dari pandemi corona di bulan suci ini. Sebelum muncul virus corona, mungkin selama ini kita hidup dalam kesombongan dan terbiasa hidup boros, foya-foya, dan gemar menghambur-hamburkan uang. Namun kini, kita jadi lebih menyadari betapa pentingnya untuk lebih berhati-hati dalam mengalokasikan uang yang kita miliki saat ini. Gunakan seperlunya, sisanya ditabung. Jangan lupa, sisihkan juga sebagian harta kita untuk memperbanyak amal kebaikan seperti bersedekah dan membantu orang-orang yang kurang mampu atau membutuhkan uluran pertolongan kita.     

Mengakhiri tulisan saya kali ini, mari kita bersama-sama berusaha selalu menjaga kesehatan, hidup lebih hemat, saling membantu sesama, seraya berdoa semoga pandemi corona segera berlalu dari negeri tercinta kita ini. Saya menemukan sebuah ungkapan bijak (lewat akun Instagram santri.online) dari sosok ulama yang layak untuk dijadikan panutan, KH. Abdul Hamid Pasuruan. Menurut beliau “penyakit itu seperti tamu, ada saatnya dia datang dan ada saatnya dia pergi, yang namanya tamu datang pasti ada tujuan dan membawa barokahnya masing-masing”.

Saya berharap, semoga tamu tak diundang bernama virus corona segera berlalu dari negeri ini. Amin. 

***

Sam Edy Yuswanto, penulis lepas, tulisannya tersebar di berbagai media, lokal hingga nasional.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel terkait

dewanpers