web analytics
  

Meme, Keisengan Ramadan Zaman Kolonial dan Milenial

Selasa, 12 Mei 2020 09:25 WIB Netizen Ibn Ghifarie
Netizen, Meme, Keisengan Ramadan Zaman Kolonial dan Milenial, meme,ramadan,kolonial,masjid agung,milenial,generasi milenial

Masjid Agung Bandung.(Ayobandung.com/Irfan Alfaritsi)

Ibn Ghifarie

Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

AYOBANDUNG.COM -- Bila kita membaca tren Ramadan terbaru di tengah Covid-19, hasil penelitian media intelligence Isentia menunjukkan perbincangan media sosial terkait implementasi langkah pemerintah dan dampaknya terhadap perilaku masyarakat.

Ihwal penetapan larangan mudik dari tanggal (24/4) sampai (5/5) dibicarakan warganet Indonesia sebanyak 14.085 kali di media sosial. Video call bersama keluarga, kerabat menjadi solusi yang diambil masyarakat untuk mengobati rasa rindu karena tidak bisa mudik. Perusahaan telekomunikasi merilis paket kuota murah bagi penggunanya agar tetap dapat menjalin silaturahmi secara online. 

Sebanyak 77.074 postingan media sosial tentang PSBB dan #DiRumahAja ramai dibicarakan warganet dalam seminggu terakhir. Akibatnya tempat-tempat umum ditutup, restoran menetapkan untuk tidak makan di tempat dan hanya boleh untuk delivery maupun take away.

Keriuhan Digital

Memang dunia digital dengan media sosialnya bagi generasi milenial seakan-akan menjadi kebutuhan hidup selama masa karantina. Agar tetap terhubung, bisa bersosialisasi, berkomunikasi, berinteraksi, berkolaborasi, berbagi cerita, pengalaman dengan kawannya.  Internet menjadi satu-satunya pelipur lara, hiburan gratis dari segala bentuk informasi pandemi Covid-19 yang menakutkan.    

Dalam suasana Ramadan, ikhtiar memutus mata rantai penyebaran virus korona di dunia digital, (media sosial), justru semakin riuh dengan menghadirkan plesetan, meme-meme kreatif, humor tentang puasa, Covid-19, ajakan tidak mudik yang membuat lucu, kocak, nyinyir sampai senyum tipis. 

Tradisi Ngebut di Jalanan

Dalam buku Ramadhan di Priangan (Tempo Doeloe) di kalangan “colonial” segala bentuk keisengan selama Ramadan dapat dilihat dari berbagai kebiasaan mulai dari balapan sepeda, motor, mobil di jalanan, sampai perilaku “setan-setan” kecil yang melekat di surau Asyukur dan Masjid Agung Bandung. 

Tradisi ngebut (ngecot) di jalanan kota Bandung, mulai ramai dilakukan para remaja sejak awal tahun 1970-an. Puncaknya pada saat acara ngebut di malam Takbiran (Hari Natal, Tahun Baru) yang membuat repot petugas keamanan. 

Di tahun 1975 umpamanya yang dikerjakan untuk menjadi keamanan malam Takbiran bukan hanya polisi, tapi dibantu oleh Garnisun Bandung, DLAJR, Tribun dan Klub Motor yang ada. Malahan di pertengahan tahun 1970-an itu untuk menanggulangi di malam Lebaran, terpaksa dikerahkan beberapa panzer milik Kavaleri dan satuan pemadam kebakaran.

Kala itu, malam takbiran di kota Bandung yang seharusnya penuh puji-pujian pada Ilahi, ternyata sebagai remaja metropolitan mengubah Jl. Dago, Jl.Diponegoro-Supratman, Tamansari-Siliwangi-Cihampelas, Jl. Merdeka-Braga-Jl. Asia Afrika dan Alun-alun menjadi sirkuit balap motor dan mobil. Sepanjang jalan tadi, ingar bingar, sorak sorai penonton memberi aplaus dukungan kepada para pengebut ditingkah ledakan petasan yang memekakkan telinga. 

Para petugas cukup repot memblokir jalan dengan puluhan drum dan olesan tumpahan oli untuk menghalang-halangi para pembalap, kambuh beraksi. Semprotan air dari barisan pemadam kebakaran tak berhasil membubarkan para supporters dan pengebut, sehingga tembakan peringatan ke udara, terpaksa dilepaskan oleh para petugas.

Dalam peristiwa itu Teten, seorang pengebut bengal dari Astana Anyar sempat tubuhnya tembus kena peluru nyasar. Sejak itulah sang pengebut disanjung-sanjung oleh anak buahnya dengan julukan Teten pelor.

Setiap tahun di Bandung lahir Teten pelor baru yang menggantikan kaka-kaka mereka yang beken sebagai setan jalanan. Setelah tradisi ini mulai menurun, berkurang, kebiasaan buruk itu beralih kepada kegemaran  begadang semalam suntuk, sambil teler, mabuk-mabukan. Tentunya keisengan ini jelas tak tergolong kenakalan remaja lagi karena sudah menginjak tindakan asosial, perilaku yang menyimpang dan tidak selaras dengan semangat beribadah di bulan Ramadan.

Dulu di masa sebelum perang, sampai tahun 1950 an, tatkala motor-motor Jepang belum menguasai jalanan, para remaja di kota Bandung telah mengenal kebut-kebutan selama Ramadan dengan menggunakan sepeda dan berlangsung setelah makan sahur. 

Masih sekitar pukul 3.00 dini hari rampung makan sahur para remaja gedongan, keluar menuntun sepeda, saling jemput dengan anak tetangga, ramai-ramai bersepeda ke Bandung Utara. Jalanan kota Bandung waktu itu masih sunyi, sepi berkabut tebal, sehingga mendorong semangat anak-anak mengayuh kencang sepedanya. Mereka balap, saling adu cepat. Namun semua itu berlangsung dengan tenang, bungkam tanpa suara.Mengapa demikian?

Karena di jaman normal itu malam hari orang dilarang berbuat gaduh, mengganggu tetangga (buuren-geruch). Sedikit kita berbuat gaduh  (ingat bingar), tetangga sebelah rumah dapat dengan cepat memanggil dan mendatangkan polisi. Gawat.

Jadi anak-anak yang ngebut memakai sepeda itu  kejar-kejaran dengan diam-diam di kawasan perumahan orang Belanda (Europeschewijk), sambil melirik-lirik ke pekarangan rumah gedongan, siapa tahu ada pohon jambu mangga jambu ceremai lumayan untuk rujak bebek (tumbuk). Mereka sudah hafal  mana rumah yang punya herder anjing galak, sehingga operasi maling buah bisa berlangsung dengan aman dan tentram.  

Seringkali, remaja tukang kebun itu berbuat iseng. Kalau waktu imsak masih belum terlampaui, maka mereka berani meneguk habis isi botol susu yang terletak di teras rumah orang Belanda. Nyonya Meuller, orang Jerman, tetangga sebelah rumah di Rozenlaan (Kini Jl. Haji Mesri) yang botol susunya diteguk orang, dengan perasaan dongkol ingin balas dendam. Dini hari sang nyonya sudah bangun, memasukkan tiga pil kina (pahit) ke dalam botol susunya. Pagi hari, terlihat ceceran susu tumpahan di teras rumahnya.  “Nah rasain lu, umpan pahitku kena sasaran rupanya” begitu gumam Nyonya Meuller seorang warga Jerman dengan rasa puas dan gembira.

Dari peristiwa itu, maling cilik kita sempat mengambil hikmah, jangan sekali-kali minum susu di satu rumah. Jadi harus digilir tiap hari, minum susu milik orang dari satu rumah ke rumah yang lainnya.

Godaan Setan-setan Anak Kecil

Mesjid ”Asyukur” di Kebon Kawung pada awalnya merupakan sebuah surau wakaf ukuran kecil dengan model rumah panggung. Lantainya masih menggunakan palupuh, belahan bambu yang ditata sejajar. Lewat lubang-lubang di antara bilahan-bilahan bambu di lantai, angin dan udara tertiup semilir membuat ruang surau menjadi sejuk, dingin dan nyaman. Bila mengantuk orang-orang yang lagi tafakkur dan puasa di dalamnya. Dari lubang-lubang palupuh di lantai surau itu "setan-setan" keisengan menggoda orang yang melaksanakan salat tarawih.

Setiap bulan puasa datang, surau kecil di Kebon Kawung itu meluas dibanjiri orang-orang yang datang tarawih. Anak-anak kecil yang biasanya belajar mengaji sambil menunggu bedug berbuka puasa nyaris tak tertampung di kala shalat tarawih berlangsung. Mereka yang sering dianggap tukang bikin gaduh, diusir oleh marebot, penabuh bedug untuk mengikuti tarawih di emperan luar sekeliling surau.

Begitu tarawih dimulai, anak-anak bengal menyusup ke kolong surau, tepat di bawah tempat Imam berdiri. Lewat celah bambu, sebatang lidi dimasukkan pada telapak kaki Imam yang memimpin shalat, sehingga sang imam meliuk-liuk, menggeliat karena kegelian. Tentu saja, lafal bacaannya tersendat-sendat tak karuan. Sedangkan "setan-setan" kecil yang menggoda bubar lari tawuran. Selain memasukan lidi ke telapak kaki, setan kecil terkadang melempar mercon tikus ke kolong surau. Membikin kaget dan galau orang yang lagi khusuk sembahyang.

Ingar Bingar di Masjid Agung

Setelah bulan puasa, segera kita bisa menghampiri Masjid Agung untuk melakukan salat Magrib, berleha-leha menunggu salat Isya dan tarawih. Apa yang mengesankan kala itu, Masjid Agung dipenuhi ratusan anak-anak kecil yang nakal dan bengal, lari kejar-kejaran ke sana ke mari, amat mengusik mereka yang lagi beribadah. 

Anak-anak dari kaum jail suka ngajago, melototin dan mengajak gelut anak daerah lain yang baru pertama kali muncul di Masjid Agung. Kendati kita was-was, ada rasa takut kepada "teroris" kecil itu, namun toh kita merasa lega dan terkesan karena bersama merekalah kita ikut berteriak nyaring Amin.

Sebagai bocah cilik, pada awalnya kita shalat cuma ikut-ikutan. Tengok kiri, kanan, menyesuaikan gerakan badan. Ketika orang menyahut amin, anak-anak kecil berteriak nyaring Amin. Istilah Sunda, ibadah kita kala itu baru menginjak taraf rubuh rubuh gedang

Dulu pada dinding dan pilar ruang depan serambi Masjid Agung, banyak kita dapati paku-paku yang menancap. Sebelum mengerjakan shalat jamaah pria yang datang umumnya berganti busana dulu. Setelah memakai sarung, pantalon dan celana dalam ditinggalkan, lalu digantungkan pada paku-paku 

Kehadiran, meme (kreatif), humor, keisengan (setan-setan kecil) anak-anak selama puasa Ramadan pada titik tertentu harus menjadi katalisator untuk menurunkan ketegangan, kekhawatiran yang berlebihan. Apalagi dalam keadaan mencekam akibat penyebaran pandemi Covid-19 seperti ini, biasanya segala bentuk kritik dapat disalurkan dalam bentuk fragmen, meme, humor. 

nilah model meme, keisengan pada saat menjalankan ibadah puasa Ramadan yang terjadi pada zaman kolonial dan milenial. Mudah-mudahan tetap dapat melintasi batas generasi dan mengobati rasa kerinduan yang tak berujung agar bisa berkumpul, berbagi pada saat ibadah Ramadan.

***

Ibn Ghifarie

Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel terkait

dewanpers