web analytics
  

5 Kunci Kesuksesan Selandia Baru Lawan Covid-19

Senin, 11 Mei 2020 14:23 WIB

[Ilustrasi] Virus Corona. (Pixabay)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Selandia Baru menyatakan menang melawan Covid-19 sejak akhir April 2020. Klaim itu disampaikan Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern karena dalam kurun waktu hampir dua bulan, negaranya hanya bertambah satu kasus positif.

Hingga hari ini, data yang dikutip dari situs Worldometers.info, total kasus positif di Selandia Baru sebanyak 1.497 dan meninggal 21 orang. Sejak 28 April 2020, pemerintah Selandia Baru telah melonggarkan aturan penguncian wilayah.

AYO BACA: Berkeliaran Saat PSBB di Bandung Akan Dipukul Rotan?

AYO BACA: Obat Corona Pesanan Jokowi untuk Bunuh Janin?

AYO BACA: Tempelkan Liur di Bus, Tentara AS Tularkan Corona?

Menurut Duta Besar LBBP RI untuk Selandia Baru, Samoa, dan Kerajaan Tonga, Tantowi Yahya, Selandia Baru memiliki lima keuntungan yang menjadi faktor percepatan penanganan Covid-19 dibandingkan negara lain.

"Bicara Selandia Baru bicara banyak faktor. Kalau dibandingkan Indonesia gak apple to apple. Kita hanya akan bicara apa yang bisa dipelajari dari Selandia Baru," kata Tantowi dalam siaran langsung pada kanal YouTube BNPB Indonesia, Senin (11/5/2020).

Mantan anggota DPR itu menjabarkan 5 faktor yang menjadi keuntungan Selandia Baru dalam menangani Covid-19:

AYO BACA: Benarkah Jokowi Bagikan Kuota Gratis 10 GB?

AYO BACA: Ada Penampakan Kuntilanak di RS Covid-19 Galang?

AYO BACA: Berkendara Tak Pakai Masker Kena Denda Rp5 Juta?

1. Negara terakhir terdampak Covid-19

Menurut Tantowi, negara yang terletak di wilayah Oceania itu menjadi negara paling akhir yang terdampak Covid-19, yakni pada 28 Febuari 2020. Karena itu, Selandia Baru mempunyai waktu yang banyak untuk mempelajari apa yang terjadi di negara lain, cara kerja virus corona, dan penanganan yang dilakukan masing-masing negara.

"Ini sangat menguntungkan. Sebagai negara yang terakhir terdampak mereka jadi prepare. Kita sepakat Covid unpredictable, jadi gak ada negara yang benar-benar siap. Tapi selandia baru saya bisa katakan, mereka siap," kata Tantowi.

Dia mengatakan, sebelum virus corona terkonfirmasi di Selandia Baru, negara itu telah mempelajari apa yang dilakukan Singapura dan Wuhan, Cina, dalam menangani wabah tersebut.

Mereka merasa pasti bahwa pandemi itu juga bisa masuk ke negaranya. Sehingga saat kasus positif Covid-19 terkonfirmasi, Selandia Baru telah mengetahui apa yang harus dilakukan.

AYO BACA: Mayat Korban Virus Corona Penuhi Jalanan Wuhan Cina?

AYO BACA: Thailand Pakai Ganja untuk Sembuhkan Pasien Corona?

AYO BACA: Tahan Napas 10 Detik Bisa Tes Gejala Corona Covid-19?

2. Kebijakan pemerintah jelas

Pemerintah Selandia Baru membuat kebijakan dengan jelas dan dilaksanakan secara konsisten. Tantowi mengatakan, kebijakan itu dibuat berdasarkan pandangan secara sains, pendapat para ahli dan akademisi.

Landasan itu yang digunakan saat membuat Undang-Undang terkait Covid-19. Menurut Tantowi, pembuatan UU di Selandia Baru bisa berlangsung cepat bahkan hanya gitungan hari.

"Sehingga dengan pola seperti ini sulit kita membayangkan ada policy yang meleset. Peraturan tersebut dilaksanakan secara konsisten," katanya.

Salah satu UU yang dibuat khusus untuk kepolisian agar aparat harus berani melakukan tindakan yang cepat dan tegas jika ada masyarakat yang melanggar lockdown.

AYO BACA: Ini Bentuk Virus Corona Jika Diperbesar 2.600 Kali?

AYO BACA: 800 Singa Dikerahkan Agar Warga Social Distancing?

AYO BACA: Benarkah Ilmuwan India Temukan Wujud Virus Corona di Tangan?

3. Dukungan Parlemen

Sebagai negara yang mengadopsi sistem parlementer, Perdana Menteri dan jajarannya sangat membutuhkan dukungan parlemen. Terutama dalam pembuatan UU. Tantowi menyampaikan, dukungan itu yang tercermin di Selandia Baru sehingga pemerintahnya bisa sukses dalam melawan Covid-19.

4. Peran media massa

Sama halnya seperti dikebanyakan negara, Pandemi Covid-19 menimbulkan kepanikan di masyarakat. Namun berita-berita bohong dan menyesatkan terkait virus corona justru menjadi sumber kepanikan lain. Namun hal itu tidak dialami masyarakat Selandia Baru, kata Tantowi.

"Di sini 70% masyarakat Selandia Baru mengandalkan informasinya dari sumber terverifikasi. 70% rakyat Selandia Baru masih baca koran. Posisi ini membuat pemerintah mudah dalam menyebarkan informasi. Karena pemerintah menyebarkan informasi melalui koran, televisi, dan radio," kata dia.

AYO BACA: Pemerintah Gratiskan Akses Internet Akibat Corona?

AYO BACA: Salat Tarawih Boleh Dilaksanakan Seperti Tahun Lalu?

AYO BACA: Ada Negara Buang Jenazah Pasien Covid-19 ke Laut?

Di sisi lain media tidak meninggalkan daya kritis, lanjutnya. Namun terkait pemberitaan Covid-19, media di Selandia Baru membantu dengan hanya memberitakan keberhasilan pemerintah Selandia Baru dalam menangani Covid-19.

Terkait media sosial, Tantowi mengatakan, masyarakat di sana juga menggunakan itu. Namun tidak menjadikan sumber informasi terkait perkembangan penanganan Covid-19 di negaranya.

5. Peran serta masyarakat

Politisi Partai Golkar itu menyebut, masyarakat Selandia Baru sudah terbiasa dengan ujian. Posisi negara mereka yang terletak pada ring of fair membuat masyarakatnya terbiasa dengan gempa bumi.

Sehingga mereka sudah paham apa yang harus dilakukan saat masa krisis dan memudahkan pemerintah dalam melakukan navigasi.

"Sehingga keberhasilan pemerintah dalam menanggulangi Covid-19, kontributor terbesar partisipasi masyarakat yang disiplin yang sangat kuat. Keuntungan itu tidak akan berjalan baik kalau tidak ada dukungan dari masyarakat," tuturnya.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Suara.com.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers