web analytics
  

Mengapa Kita Dilarang Salat Selain Gunakan Bahasa Arab?

Senin, 11 Mei 2020 11:20 WIB
Umum - Ramadhan, Mengapa Kita Dilarang Salat Selain Gunakan Bahasa Arab?, Ramadan, Hikmah Ramadan, Kajian Ramadan, Tata cara salat

Ilustrasi salat berjemaah. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Lafal-lafal yang diucapkan dalam salat pada dasarnya ialah bacaan-bacaan yang diajarkan Rasulullah dan diriwayatkan secara estafet oleh para sahabat. Diriwayatkan dari Malik bin Anas bahwa Rasulullah saw bersabda, “Kerjakanlah salat sebagaimana kalian melihatku melakukannya,” (HR Bukhari).

Universalitas risalah Islam menjangkau semua etnis bangsa, tak terbatas pada masyarakat Arab. Tetapi, tidak setiap muslim mampu melafalkan katakata berbahasa Arab itu dengan mudah, terutama saat menjalankan ibadah salat. Lantas, bolehkah menggunakan bahasa ‘ajam atau bahasa selain Arab, dalam ritual salat?

Hukum asal berbicara atau melafalkan bacaan di luar ketentuan yang lazim sewaktu salat dianggap membatalkan ibadah itu. Pendapat ini berlaku dalam Mazhab Hanafi dan Hanbali.

Bercakap-cakap, sekurang-kurangnya terdiri atas dua huruf, walaupun tidak mempunyai arti, bisa merusak keabsahan salat, baik disengaja ataupun tidak. Di kalangan Mazhab Syafi’i dan Maliki, bila seseorang mengeluarkan perkataan ketika salat maka tidak membatalkannya selama perbuatannya itu terjadi karena lupa, kadarnya pun hanya sedikit.

AYO BACA : Begini Tata Cara Salat Idulfitri di Rumah

Penegasan larangan berbicara itu ditegaskan, antara lain, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Zaid bin Arqam. Hadits yang dinukil oleh Bukhari itu mengisahkan, pernah suatu ketika para sahabat sedang melaksanakan salat berjamaah dengan Rasulullah.

Dua orang sahabat sembari salat, asyik bercengkerama. Maka, turunlah ayat: “Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk,’’ (QS Al Baqarah [2] /: 238).

Lantas, apa hukum menggunakan salat dengan bahasa ‘ajam? Dalam buku Kumpulan Fatwa Majelis Ulama Indonesia disebutkan salat yang disertai terjemah bacaannya dengan bahasa ‘ajam, dinyatakan tidak sah. Hal ini karena tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah.

Salat adalah ibadah murni (mahdhah) yang pelaksanaannya wajib mengikuti petunjuk Rasulullah. Baik dalam bacaan maupun gerakannya.

AYO BACA : Bagaimana Hukum Salat Pakai Masker?

Segala bentuk aliran dan paham yang mengelaborasikan salat menggunakan bahasa ajam, dinyatakan batil dan tertolak. Kesimpulan yang sama juga diputuskan oleh Dewan Hisbah Persatuan Islam (Persis).

Dalam buku Kumpulan Keputusan Dewan Hisbah Persis disebutkan bahwasanya bacaan salat yang ditambah dengan terjemahannya tidak sah. Pada masa awal Islam, para sahabat yang berasal dari luar Makkah dan Hijaz, serta yang berdarah non-Arab, kesulitan melafalkan huruf-huruf Arab.

Ketika itu bahasa Arab masih terdengar asing di telinga mereka. Namun, tak seorang pun yang diberi keringanan oleh Rasulullah untuk menggunakan bahasa mereka masing-masing.

Bahkan, orang Arab yang belum hafal surah al-Fatihah pun tidak diizinkan oleh Rasulullah untuk membaca dengan bahasa yang dikuasainya. “Dan jika tidak (bisa berbahasa Arab) hendaklah bertahmid, bertakbir, dan bertahlil,” demikian jawaban Rasulullah yang dinukil oleh Abu Daud, dalam kitab Sunan-nya.

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/UPQ5QvNsh6s" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>

AYO BACA : [Kajian Ramadan] Rahasia dan Keutamaan Salat Tarawih

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Fira Nursyabani

artikel terkait

dewanpers