web analytics
  

Menjajal Vaksin Sampar Anyar

Minggu, 10 Mei 2020 09:27 WIB Netizen ATEP KURNIA
Netizen, Menjajal Vaksin Sampar Anyar, wabah sampar, sampar banjaran, sampar batujajar,

Pemandangan Batujajar. Dua kewedanaan di Bandung tempat pertama percobaan vaksin antisampar anyar ciptaan Otten adalah Banjaran dan Batujajar. (Sumber: KITLV)

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

Pagi-pagi, hari Jumat, 2 November 1934, masyarakat dari pelosok daerah Banjaran berbondong-bondong ke pendopo Kewedanaan Banjaran. Mereka hendak mengikuti penyuntikan pertama vaksin antisampar yang dibuat oleh Dokter Louis Otten. Vaksinasi tersebut dipimpin oleh Dr. M.W. Thierfelder, dokter kepala di Bandung. Dia dibantu oleh Dr. R. Springer, G. Roosdeutscher, Dokter Tirtohoesoto, dan mantri Salim serta mantri Oesman.

Bupati Bandung R.A.A. Wiranatakoesoema datang pada pukul setengah sembilan. Ia disertai patih Bandung dan banyak wedana yang turut hadir di sana. Di sebuah meja, alat-alat medis dipersiapkan, Roosdeutscher dan Tirtohoesoto bekerja bersama dua mantri. Mereka sedang memaksinasi pamong desa. Di pintu masuk, Dr. Thierfelder memegang daftar nama 1.600 orang yang akan divaksinasi hari itu. Dr. Springer yang mencontreng nama orang yang sudah divaksin. Anak-anak di bawah umur 15 tahun mendapatkan porsi vaksin lebih sedikit, yang diatur oleh Roosdeutscher, sementara Tirtohoesoto menyuntik orang-orang dewasa.

Penyebab berbondong-bondong hendak disuntik, karena uji coba pertama vaksinasi antisampar tersebut hanya untuk setengah penduduk Banjaran. Tidak semuanya. Saat nama-nama mereka disebut, masing-masing orang maju ke depan, dengan wajah takut atau malu-malu. Sesudah disuntik, mereka meninggalkan halaman pendopo, sambil melihat pada bahunya, bekas suntikan. Bisa dikatakan tidak ada keberatan dari masyarakat baik dengan alasan agama atau alasan lainnya untuk penyuntikan tersebut. Tapi anak-anak muda banyak yang menolak orang asing yang memakai mantel panjang berwarna putih itu mendekatinya. Orang asing itu membawa perkakas mengkilat yang menakutkan.

Foto-01
Wedana Banjaran dan staf di depan pendopo pada abad ke-19. Di pendopo ini, pada 1934, masyarakat berbondong-bondong untuk divaksinasi antisampar ciptaan Dokter Otten. (Sumber: KITLV)

Ternyata hasil vaksinasi tersebut sangat memuaskan. Tidak ada penolakan di antara penduduk, melainkan merasa kecewa bila di antara mereka tidak kebagian disuntik vaksin. Hasil vaksinasi tersebut, antara lain, mengemuka dalam rapat anggaran Kabupaten Bandung pada minggu keempat November 1934. Anggota Dewan Kota Bandung Dr. Heerdjan memberikan ucapan selamat kepada Dokter Otten, disertai tepuk tangan meriah. Bahkan, ketua Dewan Kota Bandung memohon untuk menyampaikan surat tanda terima kasih kepada Dokter Otten dan Kepala Dinas Kesehatan Umum. Permintaan tersebut tentu saja diamini anggota dewan lainnya.

AYO BACA : Sampar di Cicalengka, 1932-1935

Pada hari Rabu, 5 Desember 1934, sebulan lebih setelah vaksinasi pertama di Banjaran serta Batujajar, wedana Banjaran dan Batujajar melaporkan hasil vaksinasi tersebut kepada patih Bandung, dalam rapat di pendopo Kabupaten Bandung. Mereka menyatakan tidak ada lagi kasus sampar di daerahnya, kecuali yang terinfeksi sebelum adanya vaksinasi. Di sisi lain, di Garut muncul protes: Isinya ketakutan tidak kebagian vaksin baru tersebut. Namun, upaya vaksinasi tersebut, menurut rencana, akan dilakukan secara massal pada pertengahan Januari 1935.

Selanjutnya, pada 11 Desember 1934, dalam laporan dokter pemerintah daerah Bandung, disebutkan ada enam orang yang meninggal akibat sampar di Bandung antara 23 November hingga 1 Desember 1934. Di Kewedanaan Banjaran, yang penduduknya sudah disuntik dengan vaksin antisampar Dokter Otten, ditemukan kasus kematian akibat sampar selama lima minggu: 13, 13, 13, 11 dan 9 orang, sehingga dengan demikian menunjukkan penurunan kematian akibat sampar.

Sementara yang terjadi di Batujajar, Cimahi, sebagaimana yang dilaporkan pada 20 Desember 1934, Dienst der Pestbestrijding (Dinas Pengendalian Sampar) di Bandung mengatakan bahwa karena puasa, vaksinasi sampar akan dilanjutkan pada 15 Januari 1935. Di Cimahi dan sekitarnya dihuni sekitar 50.000 jiwa.

Di balik keberhasilan penciptaan vaksin antisampar tersebut, ada upaya kerja keras yang dilakukan sang direktur Instituut Pasteur di Bandung: Dokter Otten. Ia sejak lama memang sudah melakukan penelitian terhadap penyakit sampar. Proses, cara dan waktu menemukan vaksin anyar tersebut ia ungkapkan pada tulisan berjudul “Experimenteele vaccinatie tegen pest” (dalam Geneeskundig Tijdschrift voor Ned.- Indië, DEEL 73, Afl. 14, 4 Juli 1933).

Dalam tulisan ini, Otten, antara lain, menyimpulkan empat hal. Pertama, hasil percobaan vaksinasi antisampar tergantung pada banyak faktor, termasuk dosis infeksi pada spesies hewan percobaan di laboratorium. Kedua, marmot sangat sensitif bagi infeksi baksil sampar sehingga paling sukar diimunisasi, sementara tikus putih jinak yang agak tidak sensitif termasuk paling mudah dimunisasi; tikus rumah liar memperlihatkan efek sensitif dan imun, bila dibandingkan kedua hewan sebelumnya. Ketiga, karena pada batas tertentu ada hubungan antara derajat sensitivitas dan potensi imunogenik, sehingga diperlukan kajian lebih lanjut. Keempat, sangat direkomendasikan untuk menggunakan metode standar untuk melawan sampar dalam percobaan vaksinasi untuk meyakinkan kemujaraban vaksin dan nilai kebenarannya.

AYO BACA : Jaarbeurs-Jubileum dan Sampar di Bandung

Adapun gagasan penemuannya bermula saat tahun 1929 dia menemukan tikus di Ciwidey yang terinfeksi sampar. Dia mengambil agen bibit penyakit dari tikus yang kemudian mati karena sampar. Agen berupa mikroorganisme itu disimpan oleh Otten. Enam bulan kemudian, Otten memerlukan agen untuk percobaan infeksi. Ia mengambil agen dari tikus Ciwidey. Marmot yang ia suntik dengan mikroorganisme dari tikus Ciwidey tidak mati, dan suntikan kedua bahkan menyebabkan marmotnya sembuh. Percobaan demi percobaan terus dilakukan Otten terhadap marmot-marmot lain serta tikus liar maupun tikus putih.

Dalam percobaan pertamanya, ada sembilan dari sepuluh tikus rumah terus hidup setelah divaksinasi tiga kali, sementara lima tikus yang divaksinasi sekali juga hidup; kemudian dari 15 marmot yang dijadikan percobaan tidak ada yang mati, tidak juga pada 15 tikus putih, dan dari 15 kera. Tapi ia masih penasaran, sehingga terus melakukan percobaan-percobaan lagi.

Foto-02
Alun-alun Banjaran pada abad ke-19. Sebagian masyarakat yang tidak divaksinasi, pada 1934, barangkali menyaksikan jalannya penyuntikan dari alun-alun ini. (Sumber: KITLV)

Hasil percobaannya yang paling definitif akhirnya diumumkan pada Agustus 1934. Kemudian pada Kamis, 18 Oktober 1934, ada diskusi antara Dr. Offringa (Kepala Dinas Kesehatan Umum), Dr. Otten, dan Dr. Rosier. Isi bahasannya adalah penerapan vaksin antisampar ciptaan Dokter Otten. Setelah dikonsultasikan dengan pangreh praja di Kabupaten Bandung, akhirnya disepakati untuk mulai mengadakan eksperimen penerapan vaksin antisampar pada masyarakat. Sebagian penduduk pada dua kewedanaan di Bandung, yakni Banjaran dan Batujajar, akan divaksinasi dan sebagian lainnya tidak, karena untuk perbandingan. Pelaksanaan kegiatan tersebut pada November-Desember 1934.

Data-data di atas saya kumpulkan dan sarikan dari koran-koran berbahasa Belanda, yaitu De Sumatra Post, Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch Indie, De Telegraf, De Locomotief, Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch Indie, De Indische Courant, dan Bataviaasch Nieuwsblad antara 17 Agustus hingga 20 Desember 1934, ditambah tulisan Otten sendiri. Data-data tersebut menggambarkan upaya pemerintahan kolonial dalam kerangka menjajal vaksin antisampar anyar ciptaan Otten, setelah ia melakukan percobaan bertahun-tahun lamanya sejak 1929. Karena vaksin sebelumnya, Haffkine, sering dikatakan tidak efektif untuk memerangi wabah sampar yang menjangkit di Pulau Jawa.

***

Atep Kurnia

Peminat Literasi dan Budaya Sunda

AYO BACA : Arsitektur Sunda Setelah Wabah Sampar

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

artikel terkait

dewanpers