web analytics
  

Sopir Doa Ibu Jual Perhiasan Istri untuk Beli Susu Anak

Sabtu, 9 Mei 2020 07:03 WIB Irpan Wahab Muslim
Umum - Regional, Sopir Doa Ibu Jual Perhiasan Istri untuk Beli Susu Anak, Sopir bus, dampak psbb, doa ibu, bus doa ibu

Bus Doa Ibu. (Karoseri bus)

TASIK, AYOBANDUNG.COM – Kebijakan pemerintah Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat sejumlah awak angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) di Tasikmalaya menjerit. Mereka harus kehilangan banyak penghasilan karena tidak bisa keluar masuk kedua wilayah tersebut.

Pengurus PO Do’a Ibu, Amur (50) menuturkan, kebijakan PSBB perlahan mematikan usaha angkutan. Mereka tidak bisa membawa penumpang baik dari wilayah Jakarta maupun sebaliknya. Meskipun ada imbauan Mentri Perhubungan tentang diperbolehkannya moda transportasi beroperasi, kebijakan itu tidak berdampak apapun bagi pangusaha angkutan.

“Jadi bingung ke kita sebagai pengusaha, dipihak lain mentri memperbolehkan beroprasi, tapi dilain pihak ada pelarangan mudik dan PSBB, jadi kita bingung, “ kata Amur, Jumat (8/5/2020).

Amur menambahkan, akibat kebijakan dari pemerintah itu, pengusaha angkutan terpaksa memberhentikan operasional untuk sementara. Kalaupun beroperasi mereka kebingungan mencari penumpang. PO Do’a Ibu bahkan terpaksa merumahkan 320 awak angkutan utnuk mengurangi operasional perusahaan.

“Awak angkutan adalah 320 orang yang termasuk sopir sama kondektur terpaksa kami rumahkan. 

Kurniar (48) salah satu sopir menuturkan, dampak dari PSBB dan ketidakjelasan kebijakan pemerintah kini harus dirasakan awak angkutan. Dirumahkan oleh perusahaan membuat mereka kebingungan mencari penghasilan. Padahal biaya kehidupan untuk makan dan lainnya berjalan setiap hari.

“Ya kita mau protes ke perusahaan, perusahaan juga bingung mungkin karena tidak ada penumpang. Kita hanya bisa pasrah saja, “ kata Kurnia.

Bahkan, kata Kurnia, ia sendiri harus menjual harga benda yang dimiliki seperti emas dan barang elektronik hanya sekedar untuk bertahan hidup. Terlebih ia mempunyai anak yang masih berumur satu tahun.

“Buat beli susu saja sulit sekarang mah, bantuan juga nggak dapat dari pemerintah, terpaksa jual apa yang dipunya,“ ucapnya. 

Editor: Andres Fatubun
dewanpers