web analytics
  

Cerita Pesantren Cintawana, Tertua di Tasikmalaya

Kamis, 7 Mei 2020 22:20 WIB Irpan Wahab Muslim

Pesantren Cintawana, Pesantren Tertua di Tasikmalaya. (Ayotasik.com/Irpan)

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM -- Pesantren Cintawana yang berada di Desa Cikunten Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya disebut-sebut sebagai salah satu pesantren tertua di Tasikmalaya yang didirikan oleh KH. Muhammad Toha pada 12 April 1917.

Jauh sebelum mendirikan Pesantren Cintawana, KH. Muhammad Toha mendirikan pesantren Cipansor Desa Buniasih Kecamatan Ciawi pada tahun 1812. Namun karena adanya intervensi dari pemerintahan Balanda, memaksa KH. Muhammad Toha berpindah domisili ke Singaparna,

Dengan berbagai halangan dan rintangan pada masa colonial, KH. Muhammad Toha mampu mendirikan dan mengembangkan Pesantren Cintawana. Hingga pada tahun 1945, KH. Muhammad Toha wafat dan kepengurusan pesantren dilanjutkan oleh putra sulungnya yakni KH. Ali.

Pada masa kepemimpinan KH. Ali atau periode 1948 hingga 1958, Pesantren Cintawana menetapkan system pengajaran yang berbeda dengan psantren lainnya yakni kegiatan majelis taklim. Hal ini lantaran, santri maupun pengasuh pesantren ikut dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan tergabung dalam barisan Sabilillah dan Hizbulloh. Pada periode itu pula, Pesantren Cintawana sempat dijadikan markas perjuangan TNI.

“Setelah KH. Ali wafat tahun 1958, pesantren dipimpin oleh adiknya yaitu KH. Ishak Farid," kata Pengasuh Pesantren Cintawana KH. Asep Suja’i Farid, Kamis (7/5/2020).

Pada kemepimpina KH. Ishak Farid, pihak pesantren medirikan pendidikan formal yakni tingkat SMP pada tahun 1965 sedangkan pada 1970 didirikan sekolah formal tingkat SLTA dengan menggunakan kurikulum dari pemerintah.

“Tidak hanya aktif mengembangkan dunia pendidikan, KH. Ishak Farid juga aktif dalam politik dengan ditunjuknya sebagai anggota DPRD Jawa Barat selama 8 tahun,” ucap KH. Asep.

KH. Ishak Farid wafat pada 1987 di usia 63 tahun. Perjuangan mengembangkan Pesantren Cintawana diteruskan oleh adik kandungnya, KH Onang Zaenal Muttaqin, dibantu oleh keluarga di antaranya KH Adang Sofyan, KH Aep Saepulloh, KH A. Rosidin, dan KH Asep Sujai.

“Pada masa KH Onang berdiri taman kanak-kanak, TKA, TPA, TQA, SMK, dan pengembangan fisik serta sarana prasarana pesantren seperti asrama putra dan putri. Alhamdulilah saat ini saja murid atau santri di kami mencapai 2000-an lebih,“ papar Asep Sujai.

Editor: Dadi Haryadi

artikel lainnya

dewanpers