web analytics
  

Anomali Inflasi di Masa Pandemi

Rabu, 6 Mei 2020 13:23 WIB Netizen Yana Hendriana
Netizen, Anomali Inflasi di Masa Pandemi, Inflasi, inflasi Kota Bandung, TPID, Satgas Pangan, inflasi ramadan, inflasi april,

Ilustrasi. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

AYOBANDUNG.COM -- Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis angka inflasi April 2020 sebesar 0,08 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan capaian inflasi bulan sebelumnya yaitu 0,10 persen. Melambatnya inflasi di bulan April yang bertepatan dengan masuknya bulan Ramadan ini disebut oleh Kepala BPS Suhariyanto sebagai fenomena yang tidak biasa. 

Kondisi perekonomian saat ini dihadapkan pada dua fenomena besar yaitu momen puasa Ramadan dan terjadinya wabah pandemi global Covid-19. Secara historis angka infasi pada saat bulan Ramadan cenderung lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Mengacu pada data tahun lalu, inflasi pada awal Ramadan yang terjadi di bulan Mei 2019 sebesar 0,68 persen. Ini merupakan inflasi bulanan tertinggi yang terjadi selama tahun 2019. Begitu pula yang terjadi pada setiap tahunnya, inflasi pada saat Ramadan selalu lebih tinggi dibandingkan inflasi yang terjadi pada bulan sebelum Ramadan.

Tingginya inflasi pada saat puasa Ramadan tidak lepas dari tingginya permintaan masyarakat terhadap berbagai komoditas khususnya komoditas bahan pokok. Peningkatan gairah ekonomi ini biasa terjadi karena adanya perilaku masyarakat yang ingin ‘lebih’ dalam menyajikan menu khususnya pada saat berbuka ataupun sahur. Di samping juga banyaknya kegiatan buka bersama yang meningkatkan permintaan bahan makanan lebih tinggi dari biasanya. Faktor meningkatnya permintaan ini juga banyak dipengaruhi oleh faktor psikologis masyarakat ketika menghadapi bulan puasa Ramadan. Beberapa dari mereka selain menambah nilai yang biasa dibelanjakan sehari-hari, juga melakukan panic buying karena khawatir harga akan naik atau tidak kebagian bahan makanan yang diinginkan di pasaran.

Momen lainnya yang terjadi saat ini yaitu adanya wabah Covid-19 yang telah dinyatakan sebagai pandemi global. Pemerintah telah menetapkan bahwa Covid-19 sebagai bencana nasional. Sebelumnya BNPB juga telah menetapkan tanggap darurat Covid-19 sampai dengan 29 Mei 2020. Kejadian bencana pada umumnya akan mendorong terjadinya inflasi. Sebagai contoh bencana tsunami yang terjadi di Palu akhir September 2018 silam, memicu infllasi Oktober 2018 di Kota Palu sebesar 2,27 persen.  Hal ini dapat dipahami karena bencana biasanya menyebabkan suplai bahan kebutuhan pokok terhambat sehingga harga menjadi naik.

Lalu, mengapa kedua momen yang seharusnya menjadi pemicu inflasi justru tidak terjadi saat ini? Jawabannya tentu kita ketahui bersama bahwa bencana yang terjadi kali ini merupakan bencana yang tidak biasa. Wabah Covid-19 memaksa kita untuk mengurangi aktivitas ekonomi dengan adanya pembatasan-pembatasan yang telah diatur oleh pemerintah. Tujuannya untuk memutus mata rantai penularan virus Covid-19. Pembatasan ini berdampak sangat besar terhadap perekonomian khususnya terhadap inflasi.

Komoditas-komoditas khas pemicu inflasi bulan Ramadan tidak muncul dan memberikan andil yang tinggi terhadap inflasi kali ini. Hanya beberapa komoditas seperti emas perhiasan, bawang merah dan gula pasir yang biasa memicu inflasi di bulan Ramadan masih tetap mengalami kenaikan harga. Komoditas-komoditas lainnya bahkan mengalami penurunan harga. Yang paling mencolok adalah tarif angkutan udara. Tarif angkutan udara di setiap momen puasa atau lebaran selalu menjadi komoditas utama penyumbang inflasi. Dengan adanya kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berkala Besar) di beberapa wilayah dan larangan mudik menyebabkan komoditas ini mengalami penurunan yang cukup tinggi.

Selain disebabkan karena adanya beberapa pembatasan, melambatnya inflasi April juga dimungkinkan karena adanya penurunan daya beli masyarakat akibat terhentinya sementara aktivitas ekonomi atau bahkan terkena PHK. Turunnya daya beli masyarakat menyebabkan permintaan terhadap barang dan jasa berkurang. Hal ini terlihat juga dari 90 kota IHK, 51 kota diantaranya mengalami deflasi.

Inflasi yang rendah dan stabil merupakan cerminan dari perekonomian yang cukup sehat. Hal itu pulalah yang mendorong pemerintah dan Bank Indonesia untuk membentuk Tim Pengendali Inflasi baik skala nasional maupun daerah. Tim ini bertugas menjaga kestabilan harga komoditas di masyarakat sehingga target inflasi yang ditetapkan dapat tercapai. Namun, inflasi yang rendah atau deflasi yang terjadi karena pelemahan daya beli masyarakat merupakan preseden yang buruk bagi perekonomian nasional. Inilah yang menjadi tantangan besar kita saat ini untuk menjaga agar kesejahteraan masyarakat tetap terjamin pada saat ini maupun di masa mendatang.

Pandemi ini memberikan dampak besar pada berbagai sektor kehidupan di masyarakat. Diharapkan pemerintah mengambil kebijakan yang tepat bagi masyarakat yang terdampak, dan bagi kita yang masih bisa membantu, inilah saat yang tepat di momen bulan puasa Ramadan untuk membantu sesama. Selayaknya juga kita selalu berdoa agar wabah ini bisa cepat berlalu, disamping juga tetap menaati berbagai aturan yang ditetapkan pemerintah untuk memutus mata rantai penularan virus ini.   

***

Yana Hendriana, Fungsional Statistisi Muda pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung Barat.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel terkait

dewanpers