web analytics
  

Cara Kreatif Korban PHK Bertahan Hidup di Bekasi

Selasa, 5 Mei 2020 16:04 WIB Firda Puri Agustine
Umum - Regional, Cara Kreatif Korban PHK Bertahan Hidup di Bekasi, korban phk,covid-19,berita bekasi

Sapto saat memperbaiki mesin motor

BEKASI, AYOBANDUNG.COM–Siang itu Sapto, 40 tahun, mengirimkan fotonya sedang membongkar mesin motor. Kemudian, ia lanjut mengirim teks, “Mbak, sekarang saya buka jasa perbaikan motor dan elektronik ya, barangkali ada barang di rumah yang rusak bisa saya perbaiki,”.

Tadinya, pria yang tinggal di Bekasi Timur itu merupakan pekerja pabrik kosmetik di daerah Cikarang, Kabupaten Bekasi. Namun, sekarang banting setir membuka usaha kecil-kecilan di depan rumah kontrakannya.

“Habis kena PHK, enggak bisa mudik, jadi ya sudah begini ini. Yang penting ada pemasukan buat sehari-hari,” kata Sapto kepada Ayobekasi, Selasa (5/5/2020).

Sebelum pandemi Covid-19, bapak dua anak tersebut juga menjalani profesi sampingan sebagai pengemudi ojek online. Penghasilannya kala itu terbilang baik. Minimal bisa membayar sewa rumah tepat waktu dan membeli sembako.

Namun, semua kehidupannya berubah drastis ketika Corona datang. Pun, ia tak menyangka akan terkena PHK. Bingung di awal, Sapto kemudian bangkit. Dia tak bisa meratapi nasib terus menerus.

“Pikiran sempat blank gitu, ke depan mau gimana ini. Alhamdulillah saya punya kemampuan benerin mesin, saya coba cari rejeki di sini,” ujarnya.

Nasib baik berpihak pada dia. Pelan tapi pasti kantongnya mulai terisi. Selalu ada saja yang minta bantuan Sapto memperbaiki ini dan itu.

“Saya enggak pernah pasang tarif gimana-gimana karena yang minta bantuan kebanyakan teman dan tetangga, tapi alhamdulillah pemasukan lebih baik. Ada harapan gitulah,” katanya.

Optimisme serupa juga dimiliki Handayani, seorang ibu rumah tangga yang kini menjalani keseharian menjahit masker kain. Suaminya yang hanya pengemudi ojek online tak bisa berbuat banyak di masa pandemi saat ini.

“Dia jalan kemana juga sepi, kadang dapat satu orderan kirim paket aja udah alhamdulillah,” ujarnya.

Ide menjahit masker kain diperoleh ketika ada tetangganya menawarkan kerjasama. Kebetulan, Handayani memang memiliki keahlian menjahit. Tanpa modal sepeserpun, ia mulai melangkah.

“Tetangga punya toko online, jadi dijualinnya di situ. Saya enggak pakai modal, jadi dapat komisi aja satu masker saya dapat Rp 2000 dari harga jualnya Rp 7000,” kata dia.

Dalam sehari, permintaan masker kain buatannya bisa mencapai 100 lembar. Bahkan, pernah melampaui 200 lembar. Dengan hasil itu, Handayani bisa menopang kehidupannya menjadi jauh lebih baik.

“Asal kita jangan putus asa dan berdoa, Allah pasti kasih jalan,” ujarnya.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers