web analytics
  

Corona, Puasa, dan Tradisi Sunda yang Hilang

Sabtu, 2 Mei 2020 15:57 WIB Netizen Djasepudin
Netizen, Corona, Puasa, dan Tradisi Sunda yang Hilang, Cucurak cibinong,ramadan,corona

Kebersamaan masyarakat Sunda dalam momen keislaman (dokumen: Djasepudin)

Djasepudin

Guru (Honorer) SMA Negeri 1 Cibinong, Bogor

AYOBANDUNG.COM--Indonesia adalah tempat yang tepat dalam keberagaman dan keberagamaan. Di Nusantara ini nilai-nilai spiritualitas bisa berjalin berkelindan dengan hal-ihwal kebangsaan. Salah satu penanda yang menegaskannya adalah momentum Ramadan.

Karena memiliki kemuliaan ketimbang bulan-bulan lainnya maka kehadiran Ramadan disambut gegap-gempita urang Sunda. Lahirlah tradisi munggahan, nyekar, cucurak, mamaleman, dan lebaran.

Sayang, pada Ramadan tahun ini, tradisi munggahan, dan mungkin selama Ramadan, beragam kegiatan dan dinamika khas Ramadan, terasa mereda, tertunda, bahkan dengan sengaja dihindarkan. Adalah Covid 19 yang menjadi pangkal persoalan. 

 Sejatinya kegaliban masarakat kita itu senang berkelompok, kumpul ngariung bongkok ngaronyok. Di mana dan kapan pun lebih afdol jika berkumpul, berdekatan tak ada jarak fisik. Bahkan, ada istilah kopi sagelas ogé diregot babarengan.

Namun, kini, seiring anjuran pemerintah, tradisi yang sudah lama mendarah daging itu mesti dihindari. Di antara kita dihimbang tidak berdekatan. Kegiatan sosial dan keagamaan sekalipun mesti dibatasi. Mau tak mau, demi memutus mata rantai virus ganas, ya kita patuhi.

Dengan demikin, tradisi pra dan pasaca-Ramadan ini, khusus tahun ini, mungkin banyak yang kurang berasa dari dimensi sosial budaya. 

Hari ini, dua hari sebelum 1 Ramadan 1441 H, di pemakaman-pemakaman umum masih terlihat sepi. Padahal, lazimnya, satu bulan hingga satu hari sebelum hari-H komplek astana itu ramai oleh para peziarah. Karena sepi pula, otomatis penjual khas pemakaman semacam bunga rampai dan wewangian pun sepi dari pembeli. Ekonomi masyarakat benar-benar turun.

Padahal ritual jarahnadran, atau nyekar itu didawamkan sebagai rasa hormat kepada orang tua, sahabat, atau kerabat yang telah mendahului kita menghadap kepada Gusti Nu Maha Suci.

Syah-syah saja ada yang menganggap tradisi ziarah masuk pada kolom bid’ah. Namun dibalik tuduhan itu tersimpan makna yang mendalam. Antara yang hidup dan yang mati sejatinya ada jalinan komunikasi. Meski tidak mewujud namun tali batin melalui rangkaian do’a amat diharap oleh penghuni kubur.

Selain itu, nisan dan gundukan tanah makam adalah sebuah peringatan bagi kita bahwa, hidup dunia tidak akan abadi, suatu hari nanti kita juga akan mengikuti jejak yang telah mati. Oleh karena itu dalam menyongsong ‘rumah masa depan’ kita mesti memperbanyak amal perbuatan yang baik dan benar.

Selain nyekar, tradisi munggahan yang kini terasa hilang dan nyata tak terlihat adalah curak-curak atau cucurak. Curak-curak adalah makan yang enak-enak, menyandap hidangan yang serba nikmat. Tentu saja cucurak dilakukan berjamaah. Cucurak kerap dilakukan di taman, kebun, sawah, bahkan sengaja sengaja mencari area terbuka di alun-alun hingga pegunungan.

Kemeriahan cucurak terlihat dari jumlah makanan yang sungguh beragam. Hidangan enak itu ada karena dibawa para anggota keluarga. Akhirnya, antar-keluarga saanak-incu silihasaan. Nikmat tiada tara. Dengan keluarga makin intim, menjelang Ramadan tiada perselisihan, serta bagi anak-anak kita tradisi cucurak adalah solusi baik dalam memanjangkan tali silaturahim. Agar saling mengenal. Teu pareumeun obor.

Lagi-lagi, pada tahun ini tradisi cucurak sepi geliat. Hanya beberapa keluarga inti yang jarak rumahnya berdekatanlah yang masih bisa adakan cucurak. Minimal tidak menghilangkan talari paranti

Tradisi munggahan yang masih dilakukan dengan sendiri adalah kurames atau mandi membersihkan seluruh anggota tubuh. Sayang, tradisi kurames sekarang juga tidak dilakukan secara berjamaah. Hal itu karena sekarang tiap warga sudah memiliki kamar mandi sendiri. Ihwal privasi pribadi yang jadi alasannya.

Bukan melulu corona, zaman sekarang air bersih di tempat umum semacam walungan-wahangan (sungai), atau tampian-pancuran atau mata airnya pun sekarang mahmemang sudah sangat jarang ditemukan. Betul, masih ada sungai Citarum, Ciliwung, Cisadane, atau Citanduy namun keberadaaan airnya sudah sangat kotor karena terkontaminasi aneka macam limbah membahayakan. Bila memaksakan kurames, alih-alih tubuh jadi bersih malah terjangkit pelbagai penyakit kulit.

Corona bukan alasan kita meninggalkan ibadah. Baik pada Allah Swt maupun ibadah muamalah. Kini, saat tepat dalam adakan nganteuran dan sidekah. Nganteuran adalah tradisi mengirim makanan jadi (nasi, rendang atau semur daging, oseng bihun atau emih, serta makanan ringan macam ranginang, wajit dan uli) dari anggota keluarga yang muda kepada yang lebih tua, terutama ibu-bapak. Nganteuran dilakukan juga pada orang yang lebih dihormati dan pantas dikasihi, guru ngaji atau fakir miskin, misalnya.

Adapun sidekah, adalah tradisi di setiap rumah tangga dengan mengumpulkan para orang tua atau lak-laki yang sudah dewasa untuk mengadakan tahlilan. Hal itu selain mendo’akan orang terhormat dan berjasa yang telah meninggal dunia juga berharap bulan Ramadan yang akan dihadapi bisa dilalui dengan sempurna. Dengan sidekah di setiap rumah, selain ‘pertukaran’ makanan antarwarga juga terjalin proses silaturahmi.

Anda mau bersedekah tanpa keluar rumah? Tentu saja sangat bisa. Kini zamannya paket dan jasa pengiriman. Baik masakan jadi maupun bahan makanan. Paket sembako yang pemerintah sendiri belum sanggup mencukupinya, ada baiknya dibantu oleh para pemilik rizki lebih. Baik perusahaan maupun individu-individu yang berjiwa dermawan. 

Satu lagi, kini tradisi mudik bukan saja dihimbau, tetapi demi kebaikan keseluruhan, tradisi mudik munggah dan lebaran pun sudah masuk tahapan dilarang. 

Maka, wayahna, Ramadan dan lebaran pada tahun ini, jika ada yang hilang. Baik spriritnya maupun jasadiahnya.  

DJASEPUDIN

Guru (Honorer) SMA Negeri 1 Cibinong, Bogor  

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel terkait

dewanpers