web analytics
  

Penyintas Covid-19 Tak Langsung Sembuh Sempurna

Sabtu, 2 Mei 2020 10:44 WIB

[Ilustrasi] Petugas medis membawa pasien saat simulasi ke Ruang Isolasi Khusus Kemuning Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Jalan Pasteur, Kota Bandung, Jumat (6/3/2020). (Ayobandung.com/Kavin Faza)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM – Efek panjang bagi penyintas atau pasien yang berhasil sembuh dari virus covid-19 masih belum terlalu jelas. Banyak di antara mereka yang tidak bisa langsung sembuh sempurna.

Bahkan, PM Inggris Boris Johnson juga butuh waktu dan fisioterapi sebelum bisa kembali bekerja pada akhir April. Dia sempat mendapatkan bantuan oksigen, masuk ruang perawatan intensif (ICU) hingga akhirnya bisa duduk di ranjang rumah sakit, berjalan jarak dekat, lalu pulang ke rumah untuk menjalani dua pekan isolasi mandiri.

Sementara itu, ada pula penyintas covid-19 lain yang kondisinya lebih parah dari Johnson. Mereka membutuhkan fisioterapi agar dapat pulih seperti semula.

"Setelah 10 hari orang membutuhkan alat bantu napas, mungkin memakai ventilator dan mendapatkan obat-obatan, kita tidak bisa begitu saja berkata, 'Anda telah memenangkan pertarungan, silakan kembali ke dunia'," ujar dr James Gill, dosen klinis di Warwick University, dikutip dari The Sun, Jumat (1/5/2020).

Gill menyebutkan, para pasien akan membutuhkan perawatan lebih lanjut dari pakar nutrisi untuk memandu mereka mendapatkan makanan yang bernutrisi baik dan fisioterapis untuk membantu mereka bergerak seperti semula.

Terdapat keterangan dari sejumlah penyintas covid-19 bahwa mereka membutuhkan sekian hari atau pekan untuk bisa kembali berdiri atau berjalan seperti semula.

Pasien lain yang diperbolehkan pulang dari RS Torbay, Inggris, pekan ini terpantau mengalami kehilangan massa otot dan merasa kekurangan energi.

Gill menyatakan, fisioterapi akan dibutuhkan dalam proses mengembalikan pergerakan penyintas covid-19.

Gill mengibaratkan hal itu seperti seseorang melakukan kegiatan half marathon. Orang yang sudah pernah mencobanya lalu merasa sakit tak akan lagi pernah mau menjajal aktivitas yang sama.

"Ketika melewati kondisi terburuk dari covid-19, dengan efek yang dirasakan tubuh seseorang, itu seperti melakukan half marathon setiap hari selama perawatan di ICU. Itu serangan yang luar biasa untuk tubuh," katanya.

Menurut Gill, Covid-19 membuat seseorang secara fisik ibarat dimasukkan melalui alat pemeras. Alhasil, proses pemulihan akan tergantung pada usia dan tingkat kebugaran pasien. Pasien akan menderita akibat kelelahan, sama seperti seseorang yang telah melalui kegiatan maraton.

"Sama seperti seseorang yang melalui lari maraton, kemudian kolaps dan kakinya lunglai seperti jeli dan mereka kemungkinan membutuhkan pertolongan untuk mengetahui cara berjalan kembali," tutur dia.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers