web analytics
  

Pandemi, Ramadan, dan Narasi dari Seorang Mahasiswa Rantau

Jumat, 1 Mei 2020 22:02 WIB Netizen Muhammad Iqbal Mawardi
Netizen, Pandemi, Ramadan, dan Narasi dari Seorang Mahasiswa Rantau, Ramadan,sahur,ugm,mahasiswa rantau,narasi,unpad

Ilustrasi mahasiswa rantau (pexels.com)

AYOBANDUNG.COM -- Saat ini Indonesia tengah digemparkan dengan mewabahnya Covid-19. Pandemi Covid-19 ini memaksa pemerintah untuk melakukan berbagai tindakan guna memutus rantai penyebaran virus. 

Mulai dari pemberlakuan aturan social distancing, hingga yang terbaru yakni pemberlakuan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Permberlakuan aturan ini berjalan beriringan dengan bulan suci Ramadan yang tentu menimbulkan berbagai polemik.

Banyak lapisan masyarakat yang kesulitan dalam menjalankan aturan ini. Terutama bagi mereka yang merantau. Pemberlakuan aturan ini membuat sebagian dari mereka memilih untuk tetap bertahan di perantauan, atau memaksakan pulang dengan berbagai resiko.

Salah satu contoh yang terpaksa menetap di perantauan karena pandemi ini adalah Rizki, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Terhitung sudah 4 bulan lebih mahasiswa rantau ini tidak pulang ke rumahnya di Bandung. Rizki memilih untuk tidak pulang ke Bandung karena takut membahayakan keluarganya di rumah jika ia memaksakan pulang. 

Suasana Ramadan yang Asing

Kota Bandung sudah menjadi kota tempat tinggal Rizki sejak kecil. Ia sudah terbiasa menikmati suasana bulan suci Ramadan di kota kelahirannya tersebut. Bagaimana tidak, 19 tahun sudah Rizki menghabiskan Ramadan di kota kembang. Tak pernah terbayangkan olehnya harus menjalani hari-hari Ramadan jauh dari keluarga.

Sepi menjadi hal yang paling terasa bagi Rizki. Suasana hangat tak kala sahur dan berbuka bersama keluarga tak bisa ia rasakan di Ramadan tahun ini. Situasi pandemi ini memaksa Rizki untuk menikmati Ramadan-nya serba sendiri.

“Ngejalanin Ramadan tahun ini terasa banget sepinya. Biasa sahur sama buka puasa bareng keluarga, sekarang terpaksa sendiri,” ujar Rizki.

Banyak hal yang dirindukan Rizki dari Ramadan-Ramadan sebelumnya yang tak ia jumpai di Ramadan tahun ini. Mulai dari buka puasa bersama teman-teman, munggahan (tradisi adat sunda untuk berkumpul bersama keluarga dan teman dalam menyambut Ramadan), hingga kegiatan ziarah ke makam keluarga. Akan tetapi, hangatnya suasana rumah tetap menjadi momen yang paling ia rindukan.

“Dari semuanya, ngumpul sama keluarga sih yang paling dikangen-in. Suka ngerasa sedih aja gitu yang biasanya ditanyain sahur mau sama apa, buka mau sama apa sekarang harus nanya sendiri dan siapin sendiri karena jauh dari keluarga,” ujar Rizki.

Terpaksa Mandiri di Perantauan

Rizki merasakan banyak sekali perbedaan antara Ramadan di Bandung dan di perantauan. Di Bandung, ia sudah terbiasa dengan segala kebutuhan yang terpenuhi. Ia tidak harus pusing memikirkan menu apa yang akan ia santap ketika sahur dan berbuka. 

Hal ini berbanding terbalik ketika ia harus menjalani Ramadan di perantauan. Di perantauan, segala kebutuhannya harus ia siapkan secara mandiri. Menu sahur dan berbuka yang acap kali ala kadarnya tentu harus ia siapkan sendiri selama di perantauan. Karena di perantauan, tidak ada orang yang lebih bisa ia andalkan selain dirinya sendiri.

Dalam mencari santapan sahur dan berbuka, faktor kemudahan menjadi acuan utama Rizki. Segala sesuatunya yang harus serba sendiri mengharuskan Rizki untuk mencari yang serba mudah dan praktis. Yang penting, makanan itu dapat ia santap di waktu sahur dan berbuka.

“Sekarang kalau lagi sahur sama buka makanan harus nyari sendiri. Gak disiapin lagi kaya biasanya di rumah. Terus makanannya juga seadanya aja, yang penting mudah didapat dan praktis. Karena sekarang ini memang apa-apa harus sendiri,” ujar Rizki.

Rizki memilih untuk memasak menu berbuka dan sahur di indekosnya. Agar mudah dan praktis, makanan kalengan menjadi pilihannya. Penyajian yang simpel dan tidak makan waktu menjadi alasan Rizki menjadikan makanan kalengan sebagai pilihan. Ketika bosan, ia juga tak jarang membeli makanan di warung makan dekat indekosnya.

“Kalau nasi biasa masak sendiri, lauknya paling makanan-makanan kaleng gitu kayak sarden. Makanan kaleng gitu kan simpel ya tinggal manasin, gak perlu nambah-nambah segala macem (bumbu). Kalau bosen ya tinggal beli ke warung makan terdekat. Hidup ngekos dan serba sendiri gini memang harus nyari yang gampang,” ujar Rizki.

Uluran Tangan Universitas

Dalam menghadapi situasi pandemi ini, pihak UGM juga turun langsung dalam membantu mahasiswanya yang masih harus menetap di Jogja. Dilansir dari website resmi UGM,  Direktorat Kemahasiswaan UGM memberikan bantuan berupa paket semabako kepada para mahasiswa yang masih tinggal di indekos.

“Jadi yang mengadakan bantuan ini (pemberian bantuan paket sembako) adalah Direktorat Kemahasiswaan UGM, dibantu  teman-teman BEM dan juga Forum UKM,” ujar Suharyadi, Direktur Kemahasiswaan UGM, Kamis (09/04/2020).

Hal ini selaras dengan yang disampaikan Rizki. Ia mengatakan jika pihak universitas juga ikut turun dalam membantu kesejahteraan mahasiswa rantau di Jogja. Bantuan dari universitas ini tentu meringankan beban dari para mahasiswa rantau

“Iya, pihak kampus juga ngasih bantuan berupa paket sembako buat anak-anak rantau yang gak pulang ke rumah,” ujar Rizki.

Belajar Memaknai Hidup

Di balik berbagai dinamika yang terjadi akibat pandemi ini, selalu ada hal positif yang dapat diambil. Melalui pandemi ini, Rizki mengaku jika sekarang ia lebih bisa memaknai hidupnya. Menurutnya, pengalaman jauh di perantauan ini akan membentuk ia menjadi pribadi yang lebih baik dan tangguh lagi ke depannya. 

“Situasi ini tuh jadi ajang refleksi diri dari kehidupan yang dulu dengan kehidupan yang sekarang. Situasi ini juga bikin aku lebih bisa untuk memaknai hidup. Bentuk dari pemaknaan hidupnya tuh salah satunya dengan banyak-banyak bersyukur. Karena mungkin gak semua orang punya nasib seberuntung aku di situasi pandemi ini,” ujar Rizki.

Cerita pengalaman Rizki di Ramadan tahun ini seakan memberi pesan kepada kita semua untuk tetap mengestafetkan kebaikan Ramadan di tengah terpaan pandemi ini. Karena yang dikatakan Rizki benar. Bahwa  masih banyak orang-orang yang mungkin tidak seberuntung kita dan membutuhkan uluran tangan kita.

***

Muhammad Iqbal Mawardi
Mahasiswa Ilmu Jurnalistik Komunikasi Unpad

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel terkait

dewanpers